Sebelum Tiba Revolusi

Saparuddin Santa
Chapter #3

Bab 3 - Persimpangan Arah

Bab 3 – Persimpangan Arah

“Bagimana kau memulai ini Darto? Jalan seperti apa yang kau pilih?” Kembali Nana mengajukan pertanyaan.

Malam itu hujan turun perlahan di Surabaya.

Bukan hujan yang datang dengan amarah seperti badai laut selatan. Hanya gerimis tipis yang membuat lampu-lampu jalan tampak berpendar seperti kunang-kunang yang kelelahan.

Darto berjalan kaki menuju rumah kontrakannya. Di saku bajunya terselip sebuah buku kecil yang dibelinya dari pasar loak dekat Tanjung Perak. Buku itu membahas sejarah pemberontakan petani di Jawa pada abad kesembilan belas. Entah mengapa ia selalu tertarik pada kisah-kisah orang biasa yang melawan sesuatu yang lebih besar dari dirinya.

Mungkin karena ia sendiri merasa kecil. Terlalu kecil. Sebagai buruh pabrik yang menghabiskan hidupnya di antara tembakau, mesin, dan target produksi. Di persimpangan jalan ia berhenti. Pandangannya tertuju pada sebuah toko emas yang sudah tutup. Di kaca toko itu ia melihat bayangannya sendiri. Tubuh kurus. Wajah sederhana. Lelaki yang hampir berusia tiga puluh tahun. Dan belum pernah memiliki keberanian untuk mengatakan cinta. Darto tersenyum pahit. "Mungkin memang aku pengecut." Angin malam membawa aroma hujan. Dan seperti sering terjadi, wajah Nana kembali hadir dalam pikirannya.

Di rumah yang berbeda beberapa kilometer dari sana, Nana sedang menyisir rambutnya di depan cermin. Ibunya sudah tidur. Adik laki-lakinya sedang menonton televisi di ruang depan. Rumah sederhana itu tidak pernah benar-benar sepi. Namun malam itu Nana merasa sendirian. Entah mengapa. Ia memandang pantulan dirinya cukup lama. Usia dua puluh tujuh tahun bukan lagi usia remaja. Beberapa teman sekolahnya sudah memiliki dua atau tiga anak. Sebagian bahkan sudah bercerai. Tetapi dirinya masih berjalan di tempat. Pagi ke pabrik. Sore pulang. Mengurus rumah. Lalu tidur. Besoknya mengulang semuanya kembali. Terkadang ia bertanya kepada dirinya sendiri. Apakah hidup memang sesederhana itu? Ataukah ada sesuatu yang belum sempat ia temukan? Pikiran itu membawanya pada satu nama.

Darto.

Lelaki pendiam yang selalu terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu yang jauh. Seseorang yang berbeda dari kebanyakan lelaki di pabrik. Ia tidak pernah menggoda perempuan. Tidak pernah memamerkan diri. Bahkan ketika teman-temannya berbicara tentang perempuan dengan cara yang membuat Nana muak, seperti membahas ukuran tubuh bagian depan wanita, dan pinggul yang dibahas secara senonoh, seolah kebahagiaan hanya urusan ranjang, Darto biasanya hanya diam. Mungkin itulah yang membuatnya menarik. Karena di tengah dunia yang berisik, Darto seperti seseorang yang memilih berbicara seperlunya.

Nana menghela napas panjang. Kemudian mematikan lampu kamarnya. Namun sebelum tidur, ia menyadari sesuatu yang membuat jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Sudah beberapa hari ini, ia mulai mencari-cari sosok Darto setiap kali memasuki gerbang pabrik. “dia kemana ya, kenapa tidak pernah muncul di kantin?” pikiran itu menari di kepala Nana.

Sementara itu, ditempat lain, dirumah sahabatnya, Risti belum tidur. Suaminya belum pulang. Jam dinding menunjukkan hampir tengah malam. Anaknya telah terlelap. Rumah kecil itu hanya ditemani suara kipas angin yang berputar pelan. Risti duduk sendirian di meja makan. Di depannya secangkir teh yang sudah dingin. Perempuan itu memandangi kegelapan di luar jendela. Ia tahu apa yang sedang terjadi di dalam dirinya. Dan ia membencinya. Karena untuk pertama kalinya sejak menikah, ia merasa kagum kepada lelaki lain. Bukan karena ketampanan. Bukan karena harta. Bukan karena jabatan. Melainkan karena ketenangan yang dimiliki Darto. Sesuatu yang sudah lama hilang dari rumah tangganya.

Lihat selengkapnya