Sebelum Tintamu Memudar

Kairavya
Chapter #2

Chapter #2

Beberapa hari kemudian, Cinta pulang. Selama perjalanan, senyumnya terus merekah. Dia sudah tidak sabar bertemu kedua orang tuanya. 

Melihat itu, Adrian menoleh ke arah lain dan terlihat merasa bersalah. Air mata kembali menetes dari matanya, tapi cepat-cepat di hapus dan berpura-pura tidur.

"Kak, kok sepi? Ayah sama bunda mana?" Cinta memandang ke segala arah di ruang tengah itu, tidak ada tanda-tanda keberadaan orang lain selain mereka berdua.

Lalu paman dan bibi datang.

"Adrian, Cinta berhak tahu kebenarannya." Paman Bagas menepuk-nepuk pundak Adrian. Dia tidak sanggup mengatakannya.

"Kebenaran apa?" Tanya Cinta heran.

Adrian hanya menunduk. Dia sama sekali tidak berani menatap adiknya yang sedang berdiri di hadapannya menunggu penjelasan. 

Cinta terus mendesak Adrian menjelaskan apa maksud dari perkataan paman dan bibinya. Melihat itu paman dan bibinya saling menatap. 

"Orang tua kalian sudah meninggal beberapa bulan lalu." Mereka yang akhirnya menjawab Cinta yang sejak tadi tidak sabaran mendesak kakaknya.

“Paman, jangan bercanda dengan hal-hal seperti itu. Nanti jadi doa paman, kan kasihan ayah sama bunda, harusnya kalian mendoakan supaya ayah sama bunda sehat dan panjang umur terus, iyakan kak?” Nada bicara cinta yang tadinya mendesak dan merengek ke Adrian berubah menjadi tegas kepada paman dan bibinya.

Adrian mendorong kursi rodanya menuju sofa. Dan berusaha duduk di sofa itu tanpa bantuan. Setelah merasa nyaman. Dia meminta Cinta duduk di sampingnya. Ditatapnya adik semata wayangnya dengan air mata yang tertahan di pelupuk matanya.

“Sayang, paman dan bibi benar. Ayah dan bunda tidak selamat dari kecelakaan itu.” Suara Adrian tercekat. 

Cinta terdiam. Tak ada kata. Hening. Hanya air mata yang terus mengalir dari matanya. Lalu setelahnya, dia kehilangan kesadaran. Adrian memeluk adiknya dan menangis sejadi-jadinya.

Cinta bangun. Sekarang dia sudah berada di dalam kamar. Dan Adrian senantiasa berada di samping tempat tidurnya. Paman dan bibinya sudah pulang sejak tadi menyisakan mereka berdua di rumah itu.

Cinta langsung menangis histeris. Suaranya sangat menyayat hati. Dia menekan dadanya dan terus menangis.

Adrian mencoba menenangkan adiknya. Perlahan dia mencoba berdiri sekuat tenaga dan memeluk adiknya yang masih duduk di tempat tidur.

Cinta terus memukul punggung Adrian sembari berteriak bahwa kakaknya sangat jahat karena membohonginya selama beberapa hari ini.

Tapi, Adrian juga tidak punya pilihan. Kondisi Cinta belum stabil pada saat itu. Setelah lelah mengamuk. Cinta memeluk erat kakaknya dan bersembunyi di dadanya. Dunianya benar-benar hancur. Tidak lama, dia tertidur. Adrian memperbaiki posisi adiknya lalu ikut berbaring di sebelahnya.

Sepekan berlalu. Selain sibuk mengurusi bisnis orang tuanya, Adrian juga tetap menjalani terapi untuk kakinya. Dan sekarang, dia sudah tidak perlu duduk di kursi roda lagi, meskipun jalannya masih sedikit pincang. Di tengah kesibukannya, dia masih menyempatkan menghibur adiknya sesekali. Akhir-akhir ini, Cinta semakin pendiam dan hanya menghabiskan waktunya di kamar. 

Lalu, seseorang datang menghampiri Adrian di ruangannya. Beliau adalah pengacara ayahnya. Dia ingin menyampaikan wasiat terakhir ayahnya. Tapi sebelum dibacakan, dia ingin semua yang ada di dalam wasiat tersebut berkumpul. Di dalamnya ada nama paman sekeluarga. Mereka adalah satu-satunya keluarga ayah dan bunda yang masih hidup dan juga merupakan sahabat ayahnya.

Malamnya, mereka berkumpul di ruang tengah rumah keluarga Cinta. Cinta yang saat itu masih lemah tetap berada dalam pelukan kakaknya. Setelah semuanya siap, Om Putra pun membacakan wasiat tersebut. Ayahnya memberikan seperempat hartanya kepada keluarga satu-satunya yaitu paman Bagas dan keluarganya, sementara sisanya diberikan kepada kedua anak kandungnya.

Paman Bagas dan Bi Ratna tersenyum, namun seperti dibuat-buat. Tangisannya juga terdengar terlalu dramatis. Cinta memperhatikan semuanya dengan seksama.

Lihat selengkapnya