Setahun berlalu. Cinta sebentar lagi ujian. Sementara Adrian, dia masih setia dengan kesendiriannya. Dia semakin sibuk dengan urusan bisnis dan seringkali dinas keluar kota.
Cinta sudah menyarankan kakaknya agar segera menikah, tapi dia masih tetap pada pendiriannya. Cinta merasa tidak adil jika kakaknya terus menunda kebahagiaannya hanya karena ingin terus melindunginya. Setiap kali ada pria yang mendekati adiknya, dia selalu menghalanginya mati-matian.
Cinta tidak pernah menyalahkan kakaknya atas sikap protektifnya, sebab kakaknya melakukan itu hanya karena dia terlalu sayang kepada adiknya.
Sejak kejadian waktu itu, Cinta kehilangan dirinya. Dia semakin sulit tersenyum dan lebih banyak diam. Tidak ada yang berani mendekatinya bahkan hanya untuk sekedar berteman saja. Kalaupun ada, biasanya hanya penasaran.
Tapi dibalik semua itu, nilai Cinta selalu bagus. Dia belajar sungguh-sungguh demi kakaknya, dia tidak ingin menyusahkan hidup kakaknya lagi. Kakaknya sudah terlalu lelah mengurus semuanya sendirian. Makanya Cinta selalu menyarankan kakaknya menikah, setidaknya ada tempat dia berkeluh-kesah dan berbagi semua hal.
****
Cinta masih dengan kebiasaan lamanya. Tapi semua itu tidak mampu membantunya mengembalikan senyumnya yang dulu. Dia punya harapan yang cukup konyol, dia berharap tokoh fiksi yang ada di buku bisa datang ke dunia nyata dan membantunya.
Sudah larut malam. Cinta masih serius membaca sebuah buku halaman demi halaman. Hening. Hanya terdengar suara lembaran buku yang dibuka sesekali.
Cinta sedang berada di perpustakaan pribadinya. Dia tidak sadar bahwa diluar sudah gelap. Waktu memang terasa berlalu sangat cepat jika kita melakukan sesuatu yang sangat kita suka.
Angin bertiup dari jendela yang sedikit terbuka. Mata Cinta mulai menyipit dan akhirnya tertidur dengan posisi duduk di kursi goyangnya.
Jam berdetak menunjukkan jam dua belas malam. Mata Cinta perlahan terbuka. Sejak tadi seperti ada yang berbisik di telinganya.
Cinta mengerjap. Satu detik, dua detik, tidak detik. Dia berteriak sangat kencang. Lalu, seseorang membekap mulutnya.
“Tolong, diamlah!” Bisik orang itu dengan suara yang sedikit ditekan.
Cinta sangat terkejut, tiba-tiba saja sesosok laki-laki berpakaian aneh berdiri di depannya sembari menatapnya yang sedang tertidur.
Cinta mengangguk. Perpustakaan miliknya terlalu gelap, sebab Cinta lupa menyalakan lampunya, sejak tadi saat dia membaca hanya mengandalkan cahaya bulan yang sedang terang-terangnya.
Wajah orang itu tidak jelas, dia berdiri tepat di dekat jendela dan membelakangi cahaya.
“Kamu, siapa?” Cinta terbata-bata. Dia ketakutan, tubuhnya gemetar hebat. Pikirannya sudah melalang buana. Dia akan memberikan apapun yang diminta orang itu asal dirinya selamat, dia berpikir bahwa orang itu adalah perampok.
“Ini aku.” Jawabnya datar.
Cinta menatap bingung. Setahunya dia tidak punya kenalan laki-laki dengan postur tubuh seperti itu dan suka berpakaian unik.
Melihat raut wajah Cinta yang seperti itu, dia lalu mengangkatnya dan mendudukkannya di jendela.
Dia mengangkat Cinta seolah-olah memindahkan kapas. Sekarang Cinta bisa melihat wajah orang itu dengan jelas dibawah sinar bulan.
Cinta memperhatikan wajah itu dengan seksama. Dia sepertinya pernah melihat wajah itu di suatu tempat.
“Arthur!” Cinta menutup mulutnya tak percaya.
Arthur tersenyum, "Ya, ini aku, bukankah kamu yang mengharapkan aku datang?" Dia menatap kedua mata Cinta sangat dalam.
Cinta masih tercengang. Dia menepuk pipinya bahkan mengucek matanya berkali-kali untuk memastikan apakah ini nyata atau dia masih berada di dalam mimpinya, karena ini sangat mustahil.
Cinta lalu mencubit pahanya dan mengasuh.
"Cinta, kamu kenapa? Buka pintunya" Adrian yang saat itu baru dari dapur tidak sengaja mendengar suara dari perpustakaan adiknya.
Cinta bingung. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Sehingga membuat kakaknya semakin gencar mengetuk pintu.
"Nggak apa-apa kak, aku cuma mimpi buruk, kakak gak usah khawatir.” Teriak Cinta yang berusaha setenang mungkin.
"Buka dulu pintunya!" Adrian melembutkan suaranya. Dia bukan orang yang akan percaya begitu saja. Akhirnya Cinta menyalakan lampu ruangan.
Cinta lalu mengalihkan pandangannya ke Arthur. Dia masih berdiri ditempat yang sama dengan wajah yang masih dihiasi senyuman.
“Sebaiknya kamu sembunyi, kita bahas ini nanti.” Bisik Cinta. Dia tidak mau kakaknya salah paham dan tambah khawatir.
“Baiklah.” Jawab Arthur santai.
Setelah merasa aman, Cinta segera membuka pintu dan berpura-pura baru saja terbangun.
"Maaf yah kak, aku jadi ganggu tidur kakak." Suara Cinta masih parau jadi kepura-puraannya meyakinkan.
Adrian lalu membawa Cinta ke dalam pelukannya. Meski dia tidak mengatakan apapun, Cinta tahu kakaknya sangat khawatir.