“Dek, boleh Kakak masuk?”
Seseorang mengetuk pintu dan memanggil berkali-kali, tapi tak ada jawaban. Hening.
Lelaki dengan tinggi seratus delapan puluh sentimeter itu pun meninggalkan ruangan yang seolah tidak berpenghuni itu.
Ternyata si penghuni ruangan sedang menatap keluar jendela. Tatapannya tertuju pada sebuah ayunan kayu. Dia Cinta.
Matanya memerah. Bulir bening mulai meluncur bebas perlahan di pipinya. Tak ada suara, tak ada isakan. Hening.
Dia baru saja mengalami kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orangtuanya ketika berlibur. Yang selamat hanya dia dan kakaknya.
Dia selalu menyesali keputusannya untuk pergi dihari itu. Harusnya mereka tetap di rumah, membuat kue dan piknik kecil-kecilan di halaman belakang rumah yang cukup luas.
Rumah yang dahulu dipenuhi canda tawa. Sekarang terasa suram dan hampa meskipun memiliki segalanya.
Yang lebih menyakitkan, pagi ini mereka mendapatkan informasi yang sangat mengejutkan. Kecelakaan itu diduga sudah direncanakan oleh seseorang. Dia dan kakaknya merasa tidak menyangka. Kenapa orang itu melakukannya? Padahal semasa hidup orang tua mereka adalah orang yang terkenal baik kepada semua orang, bahkan kepada orang yang pernah menyakitinya sekalipun.
Ponsel berdering. Mata Adrian membelalak.
“Anda tidak salah kan? Tidak mungkin mereka melakukannya.”
Adrian berbincang sangat lama dengan dengan seseorang di seberang. Raut wajahnya dari awal hingga akhir terus berubah dengan rambut yang terus diacak.
Adrian melempar ponsel ke sembarang arah dan menjatuhkan tubuhnya. Dia terduduk dilantai dan bersandar di ujung ranjang memeluk lututnya lalu berteriak kencang.
Setelah tenang. Adrian membasuh wajahnya dan sekali lagi mengetuk pintu kamar Cinta. Jika diperhatikan, luka di tubuh Adrian ternyata lebih banyak dan lebih parah, bahkan jalannya sedikit pincang.
“Dek, ayo bicara sebentar, ini tentang…” Adrian tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Karena dia tahu bahwa adiknya masih sangat terpukul jika mendengar tentang kecelakaan itu.
Pintu terbuka. Terlihatlah Cinta dengan mata sembab, wajahnya pucat, rambut acak-acakan dan pakaian yang tidak rapi. Adrian memalingkan wajah tidak sanggup melihat kondisi adik kecil yang sangat ia sayangi sekarang.
“Besok, polisi mau datang kesini. Mereka mau membahas beberapa hal.” Suara Adrian sedikit tercekat
Cinta menatap sebentar lalu menutup kembali pintunya rapat-rapat. Adrian tidak mengatakan apapun dan berjalan kembali ke kamarnya.
Hari sudah gelap. Kamar Cinta masih gelap gulita. Sejak keluar dari rumah sakit, dia selalu tidur dalam gelap. Dia meringkuk di dalam selimutnya mencari kehangatan. Beberapa bulan lalu, ibunya masih memeluknya sampai tertidur. Dia merindukan pelukan dan kehangatan itu setiap malam sejak hari dimana dia tahu bahwa dia tidak akan bisa merasakannya lagi.
“Selamat pagi mbak Cinta dan Pak Adrian.” Sapa dua orang dari kepolisian.
Adrian membalas sapaan dengan sopan. Sementara Cinta hanya duduk diam dengan tatapan kosong.
Mereka duduk di ruang tamu saling berhadapan. Dua orang perwakilan itu mengeluarkan beberapa berkas.
Mereka berbincang dengan sangat serius, bahkan Cinta yang sejak tadi hanya menatap kosong pun menjadi histeris. Dia tidak sanggup mendengar berita yang disampaikan dan akhirnya tidak sadarkan diri.
Adrian membawa adiknya kedalam pelukannya. Dia meminta kedua perwakilan tersebut menjelaskan secara rinci, dan dia siap menjawab pertanyaan apapun yang akan dilontarkan.
Akhirnya setelah tiga bulan penyelidikan ditemukan titik terang. Benar bahwa kecelakaan itu sudah direncanakan dan pelakunya sampai sekarang belum ditemukan, sebab pelaku yang merusak kendaraan mereka tidak mau membeberkan otak dari kecelakaan terencana tersebut.
Inilah yang membuat Adrian frustasi setelah menerima kabar tersebut. Dia tidak mengerti kenapa ada yang tega melakukan ini kepada kedua orang tuanya. Padahal mereka selalu membantu siapapun tanpa pandang bulu.
Cinta kembali mengurung dirinya di dalam kamar. Dia terus teringat kenangan di masa lalu.
****
Awalnya mereka hanyalah keluarga yang hidupnya biasa-biasa saja seperti pamannya.
Cinta suka sekali membaca buku-buku fiksi. Hampir setiap hari dia membawa buku baru dan menampungnya di perpustakaan kecil miliknya. Dia juga tidak mengerti kenapa dia sangat terobsesi pada dunia fiksi. Dia selalu berkhayal karakter-karakter fiksi itu hidup di dunia nyata dan menjadi temannya. Ada saat-saat dia merasa kesepian seperti beberapa karakter di dalam buku fiksi yang dibacanya. Ada satu karakter kesepian yang dia baca, orang itu selalu ingin orang lain atau semua orang mengakui keberadaannya. Menurut cinta karakter itu benar-benar kesepian dan haus validasi.
Suatu hari ayahnya membangun sebuah bisnis. Beliau membuat usaha tersebut sukses dan terkenal di kota itu.
Ayahnya punya saudara kandung, yaitu paman yang dulu bertetangga dengan mereka. Paman, bibi dan saudara sepupunya sangat baik. Sejak ayahnya meniti usaha dari nol, mereka selalu mendukung dan mendorong dari belakang.
Ayahnya menjalankan bisnis itu bersama Bundanya. Pamannya waktu itu lebih berada dari mereka, akan tetapi mereka tetap baik kepada keluarga Cinta. Mereka tidak sombong ataupun menjauhi keluarga Cinta, apalagi mereka memang saudara kandung.