Bab 10 – Kebenaran Yang Diperdagangkan
Postmodernisme - Jean-François Lyotard
Surabaya, Yogyakarta, Makassar, Jakarta, dan kota-kota besar lainnya masih menyimpan kegembiraan yang tersisa dari sebuah perubahan besar. Reformasi telah membuka pintu yang selama puluhan tahun dikunci rapat oleh kekuasaan. Orang-orang mulai berani berbicara. Surat kabar tumbuh seperti jamur setelah hujan. Organisasi masyarakat bermunculan. Partai politik yang dahulu hanya bisa dibicarakan dalam bisikan kini berani memasang bendera di setiap sudut jalan.
Namun, Darto mulai merasakan sesuatu yang ganjil. Negeri ini tampaknya lebih mudah menghasilkan kebebasan berbicara daripada menghasilkan kebenaran. Setiap pagi, ia membaca koran. Setiap malam, ia menonton berita. Para politisi berbicara tentang demokrasi, para ekonom menjanjikan pemulihan, para jenderal berbicara tentang stabilitas, sementara para pemimpin agama menyerukan moralitas. Semua orang seperti memiliki jawaban. Semua orang berbicara seolah-olah mengetahui apa yang terbaik bagi bangsa ini.
Tetapi ketika ia melihat kehidupan di luar layar televisi, ia menemukan sesuatu yang berbeda. Harga kebutuhan pokok masih sulit dijangkau oleh keluarga buruh. Banyak orang kehilangan pekerjaan. Anak-anak muda menghabiskan waktunya mencari pekerjaan yang tak kunjung datang. Sementara itu, orang-orang yang dahulu dekat dengan kekuasaan mulai menemukan cara baru untuk tetap berada di lingkaran yang sama. Mereka mengganti bahasa, mengganti pakaian, bahkan mengganti partai. Tetapi kehidupan mereka tidak banyak berubah.
Darto mulai bertanya-tanya, apakah sesungguhnya Reformasi telah mengubah Indonesia, atau hanya mengubah cara orang-orang berkuasa mempertahankan dirinya?
Suatu sore, Darto mengunjungi sebuah toko buku bekas di kawasan Malioboro. Ia sebenarnya sedang mencari buku tentang sejarah gerakan buruh, tetapi sebuah judul menarik perhatiannya.
The Postmodern Condition. Nama penulisnya Jean-François Lyotard. Ia membuka beberapa halaman, membaca sebentar, kemudian meletakkannya kembali.
"Berat sekali bukunya," gumamnya.
Pemilik toko, seorang lelaki tua berkacamata tebal, tersenyum. "Kalau mencari buku yang ringan, sebaiknya jangan masuk ke rak filsafat."
Darto tertawa kecil. "Memangnya apa yang sedang dibicarakan buku ini, Pak?"
Lelaki itu mengambil buku tersebut. "Katanya, zaman modern sudah kehilangan kepercayaannya terhadap cerita-cerita besar."
"Cerita besar?"
"Grand narratives. Cerita tentang kemajuan, kebebasan, rasionalitas, bahkan revolusi. Dulu manusia percaya bahwa satu ideologi bisa menjelaskan seluruh dunia. Sekarang kepercayaan semacam itu mulai dipertanyakan."
Darto mengernyit.
"Jadi manusia tidak lagi percaya pada kebenaran?"
"Belum tentu. Mungkin mereka hanya mulai curiga kepada orang-orang yang mengaku memiliki seluruh kebenaran."
Kalimat itu membuat Darto terdiam. Ia membeli buku tersebut bersama sebuah buku tipis tentang Michel Foucault. Malam itu, untuk pertama kalinya, ia merasa sedang memasuki sebuah lorong pemikiran yang berbeda.
Beberapa hari kemudian, Darto kembali menemui Mayor K. Mereka duduk di teras sebuah rumah sederhana. Mayor K sedang membaca koran, sementara Darto membawa dua buku yang baru dibelinya.
"Apa yang sedang kau baca sekarang?" tanya Mayor K.
"Postmodernisme."
Mayor K menurunkan korannya.
"Kenapa?"
"Saya mulai merasa bahwa semua orang sedang berbicara tentang kebenaran, tetapi tidak ada yang benar-benar ingin mengujinya."
Mayor K tersenyum.
"Itu kalimat yang menarik. Lalu, menurutmu, apa itu kebenaran?"
Darto tidak segera menjawab.
"Menurut saya, kebenaran adalah sesuatu yang bisa dibuktikan."
"Bagaimana jika orang yang memiliki kekuasaan menentukan apa yang boleh disebut sebagai bukti?"
Darto mengangkat wajahnya. Mayor K melanjutkan. "Bagaimana jika sejarah yang kau baca ditulis oleh mereka yang menang? Bagaimana jika berita yang kau tonton hanya menampilkan bagian yang diizinkan oleh pemiliknya? Bagaimana jika orang yang paling sering berbicara tentang moral justru memiliki kepentingan untuk mempertahankan kekuasaan?"
Darto memandang buku di pangkuannya.
"Apakah itu yang dibicarakan Foucault?"
"Kurang lebih. Michel Foucault mengajak kita melihat hubungan antara pengetahuan dan kekuasaan. Pengetahuan tidak selalu berdiri di ruang yang netral. Ada institusi, kepentingan, aturan, dan mekanisme yang menentukan siapa yang boleh berbicara, siapa yang dianggap memiliki otoritas, serta siapa yang suaranya diabaikan."
"Jadi, kebenaran bisa dikuasai?"
"Jangan terlalu cepat menyimpulkan. Foucault tidak sekadar mengatakan bahwa kebenaran tidak ada. Ia mengajak kita memeriksa bagaimana sesuatu memperoleh status sebagai kebenaran di dalam masyarakat."
Darto mengangguk pelan. "Berarti orang yang menguasai lembaga pendidikan, media, hukum, dan agama memiliki kesempatan lebih besar untuk menentukan cara masyarakat memahami dunia."
Mayor K tersenyum. "Mulai sekarang, jangan hanya mendengarkan apa yang dikatakan seseorang. Perhatikan juga dari mana ia memperoleh kewenangan untuk mengatakannya."
Pertemuan berikutnya dengan dunia pemikiran itu justru terjadi di sebuah masjid. Hari Jumat, Darto mengikuti salat di sebuah masjid besar di pusat kota. Masjid tersebut sering menjadi tempat berkumpulnya para pejabat, pengusaha, dan tokoh organisasi masyarakat.
Khotbah hari itu membicarakan tentang keadilan. Sang khatib berbicara dengan suara lantang. Ia mengingatkan jamaah tentang kewajiban menghormati pemimpin, menjaga stabilitas, serta menghindari tindakan yang dapat merusak persatuan bangsa.
Darto mendengarkan dengan saksama. Ia tidak keberatan dengan seruan persatuan. Ia juga tidak menolak nasihat agar masyarakat menghormati pemimpin. Tetapi ada sesuatu yang mengganggunya. Khatib itu sama sekali tidak membicarakan korupsi, ketidakadilan ekonomi, atau penderitaan masyarakat kecil. Ia berbicara tentang kesabaran rakyat, tetapi tidak pernah menyinggung keserakahan penguasa. Ia meminta masyarakat menjaga ketertiban, tetapi tidak meminta para pejabat menghentikan praktik memperkaya diri.