Sebelum Tintamu Memudar

Kairavya
Chapter #4

Chapter #4

“Kenapa kamu diam lagi? Aku merasa kamu selalu mengabaikan aku.” Arthur menunduk.

Cinta menoleh ke sumber suara. Arthur tengah duduk di tepi ranjang dan tertunduk dengan sedih. Bukannya iba, Cinta justru gemas, karena ekspresi yang dilihatnya sangat menggemaskan. Seperti anak kucing yang tersesat. Dia memotretnya dan tanpa sadar tawanya pecah memenuhi ruangan.

"Kenapa tertawa?, apa ada yang lucu?" Arthur mengernyit dan merasa Cinta mulai kehilangan kewarasannya.

Cinta hanya membuka ponsel dan menunjukkan potret yang sempat diabadikan. Arthur terkejut, pipinya memerah dan memalingkan wajah. Dia tidak menyangka bahwa dia bisa membuat ekspresi seperti itu, hilang sudah wibawanya sebagai seorang playboy. Cinta terus menatapnya lekat-lekat. 

"Berhenti melihatku dengan tatapan seperti itu, kumohon.” Arthur frustasi karena Cinta tidak mengalihkan tatapannya sama sekali.

"Mau bagaimana lagi, kamu terlalu menggemaskan." Cinta menyunggingkan senyuman.

"Menggemaskan? Apa matamu buta? Berobat lah. Perhatikan baik-baik, bagian mananya yang gemas.” Arthur berdiri tegak memamerkan tubuhnya yang kekar. Bagaimanapun dia adalah seorang kesatria yang berdiri di posisi paling depan saat perang.

"Yah, badanmu sudah berusaha semampunya. Tapi wajahmu, tidak bisa. Kamu mungkin tidak menyadarinya, kamu memang menggemaskan.” Cinta menatap Arthur dari atas hingga bawah dengan posisi berdiri seperti seorang pengamat sembari mengelus dagu.

Arthur menjadi semakin kesal. Tapi semakin dia kesal, semakin gencar juga Cinta menggodanya dan tanpa sadar jarak mereka semakin menipis. 

“Mundur!” Arthur menekan suaranya.

Tapi melihat wajah Arthur yang semakin memerah, Cinta malah ingin mengerjainya.

“Tidak mau, aku suka begini.” Cinta lagi-lagi menyunggingkan senyum.

“Jangan bercanda.” Arthur tergagap. Seumur-umur, belum pernah ada yang berani menggodanya seperti ini. Wibawanya benar-benar hancur di hadapan gadis kecil ini. 

Arthur  menunduk dengan wajah serius. “Aku serius,” Lagi-lagi menekan suaranya.

Tapi Cinta tidak peduli dan semakin memajukan wajahnya. Arthur tidak tahan dan menengadah membuat Cinta terkejut dan malu sendiri. Dia membalikkan badan secepat kilat dan menutupi wajahnya.

“Sudah kubilang, mundur. Aku ini laki-laki, kamu harusnya tahu itu.” Arthur sebenarnya juga tidak menyangka akan seperti ini, padahal niatnya hanya menggertak. 

Cinta tidak mengatakan apapun dan hanya terus mengipas wajahnya dengan tangan. Padahal AC nya menyala tetapi dia masih merasa panas.

Cinta terjebak dalam permainannya sendiri, padahal niatnya hanya bercanda, tetapi akhirnya seperti ini.

Arthur berdiri dan meminta maaf dengan tulus. Cinta menjawab seadanya.

Dia sangat malu dan berharap ingatannya hilang saat itu juga. Arthur yang melihatnya tidak bisa menahan senyumnya.

Kemana perginya keberaniannya tadi yang terus menggodanya?

"Jangan lakukan ini lagi lain kali,  apalagi di depan pria lain, tidak semua pria sebaik kakakmu!" Arthur memperingati.

“Kenapa?” Tanya Cinta yang akhirnya bisa mengendalikan dirinya.

"Biarpun kejadian tadi tidak terjadi, mungkin aku akan melakukannya dengan sengaja." Arthur menyunggingkan senyumnya.

"Dasar mesum!" Cinta mengambil ancang-ancang untuk memukul, akan tetapi Arthur singap menghindar.

“Itukan salah kamu sendiri.” Arthur masih terus berlari.

“Kenapa jadi aku yang salah?” Cinta melempar benda apapun yang tidak berbahaya yang bisa diraih.

“Tadi kamu terlalu dekat, aku sampai berusaha sekuat tenaga menahan diri, tapi kamu terlalu imut untuk dilewatkan.” Arthur menangkis semua benda yang dilempar ke arahnya.

Cinta sudah lelah dan tidak mengejar lagi. Dia berbaring kembali di kasurnya. Sementara Arthur duduk lagi di tepi ranjang.

“Aku akan menjadikan ini pelajaran. Kamu benar-benar tidak bisa diajak bercanda.” 

“Tentu saja.” Arthur tersenyum.


****


Adrian tengah duduk dimeja makan. Dia baru pulang semalam setelah tiga hari dinas keluar kota. Dan selama dia pergi, Arthur tetap tinggal di paviliun belakang rumah. 

Adrian belum bertemu dengan Cinta sejak malam itu. Dan selama Adrian pergi, Cinta sudah banyak berubah.

Cinta baru saja selesai bersiap dan melihat Adrian duduk sendirian dengan secangkir kopi di tangannya.

"Selamat pagi kak, kapan kakak pulang?" Cinta menyapa Adrian dengan ceria. Dia lalu duduk di samping kakaknya dan merebut nasi goreng dihadapannya.

Adrian tidak bereaksi. Cangkir di tangannya hampir saja terjatuh. Matanya berkaca, dia seperti kembali ke masa lalu.

Tanpa aba-aba Adrian langsung memeluk Cinta yang sedang menyendok nasi goreng ke mulutnya.

“Ih kakak, nasi gorengnya jadi jatuh ke meja kan.” Rengek Cinta yang merasa sayang pada sesendok nasi goreng yang tumpah itu.

Tangis Adrian pecah. Mendengar itu, Cinta langsung membalas pelukan kakaknya dan berusaha menenangkannya.

“Kakak kenapa?” Tanya Cinta kemudian. 

Adrian tidak mengatakan apapun. Tubuhnya gemetar. Dia merasa sedang bermimpi. Dia memeluk Cinta sangat lama.

Lihat selengkapnya