Sebelum Tiba Revolusi

Saparuddin Santa
Chapter #7

Bab 7 - Mein Kampf

Bab 7 – Mein Kampf

Suasana senyap menyergap dua orang yang sama-sama menyimpan misteri pertanyaan, saat tengah malam mulai memeluk area makam salah satu Wali Songo paling masyhur di Indonesia. Menurut Pak Suyono, peziarah ke makam ini bisa mencapat satu juta orang setiap tahunnya.

Baik Mayor K maupun Darto, tak ada yang bersedia memulai pembicaraan. Darto menahan diri dan hanya duduk bersila, sekitar satu meter di belakang punggung Mayor K. Sementara Mayor K tertunduk seperti sedang merapalkan doa kepada makam yang persis berada di ujung lututnya. Postur tubuh yang kekar menandakan kepantasan Mayor K berani bertindak cukup jauh menyelamatkan Darto, saat hari dimana Darto merasa inilah akhir hidupnya didunia. Begitu sekilas terlintas dipikiran Darto saat memperhatikan badan Mayor K dari belakang. Tentu saja ada puluhan tanda tanya di kepala Darto perihal penyelamatan yang dimaksudkan oleh Mayor K, beberapa minggu lalu. Jika Darto kembali mengingat dua malam yang seperti neraka baginya, rasanya tidak mungkin malam ini ia sanggup memulai pembicaraan.

Lalu kesunyian itu pecah:

“Kau sudah membaca Mein Kampf?” suara bariton dan tegas meluncur dari mulut sang mayor tanpa menoleh sedikitpun. Bahkan tubuhnya pun tidak menunjukkan tanda bahwa ia tahu ada orang dibelakangnya, yang sedang mengumpulkan keberanian, bahkan untuk menyapa sang mayor. Tapi Darto, sudah mengabaikan semua ketakutan sejak hari ia merasakan pukulan senjata teman-teman atau mungkin anak buah Mayor K. Baginya, bagian ketakutan malam ini, hanya karena rasa kaget akan kehadiran Mayor K yang secara tiba-tiba muncul di makam.

“Saya mahasiswa dari desa, ayahku petani, saya tak mampu membeli buku itu. Tapi ya, saya pernah bergantian membacaya dengan Samuel dan Affandi. Saya dan Affandi membaca sedikit, Samuel yang sudah selesai membacanya” Ada nada amarah dalam kalimat yang Darto ucapkan ke Mayor K. Darto ingin menyampaikan pesan bahwa ia marah sekaligus mempertanyakan nasib dua rekannya.

“Affandi di bawa ke Jakarta, Samuel tak bisa kuketahui nasibnya. Saya hanya menjalankan tugas” Kata Mayor K, masih dengan nada tegas. Tapi kali ini ada kesan penyesalan yang Darto tangkap dibalik kalimatnya. Mayor K menggeser duduknya sedikit manyamping, hingga sepotong wajahnya terlihat oleh Darto.

“Apa yang mayor inginkan dari saya” Entah darimana keberanian itu muncul, tapi Darto sudah siap menerima resiko dari pertanyaannya. “Saya sudah kehilangan dua sahabat, dan hidupku tidak akan sama lagi setelah malam itu” Darto mengucapkan itu dengan mantap.

“Darto, usia saya baru 37 tahun. Sebentar lagi pangkat Letnan Kolonel akan saya raih. Tugas saya dua minggu lalu adalah ujian terberat sebelum meraih pangkat itu”

“Apakah tentara harus membunuh rakyat untuk naik pangkat?” keberanian yang entah darimana datangnya, merasuki pikiran Darto untuk bertanya.

Lihat selengkapnya