Bab 5 – Awal Mula Pemberontakan
Surabaya - 1998
Kisah jatuhnya Orde Baru tahun 1998, adalah salah satu bab pembuka perjalanan pemberontakan hidup Darto. Usia Darto ketika itu baru memasuki 19 tahun. Masa itu, Ia masih menjadi mahasiswa semester tiga jurusan sejarah di fakultas Ilmu Budaya Universitas yang sangat terkenal di Surabaya. Hari itu 18 Mei 1998, dua hari sebelum Suharto menyatakan berhenti menjadi presiden, jalan-jalan Surabaya sudah dipenuhi massa, Darto termasuk satu diantara ribuan mahasiswa yang protes dan meminta Suharto meletakkan jabatan sebagai presiden. Meskipun saat itu Darto bukanlah komandan lapangan, tetapi Ia tahu betul apa yang dialami bangsanya. Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN), bukan hanya dia dengar dan perdebatkan diruang kuliah dan lorong-lorong kampus, tapi kecaman dan keresahan terkait ulah pemerintah dan para pejabat negerinya, mengakar di tengah-tengah masyarakat ketika itu.
Jalan-jalan protokol di Surabaya sudah mulai memerah oleh api dari bom molotov, menyatu dengan asap dari gas airmata yang ditembakkan oleh polisi dan tentara. Darto dan dua orang rekannya menepi ke sebuah gang di sebelah selatan gedung Granadi Surabaya. Matanya berair dan perih oleh gas airmata. Pandangannya sudah mulai gelap, ketika tiba-tiba sebuah tangan dengan kasar menariknya ke sebuah mobil Van yang terparkir di ujung gang.
Dua hari dua malam Darto dan rekannya, beserta puluhan orang disekap disebuah ruangan sempit dan gelap. Tubuhnya penuh lebam bekas hantaman, bukan hanya oleh satu orang. Darto tak mengenali siapa saja yang menghantamnya dengan tinju dan tendangan, tapi ia tahu, ada puluhan orang yang menyiksanya bersama teman-teman dan semua orang diruangan itu. Darah yang mulai mengering, menutupi celah rambutnya yang gondrong. Darto tidak ingat lagi berapa kali pukulan tinju mendarat di wajah dan tubuhnya. Yang Ia ingat dengan pasti, sebelum ia pingsan, sebuah benda tumpul dan keras dan sepatu laras mendarat di kepalanya.