Sebelum Tiba Revolusi

Saparuddin Santa
Chapter #4

Bab 4 - Rumah Perjuangan

Bab 4 – Rumah Perjuangan

Jogja - 2026

Sebuah bangunan tua klasik khas Jogja, rumah berbentuk joglo berada di pinggiran kota Jogja, lebih mendekat ke arah Sleman sebetulnya. Tidak terlalu besar tapi juga tidak bisa di bilang kecil, karena bangunan joglo itu bisa menampung sekitar lima puluh orang untuk berkumpul. Malam ini adalah malam kesekian kalinya terjadi kumpulan pertemuan dari berbagai kalangan. Pemilik rumah itu seorang pensiunan jendral berbintang dua. Sekali seminggu rumah itu jadi tempat diskusi dan curhat berbagai latar belakang, tapi terutama yang hadir selalu orang-orang penting pergerakan dan aktivis di Jogja dan wilayah Jawa. Dan malam ini, situasinya menjadi berbeda, sebab hampir seluruh wilayah di Indonesia sedang melakukan demonstrasi menuntut perbaikan pemerintahan.

Lelaki sepuh itu sering dipanggil Jendral “K”, namun Ia lebih senang kalau ada yang memanggilnya dengan panggilan Pakde. Sudah sejak Ia pensiun 10 tahun lalu, Pakde merasakan kegelisahan. Ia menjalani masa era reformasi selama penugasan di Jakarta. Jadi jendral K tahu betul situasi di balik kerusuhan sebelum jatuhnya orde baru. Dan sejak itu, Ia sudah mencium gelagat bahwa Indonesia akan sulit menjadi negara maju. Alasan utama menurutnya, karena politik masih jadi panglima di negeri ini. Ia juga menyayangkan institusinya makin brutal memasuki wilayah sipil dan politik. Ia satu diantara puluhan purnawirawan jendral yang tidak sepakat militer memasuki wilayah pekerjaan sipil.

Malam makin jatuh, aroma petrichor tanah basah yang baru saja di guyur hujan sore tadi, merayap memasuki halaman yang ditumbuhi banyak sekali pepohonan perdu. Sang jendral mengisi hari tuanya berkebun di halaman rumahnya yang cukup luas. Hampir semua jenis sayur yang dibutuhkan dapurnya ada di halamannya. Meski Ia hanya hidup bersama dua orang ponakannya, Ia cukup bahagia dan tidak merasa kesepian, sebab setiap saat ada saja orang-orang pergerakan yang mampir ke rumahnya.

Ia memanggil salah satu keponakannya setelah menonton berita pengusiran tiga menteri oleh mahasiwa di Universitas terbesar di Jogja. Kebetulan kampus itu tidak terlalu jauh dari rumahnya.

“Panggil Rio dan yang lain merapat kemari, malam ini” kata sang jendral pada ponakannya yang nampak tergesa mendekat. Tidak biasanya pakde memanggilnya dengan nada tegas seperti itu. Pakde memanggil sambil matanya terus menonton siaran televisi model tua di ruang tamunya.

"Telepon Darto juga?" tanya ponakan Pakde sebelum beranjak. Sang jendral menggeleng.

"Belum." Jawaban singkat sang jendral menunjukkan kematangan strateginya

"Kenapa?" Arby keponakannya, seperti penasaran. Nama Darto sering sekali dibahas oleh pakdenya saat mereka sedang duduk-duduk di pendopo, tetapi tidak satu kalipun Darto muncul di Joglo itu. Lelaki misterius tetapi sangat di kagumi oleh pakde-nya.

"Belum waktunya."

Jawaban itu membuat ponakannya tidak bertanya lagi.

Dilluar pendopo, suara kendaraan terdengar dari kejauhan. Untuk sampai dirumah sang jendral, memang harus melewati sebuah jalan yang cukup sepi dari rumah warga. Jalan menuju rumah Pakde yang tidak terlalu luas, tapi cukup untuk mobil. Rumah Pakde berdiri sekitar dua ratus meter dari lokasi perkampungan umum. Disisi kiri kanan jalan hanya ada sekitar lima rumah, satu disisi kiri, dan empat disisi kanan jalan. Rumah-rumah yang cukup bagus, lebih mirip villa sederhana. Tapi ada satu rumah yang megah, milik salah satu pengusaha rokok di Jogja, namanya Pak Pur. Tetapi rumah itu jarang didatangi Pak Pur sebab dia masih punya rumah utama di Bantul, sekitar 20 km arah selatan Jogja. Rumah itu hanya sesekali dikunjunginya. Dan setiap Pak Pur datang berkunjung, dia selalu menyempatkan waktu untuk mendatangi rumah sang jendral. Rupanya, Pak Pur memilih membeli tanah disekitar rumah Pakde, agar mereka bisa lebih sering bertemu.

Malam semakin larut. Gerimis tipis kembali turun membasahi dedaunan mangga dan sawo yang tumbuh di halaman. Rio datang paling awal. Mahasiswa kampus terbesar di Jogja itu masih mengenakan jaket almamater yang kusut. Didahinya masih terlihat bekas luka kecil akibat bentrokan dengan aparat tiga hari lalu.

"Pakde." Rio menyalami sang jendral sambil mencium tangannya, tanda hormat ke orang yang sudah sepuh.

"Masih hidup rupanya?" canda sang jendral. Rio tertawa.

"Belum sempat mati." Kata Rio berseloroh.

"Kau terlalu sering berada di barisan depan." Sambut sang jendral sembari memperhatikan jaket Rio yang sepertinya belum pernah di cucui beberapa minggu.

"Karena barisan belakang tidak pernah mengubah sejarah." Kata Rio dengan wajah bersemangat. Rio selalu hormat dan takjub pada semangat Pakde. Sudah sejak tiga tahun lalu, Rio sering datang ke rumah joglo itu. Cerita-cerita perjuangan masa muda sang jendral selalu menggugah semangatnya. Dan satu hal yang membuat Rio menjadikannya “guru”, Jendral tak pernah merasa lebih pintar dari siapapun. Tutur katanya selalu santun namun tegas.

Pakde hanya menghela napas. Anak-anak muda selalu punya kalimat-kalimat yang membuatnya teringat dirinya sendiri puluhan tahun lalu.

Tak lama kemudian Doktor Usein tiba. Doktor ilmu politik itu membawa setumpuk koran, dan sebuah buku yang satu tahun terakhir banyak didiskusikan para akademisi dan mahasiswa. Konon, buku itu sudah dicetak ulang selama dua belas kali, padahal baru empat tahun lalu terbit pertama kali. Buku yang bercerita tentang bagaimana Indonesia harus di ubah secara fundamental, terutama dalam sistem seleksi kepemimpinan. Ditulis oleh seorang aktivis yang sangat peduli pada masyarakat adat dan pengelolaan sumber daya alam yang berkeadilan.

Kebiasaan Usein tidak pernah berubah. Ia selalu datang dengan data.

"Selamat malam." Sapa Usein begitu Ia memasuki pendopo. "Bagaimana keadaan negara?" tanya Pakde. Usein meletakkan koran di meja.

"Lebih buruk daripada minggu lalu. Dan lebih baik daripada minggu depan."

Semua tertawa kecil, menyambut kedatangan sang doktor politik. Lelaki itu berasal dari Makassar, sangat aktif berbicara di berbagai forum dan kerap menghadiri pertemuan-pertemuan politik di Jakarta. Salah satu ilmuan politik, yang setiap komentarnya, kadang membuat telinga pemerintahan memerah. Ucapan kelakar Usein barusan, menghangatkan suasana. Tetapi tidak seorangpun di ruangan itu, yang benar-benar menganggap itu lelucon.

Ahmadi datang terakhir sebelum Kolonel Tanjung. Tubuhnya mulai gemuk. Rambutnya hampir seluruhnya putih. Namun matanya masih menyimpan bara yang sama seperti saat menduduki gedung DPR tahun 1998. Ahmadi adalah mantan aktivis Jogja era 98 dan ikut bergabung di Jakarta saat Suharto di jatuhkan oleh demonstran. Profesinya saat ini “freelance” yang memiliki beberapa kanal media online dan juga aktif menjadi pembicara di beberapa pelatihan. Keahlian utamanya adalah analisa data dan pencitraan: branding isu. Sebagian besar isu nasional yang muncul dan menjadi trending topik di media sosial saat ini, adalah bagian dari tangan dinginnya.

"Aku baru dari Semarang." Kata Ahmadi sesaat setelah ia menaruh tasnya disisi kursi tua antik pendopo itu.

"Apa kabar jalanan?" tanya Rio.

"Penuh. Hari ini hampir semua kampus di Jogja turun ke jalan” jawab Ahmadi

"Bagus."

Ahmadi menggeleng. "Tidak. Itu tidak selalu bagus."

Rio tampak heran. "Semakin banyak orang turun ke jalan, semakin dekat perubahan."

"Atau semakin dekat kekacauan. Pemerintah banyak sekali mengerahkan intel. Bahkan sampai masuk ke kampus-kampus. Dan juga, aku dengar kabar, mereka sedang mempersiapkan demo tandingan." Info dari Ahmadi ini membuat peserta di pendopo itu saling memandang. Ruangan mendadak hening.

Kolonel Tanjung tiba ketika jam menunjukkan pukul sembilan malam. Ia satu-satunya yang masih aktif berdinas. Karena itu ia selalu datang tanpa seragam. Namun postur tubuhnya tetap menunjukkan siapa dirinya. Begitu masuk ruangan ia langsung menyalami Pakde dengan hormat.

Lihat selengkapnya