Sebelum Tiba Revolusi

Saparuddin Santa
Chapter #11

Bab 11 - Bayangan Revolusi

Bab 11 – Bayangan Revolusi

Jean Baudrillard dan Plato – Malioboro, Musim Semi, 2026

Dua puluh tujuh tahun telah berlalu sejak Darto pertama kali mengenal buku-buku filsafat di sebuah toko buku bekas tidak jauh dari Titik Nol Yogyakarta. Rambutnya kini mulai memutih hingga ke bagian pelipis. Wajahnya menyimpan garis-garis yang tidak pernah ditemukan dalam buku mana pun. Garis-garis tentang kehilangan pekerjaan, kegagalan cinta, perjalanan panjang, dan sejumlah keputusan yang pernah membuatnya menyesal. Ia telah melewati berbagai pemerintahan. Menyaksikan presiden datang dan pergi. Melihat partai-partai politik yang dahulu mengusung perubahan kemudian menjadi bagian dari kekuasaan. Ia juga menyaksikan sejumlah aktivis yang dahulu berteriak di jalanan kini duduk nyaman di ruang-ruang kekuasaan. Sebagian menjadi menteri. Sebagian menjadi anggota parlemen. Sebagian lainnya menjadi pengusaha. Darto tidak membenci mereka. Ia hanya sering bertanya, apakah perubahan memang harus berakhir seperti itu?

Pagi itu, televisi di ruang kerjanya menayangkan berita demonstrasi mahasiswa di Jakarta. Sejumlah mahasiswa membentangkan spanduk besar di depan gedung parlemen. Mereka menuntut pemerintah menghentikan kebijakan yang dianggap membebani masyarakat, memperbaiki pengelolaan anggaran, dan mengembalikan kepercayaan publik terhadap lembaga-lembaga negara. Di layar lain, seorang pejabat pemerintah memberikan keterangan pers. Ia mengatakan bahwa demonstrasi tersebut merupakan bagian dari dinamika demokrasi dan pemerintah terbuka terhadap kritik.

Darto tersenyum tipis. Kalimat itu terdengar bagus. Bahkan terlalu bagus untuk sebuah negeri yang setiap hari memperlihatkan pertengkaran antara kekuasaan dan rakyatnya. Ia mengambil secangkir kopi yang sudah dingin. Di layar televisi, seorang komentator politik mengatakan bahwa demonstrasi mahasiswa hanya dilakukan oleh kelompok kecil yang belum memahami kompleksitas pemerintahan.

Darto mematikan televisi. Ia kemudian membuka laptop dan membaca berbagai berita dari media daring. Judul-judulnya berbeda. Ada yang menyebut mahasiswa sebagai pembela demokrasi. Ada yang menyebut mereka sebagai kelompok yang ditunggangi kepentingan politik. Ada pula yang menampilkan gambar-gambar kerusuhan tanpa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi sebelumnya. Darto memperhatikan satu hal. Setiap media seolah-olah sedang menceritakan peristiwa yang sama, tetapi menghasilkan kenyataan yang berbeda. Ia teringat pada sebuah buku yang pernah dibacanya hampir tiga puluh tahun lalu. Jean Baudrillard.

Sore harinya, Darto menerima telepon dari seorang mahasiswa bernama Arga. Mereka pernah bertemu dalam sebuah diskusi kecil tentang demokrasi di Yogyakarta. Arga masih berusia dua puluh dua tahun, mahasiswa tingkat akhir yang aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Ia berasal dari keluarga sederhana di sebuah kabupaten di Jawa Tengah.

"Mas Darto, apakah Anda punya waktu malam ini?"

"Untuk apa?"

"Kami ingin mengundang Anda dalam diskusi. Ada beberapa teman yang ingin mendengar pandangan Anda."

"Diskusi tentang apa?"

"Situasi politik sekarang."

Darto tertawa kecil. "Bukankah setiap hari kalian sudah berdiskusi tentang politik?"

"Justru itu, Mas. Kami terlalu banyak berdiskusi, tetapi rasanya tidak pernah menemukan jalan keluar."

Darto terdiam sejenak. "Baiklah. Saya akan datang."

Diskusi berlangsung di sebuah rumah kontrakan yang tidak terlalu luas. Ada sekitar dua puluh mahasiswa dari berbagai kampus. Sebagian mengenakan jaket organisasi, sebagian lainnya datang dengan pakaian biasa. Di dinding ruang tamu tergantung sebuah poster lama bertuliskan: REFORMASI BELUM SELESAI.

Darto membaca tulisan itu cukup lama.

"Sudah berapa tahun poster ini kalian simpan?" tanyanya.

"Sejak kakak tingkat kami masih menjadi mahasiswa," jawab Arga.

"Dan sekarang kalian masih menggunakan kalimat yang sama?"

Arga tersenyum getir. "Sepertinya memang belum selesai, Mas."

Mereka duduk melingkar. Seorang mahasiswa perempuan bernama Laila membuka diskusi dengan menjelaskan berbagai persoalan yang sedang mereka hadapi. Ia berbicara tentang biaya pendidikan, lapangan pekerjaan, harga kebutuhan pokok, korupsi, serta semakin jauhnya jarak antara kehidupan masyarakat dan pembicaraan para pejabat di televisi.

"Yang membuat kami marah bukan hanya kebijakannya," katanya. "Tetapi cara pemerintah menjelaskan kebijakan itu. Seolah-olah semua keputusan sudah benar, dan rakyat yang tidak setuju dianggap tidak memahami keadaan."

Seorang mahasiswa lain menyela. "Masalahnya, setiap kali kami mengkritik pemerintah, selalu ada orang yang mengatakan bahwa kami sedang menyebarkan kebencian."

"Atau ditunggangi kepentingan politik," tambah yang lain.

Darto mendengarkan.

"Kalau begitu, saya ingin bertanya," katanya kemudian.

Semua mata tertuju kepadanya.

"Apakah kalian sedang melawan pemerintah, atau sedang melawan cara pemerintah membentuk pikiran masyarakat?"

Kening Arga mengernyit.

"Apa maksudnya, Mas?"

Darto mengambil sebuah koran yang tergeletak di meja. "Misalnya, ada seorang pejabat yang mengatakan bahwa ekonomi sedang tumbuh. Di televisi, kita melihat angka-angka yang menunjukkan pertumbuhan. Tetapi di pasar, seorang pedagang mengeluh karena pembelinya semakin sedikit. Seorang buruh kehilangan pekerjaan. Seorang sarjana mengirimkan puluhan lamaran tanpa mendapatkan jawaban."

Ia meletakkan koran. "Manakah kenyataan yang harus kita percaya?"

"Semua itu kenyataan, Mas," jawab Laila.

"Benar. Tetapi siapa yang menentukan kenyataan mana yang akan ditampilkan kepada masyarakat?"

Ruangan menjadi sunyi. Darto tersenyum. "Kalian harus membaca Jean Baudrillard."

Malam itu, setelah diskusi berakhir, Darto pulang dengan pikiran yang jauh lebih ramai daripada sebelumnya. Ia membuka lemari buku di ruang kerjanya. Beberapa buku lama masih tersusun di sana. Sampulnya mulai menguning, sebagian halamannya bahkan sudah terlepas. Ia menemukan Simulacra and Simulation. Darto membuka halaman-halamannya secara perlahan. Ia teringat gagasan Baudrillard tentang simulakra, tentang representasi yang tidak lagi sekadar menggambarkan kenyataan, tetapi dapat menggantikan kenyataan itu sendiri.

Dulu, ketika masih muda, ia menganggap propaganda sebagai kebohongan yang sengaja dibuat oleh penguasa. Sekarang ia melihat sesuatu yang lebih rumit. Kebohongan tidak selalu harus berupa berita palsu. Kadang-kadang, kebohongan justru dibangun dari potongan-potongan kenyataan yang dipilih sedemikian rupa sehingga menghasilkan gambaran yang berbeda dari kehidupan sebenarnya. Sebuah pemerintah bisa menampilkan gedung-gedung baru, jalan tol, angka pertumbuhan, dan upacara peresmian sebagai gambaran keberhasilan.

Semua itu mungkin benar-benar ada. Tetapi apakah keberadaan gedung-gedung itu otomatis berarti rakyat hidup lebih baik? Sebuah negara bisa memiliki ribuan tayangan tentang keberhasilan pembangunan, tetapi satu keluarga yang kehilangan tanahnya tidak pernah masuk ke dalam cerita tersebut. Sebuah lembaga bisa mengiklankan keberhasilannya memberantas korupsi, sementara pertanyaan tentang kekayaan para pejabatnya tidak pernah memperoleh jawaban memuaskan.

Darto menutup buku. Ia mengambil buku catatan. Lalu menuliskan isi pikirannya:

Barangkali kekuasaan modern tidak lagi harus menyembunyikan kenyataan. Ia cukup memilih kenyataan mana yang boleh dilihat manusia. Jika rakyat hanya melihat keberhasilan, mereka mungkin tidak pernah mengetahui kegagalan. Jika rakyat hanya mendengar pujian, mereka mungkin mengira tidak ada orang yang sedang menderita.

Ia berhenti menulis. Kemudian menambahkan satu kalimat:

Dan jika bayangan sudah dianggap sebagai kenyataan, orang yang menunjukkan kenyataan justru akan dianggap sebagai pembohong.

Beberapa hari kemudian, Darto kembali ke Yogyakarta. Ia sengaja mengunjungi sebuah tempat yang sudah lama tidak didatanginya. Sebuah taman kecil di dekat kawasan kampus, tempat dahulu ia sering menghabiskan malam bersama Mayor K yang sekarang sudah pensiun dengan pangkat Jendral. Meski begitu, jika bertemu Darto, sang jendral lebih senang di panggil Mayor, atau panggilan sehari-hari dirumahnya, Pakde.

Di sana, ia bertemu lelaki tua sahabatnya itu. Jendral K sedang membaca koran.

"Masih ingat Plato?" tanya lelaki itu tiba-tiba.

Darto menoleh. Ia mengenali suara tersebut. "Pakde?"

Jenderal K tersenyum. Rambutnya kini hampir seluruhnya putih. Tubuhnya sedikit membungkuk, tetapi matanya masih memperlihatkan ketajaman yang sama.

"Sudah lama kita tidak berbicara."

Darto menyalami tangannya. "Bagaimana kesehatan Pakde?"

"Masih cukup baik untuk mengkhawatirkan negeri ini."

Keduanya tertawa. Mereka duduk di bangku taman. "Pakde tadi bertanya tentang Plato," kata Darto.

"Karena saya mendengar kau sedang membaca Baudrillard."

Darto terkejut. "Siapa yang memberi tahu?"

"Orang-orang muda sekarang lebih suka menceritakan apa yang mereka baca daripada apa yang mereka pikirkan."

Jenderal K tertawa. "Bagaimana menurutmu tentang keadaan sekarang?"

Darto menarik napas panjang. "Saya merasa kita sedang hidup dalam sebuah pertunjukan besar, Pakde."

"Pertunjukan?"

"Politik menjadi panggung. Para pejabat menjadi pemain. Media menjadi pengeras suara. Rakyat menjadi penonton. Mereka melihat pertunjukan yang sama, tetapi masing-masing mendapatkan cerita yang berbeda."

Jenderal K mengangguk.

"Lalu siapa sutradaranya?"

"Itulah yang sedang saya cari."

Jenderal K memandangnya.

Lihat selengkapnya