Bab 8 – Il’ Principle - 1999
“Siapa sesungguhnya penguasa Republik, rakyat atau pemerintah?”
Darto menutup buku bacaannya, Il’Principle karya Niccolo Machiavelli, saat gemuruh suara sorak di televisi mengumumkan pergantian pemerintahan dari BJ.Habibie ke KH.Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Pidato laporan pertanggungjawaban Habibie selaku presiden yang disampaikan pada tanggal 14 Oktober 1999 ditolak oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada tanggal 20 Oktober 1999. Habibie dianggap gagal menjadi presiden setelah menyetujui referendum lepasnya Timor-Timor.
“Jika kekuasaan bisa diganti dalam satu malam, maka siapakah sesungguhnya yang paling berkuasa?’ Pertanyaan itu memasuki pikiran Darto. Jika orang seperti Habibie saja yang dalam pandangan banyak rakyat Indonesia, tidak memiliki syahwat politik untuk berkuasa, dengan mudahnya dilucuti kekuasaannya, maka seberapa perlu rakyat memilih pemimpin melalui jalur Pemilihan Umum (Pemilu). Tidakkah itu lebih baik, jika negara membuat satu Dewan Kuasa Pemilu yang terdiri dari beberapa ahli terbaik, untuk memilih pemimpin saja secara langsung, tidak perlu menghabiskan uang pajak rakyat untuk alih-alih pesta demokrasi, tapi ujungnya DPR dan MPR bisa dengan mudah melakukan impeachment.
Perdebatan ini pun pernah muncul, saat Mayor K mengajak Darto berdiskusi dipondok pak Suyono yang sederhana dipinggiran kota Sidoarjo. Seperti biasa, pak Suyono akan memberitahu Darto dua atau tiga hari sebelumnya, jika Mayor K ingin bertemu. Hari itu juga, adalah hari terakhir Mayor K bertugas di Surabaya. Sebuah telegram dari Mabes TNI menunjukkan tugas baru seiring kenaikan pangkatnya dari Mayor ke Letnan Kolonel. Selanjutnya Mayor K akan bertugas sebagai Dandim di Yogyakarta. Dan malam itu, percakapan ikut dihadiri oleh pak Suyono.
“Gus Dur itu terpilih karena memang hebat atau do’a para kyai yang memuluskan jalannya? bagaimana menurutmu Darto?” setengah berkelakar, Mayor K membuka percakapan malam itu.
“Saya tidak begitu yakin para ulama dan cendekiawan Indonesia hari ini, konsisiten dengan jalan perjuangan. Bebarapa memang konsisten berjuang untuk benar-benar demi kemaslahatan umum, tapi lebih banyak yang tunduk pada kekuasaan juga” Darto memilih untuk tetap menunjukkan jiwa protesnya. Tentu saja Mayor K kurang sepakat dengan Darto. “Kita sudah bersepakat memilih jalan demokrasi, dan salah satu syarat demokrasi adalah, presiden dipilih oleh rakyat.”
“Sebenarnya ulama dan cendekiawan yang benar itu, jika sudah memilih jalan keummatan, hidupnya harus bersedia zuhud. Dia harus hidup sederhana.” Pak Suyono mencoba menjawab keresahan Darto. “ Dulu para wali, rela meninggalkan kehidupan dunia demi memastikan bahwa ajaran kebenaran sampai ke masyarakat”
“Saya yakin Gus Dur bisa memurnikan itu. Mengembalikan marwah para ulama. Saya secara pribadi merasa sudah waktunya negara dipimpin oleh cendekiawan ataupun ulama. Intinya orang yang cerdas. Negara ini harus dipimpin oleh kecerdasan, dengan akal.” Mayor K mengajukan pendapatnya sambil menggeser duduknya, memandangi hamparan sawah yang menghampar didepan bale-bale tempat mereka duduk. Tatapannya jauh ke batas cakrawala senja, lalu sejenak kemudian mengalihkan topik pembicaraan;
“Tapi, Darto, apakah kau masih membenci tentara? apakah menurutmu, sudah waktunya juga tentara berpisah dengan polisi? Saya dengar Gus Dur mau menghapus Dwifungsi ABRI.” Mayor K menatap kedalam wajah tirus Darto.
“Bagaimana kalau tentara dihapuskan saja, atau paling tidak dikurangi? Menurutku, masa depan dunia, termasuk Indonesia lebih baik tidak bergantung terlalu banyak pada tentara. Tentara itu sesungguhnya ciptaan elit global, agar kepentingannya terlindungi dan bisnis senjata bisa menguntungkan. Mereka menciptakan militer dan senjata, sekaligus menyediakan perang”