Sebelum Tiba Revolusi

Saparuddin Santa
Chapter #9

Bab 9 - Kasih Tak Sampai - Franz Kafka (2000)

Bab 9 - Kasih Tak Sampai – Franz Kafka (2000)

“Aku ingin perempuan yang mencintaiku, tetap setia dan tabah menungguku, sekalipun aku jatuh cinta dengan perempuan lain”

Darto menulis kalimat itu dalam penggalan pembuka cerpen yang ditulisnya. Tulisan itu mengingatkannya pada kisah pertemuannya dengan Risma, mahasiswi jurusan Hubungan Internasional di kampus yang sama. Ia tahu betul, kalimat itu akan melukai Risma jika ia sempat membaca cerpennya. Darto ingin menggambarkan kisah cinta segitiga dalam cerita cerpennya kali ini, dan ia sadar, cepat atau lambat Risma akan menangkap kisah sebenarnya di dunia nyata.

Darto menjadi penulis lepas di berbagai koran lokal untuk menghasilkan uang, untuk membiayai kuliahnya. Kadang-kadang dua kali sebulan cerpen atau tulisan essay-nya dimuat di koran. Masa itu adalah masa yang membuatnya merasa penting untuk betah berlama-lama didalam kampus. Risma, dimata Darto, bukan hanya bunga kampus yang dikagumi seluruh lelaki pencinta buku-buku  filsafat dan sejarah. Tapi juga seperti untaian zamrud katulistiwa yang menghampar di pelataran taman halaman kampus. Bahkan bunga mawar pun segan bersaing dengannya. Cantik, energik, pintar dan peduli. Empat kekuatan yang sangat mudah mematahkan hati lelaki. Semua keanggunan yang dimilikinya, membuat para lelaki dikampus merasa harus mengumpulkan seluruh keberanian, untuk bisa menaklukkan hatinya.

“Menjadi seorang revolusioner, harus rela tidak menikah” begitu pesan mayor k disurat terbaru yang diterima Darto akhir bulan lalu. Mayor K mengirimkan melalui kurir bis antar kota. Tahun 2000 belum banyak orang yang memiliki handphone, apalagi mahasiswa seperti Darto, saat itu, HP adalah barang mewah dan langka bagi mahasiswa. Hubungan komunikasi masih lebih banyak menggunakan surat, dan itu makna interkasi kemanusiaan-nya lebih dalam dibandingkan era media sosial seperti hari ini.

“Apakah kisah cintaku akan berakhir seperti Kafka?” Kalimat itu, berputar-putar di kepala Darto. Ia mengingat salah satu sastrawan dunia, penulis dan penyair akhir abad-18 yang lahir di Praha, Cekoslovakia tahun 1883; Franz Kafka. Meski bukan seorang revolusioner, tapi kisah cinta Kafka termasuk rumit. Hubungan cintanya lebih banyak terjalin melalui surat menyurat. Bagi Kafka, cinta selalu membingungkan, sehingga ia lebih sering mengungkapkan kisah cintanya lewat surat atau puisi. Tercatat ada sekitar 600 pertukaran surat menyurat yang terjalin dengan perempuan pertama pujaannya, Felice Bauer. Kafka berpendapat, kehadiran fisik dan pernikahan akan menghambat kreatifitasnya sebagai penulis. Lagipula, menurut Kafka, dalam bahasa sederhana Darto “Cinta yang lebih murni akan muncul jika tidak menuntut pernikahan”

Di kampus, diskusi tentang filsafat dan perempuan selalu menarik setelah Affandi kembali aktif kuliah bersamanya. Tentu saja atas jasa mayor k yang memulangkannya dari Jakarta setelah kasus penculikan mahasiswa 98. Meskipun dari cerita Affandi, proses interogasi yang dilaluinya serta penahanan selama 6 bulan sangat alot dan setelah melewati banyak kekerasan, baru ia bisa lepas. Affandi salah satu sahabat Darto yang menganut paham ini; cinta tidak memerlukan pernikahan.

Bagi Affandi, menikah hanya dilakukan oleh laki-laki lemah, yang hanya ingin mengeksploitasi tubuh perempuan.  “Bayangkan, kau menikahi perempuan yang katamu kau cintai, setelah itu kau memintanya melahirkan anak-anakmu, dan sepanjang hidupnya kau menyuruhnya mengurusmu dan anak-anakmu. Lalu, saat tubuhnya berubah bentuk, kau mulai berpaling ke wanita lain” Kalimat itu diucapkan Affandi tanpa ada beban sedikitpun, seolah dia terlahir didunia begitu saja tanpa melalui perkawinan. Saat ia mengatakan, matanya ia arahkan ke sepasang mahasiswa dan mahasiswi yang sedang tertawa dibawah pohon akasia didepan gedung perkuliahan mereka. “ kau pikir mereka akan bahagia?” kata Affandi sambil menununjuk ke pasangan yang sepertinya sedang dimabuk asmara. Terlihat dari raut wajah sang mahasiswi begitu bersinar saat ia tertawa ke lelaki dihadapannya. Perempuan akan terlihat cantik jika hatinya gembira.

Darto tak mau mendebati Affandi sore itu. Ia tahu sia-sia mendebatinya. Tapi saat Affandi menyebut satu nama, Darto dengan segera mempersiapkan argumennya.

“Aku tahu hatimu sedang terpaut oleh Risma kan, anak HI yang jadi rebutan lelaki satu fakultasnya” Setengah meledek, Affandi mendorong bahu Darto sambil tertawa. “Apakah kau ingin memilikinya dengan menikahinya?” Affandi terus saja mengolok Darto dengan kalimat-kalimat sarkasme.

“Hhmm…dia sesuatu yang berbeda kawan. Kau tidak akan paham, karena kau tak pernah jatuh cinta. Dan mungkin saja, saat Tuhan membagikan cintanya ke umat manusia, kau sedang tidak ditempat.” Ada rasa puas bagi Darto, saat melihat warna muka Affandi berubah. Darto tahu Affandi seorang atheis sejati. Kata Tuhan terlalu paradox buatnya. Affandi seperti sedang mencari kalimat pamungkas untuk menyembunyikan tekanan airmuka yang memanas diwajahnya.

“Apa defenisi cinta yang paling masuk akal menurutmu? Bagi saya, itu omong kosong paling absurd yang pernah diciptakan oleh para penulis dan sastrawan. Jika benar cinta itu ada, dan fungsinya untuk membuat pasangan terikat kebahagiaan, mengapa banyak terjadi perpisahan dan perceraian? Dan mengapa pula kita kaum lelaki harus mengeluarkan biaya untuk membuat bahagia perempuan, tidakkah itu semacam transaksi dan jual beli?”

“Apakah yang kau maksudkan itu, sex?” Darto mencoba menyelami pikiran Affandi yang jarang dia bahas. “ kau tidak tertarik pada sex, kawan?.” Affandi  lalu menarik tangan Darto menjauh dari tempat mereka duduk. Sepertinya suara mereka didengarkan oleh dua beberapa teman mahasiswi mereka yang hanya berjarak tiga meter dari tempat mereka memulai perdebatan.

Lihat selengkapnya