Bab 6 – Pertemuan Pertama Dengan Mayor “K”
Surabaya 1998
“Lelaki harus berani”, begitu pesan ayah Darto, saat melepasnya untuk meninggalkan desa kecilnya di kaki gunung merapi Sleman. Selepas SMA, Darto memilih merantau ke Surabaya, dengan tujuan utama untuk bekerja di pabrik rokok. Tetapi dalam perjalanan, ia mengingat impiannya untuk menjadi seorang ahli sejarah. Dan tanpa sepengetahuan ayahnya, ia mencoba mendaftarkan diri untuk kuliah, dan berhasil diterima di kampus biru Airlangga. Saat lulus masuk kampus pun, ia tidak memberitahu ayahnya. Baru setelah ditahun kedua ia kuliah, kisah kelulusannya diketahui oleh kakaknya yang datang ke Surabaya, yang menemukan banyak buku sejarah dan biografi pemimpin dunia, serta jaket alamamater di kamar kostnya. Kakaknya yang sudah lebih dulu menjadi buruh pabrik rokok di kawasan industri Rungkut Surabaya, akhirnya melarang adiknya untuk ikut bekerja sebagai buruh. Kakaknya ikut bangga, adiknya kuliah di kampus ternama di Indonesia. Setiap ia pulang kampung, dia ceritakan ketetangga, betapa hebatnya adiknya bisa kuliah di kota Surabaya.
Darto mengemasi barang-barang di kostnya. Setelah kejadian malam penghakiman, kehilangan Samuel dan Affandi, dan surat dari Mayor K, ia memutuskan untuk pindah kost. Ia merasa, hidupnya tidak sama lagi setelah malam itu. Hari-harinya menjadi lebih mawas. Kadang saat memasuki gang-gang sempit, mata orang-orang yang menatapnya seolah menjadi pengawas setiap gerak-geriknya. Ia menjadi paranoid. Beberapa minggu, ia menghabiskan waktu untuk menetap di bagian utara Surabaya. Darto memilih menenangkan diri di makam Sunan Ampel. Ia sering berkunjung kesini di awal-awal datang ke Surabaya, sehingga ia menjadi kenal dan akrab dengan Pak Suyono, penjaga dan pemegang kunci makam. Darto tak menceritakan apapun ke Pak Suyono terkait kegelisahannya. Sampai suatu malam di hari ke-12 ia mendekam diarea sekitar makam, Pak Suyono mendekatinya.
“Mayor K ingin bertemu denganmu”