Terdengar suara gaduh dari luar. Karena cemas, Cinta segera berlari keluar berniat untuk memisahkan jika ternyata keduanya sedang adu otot.
Cinta tidak menyangka bahwa pemandangan yang dilihatnya justru sangat jauh dari apa yang dia bayangkan. Keduanya justru terlihat sangat akrab, seperti dua orang sahabat karib yang sudah lama sekali tidak bertemu.
Adrian dan Arthur mempersilahkan Cinta duduk dimana saja, lalu setelahnya mereka melanjutkan pembicaraan tanpa mempedulikan kehadiran Cinta disana. Sekarang siapa orang ketiganya disini?
Setelah puas bercerita. Mereka berdua baru sadar bahwa mereka telah mengabaikan seseorang yang sudah terlihat sangat jengkel disana.
Mungkin jika meletakkan telur di atas kepalanya, telurnya akan matang saking panas dan berasapnya.
“Teman kamu asik, kakak suka, cocok untuk jadi partner kerja. Kakak mengizinkan dia tinggal di paviliun, asal dia mau kerja di kantor bantuin kakak," kata-kata yang keluar begitu saja dari mulut Adrian tanpa menoleh ke adiknya.
Cinta menunjukkan ekspresi tidak suka.
"Kakak apaan sih?, masa temanku satu-satunya di rebut.” Cinta menyilangkan tangannya didepan dada tidak terima.
Adrian hanya tersenyum mengejek. Melihat itu Cinta semakin tidak terima dan segera berdiri lalu menyerang Adrian.
Adrian menghindar dan berlari sekuat tenaga dari amukan adiknya. Namun sayang, kakinya tersandung ujung meja dan terjatuh.
Akhirnya Cinta punya kesempatan menyerang. Cinta terus menggelitik Adrian hingga memohon ampun berkali-kali.
Melihat itu, Arthur sedikit merasa tersentuh. Coba saja dia dan kakaknya bisa seperti itu, tapi peraturan istana yang ketat dan kolot membuat hubungan mereka harus retak dan tidak bisa di perbaiki lagi.
****
Arthur mulai sibuk seperti Adrian, Cinta pun demikian karena begitu banyak tugas di awal semester.
Sekarang, dia tidak dipandang sebelah mata lagi oleh teman-temannya. Bahkan teman-teman yang dulu satu sekolah dengannya sering menyapanya jika tidak sengaja bertemu di fakultas.
Beberapa dari teman sekolahnya juga kuliah di kampus yang sama dengannya. Termasuk dua sejoli yang membully dirinya dulu.
Cinta bukan pendendam. Dia tahu, setiap orang punya masalah hidupnya masing-masing.
Mungkin saja mereka punya trauma masa lalu dan butuh validasi dari semua orang, makanya membully dirinya selama ini.
Lalu, pasangan paling terkenal di sekolahnya sudah putus katanya tepat beberapa hari setelah Cinta diantar Adrian ke sekolah.
Reza yang merupakan siswa populer di sekolah itu terus menatap Cinta dan mulai memperhatikannya diam-diam sejak Cinta merubah penampilan, sedangkan pacarnya diabaikan.
Lambat laun, hubungan keduanya semakin renggang dan pada akhirnya putus.
Kemudian di bangku kuliah, Cinta satu jurusan bahkan sekelas dengan Reza. Dunia terlihat sempit rasanya.
Sejak saat itu, Reza terus mencari alasan untuk berbicara dengan Cinta.
Cinta meresponnya dengan baik, tapi tidak ada maksud lain, hanya rasa hormat dan saling menghargai saja antar teman.
Tapi sepertinya Reza berpikir lain.
Reza terus mengikuti apapun kegiatan yang dilakukan Cinta, termasuk kegiatan-kegiatan kampus yang dimasukinya.
Cinta tidak pernah mencurigainya sedikitpun, dipikirannya mungkin Reza memang tidak pandai bergaul dan hanya mengandalkan dirinya sebagai teman.
****
Waktu berjalan begitu cepat, sekarang Cinta sudah menjadi mahasiswi tahun ketiga.
“Arthur?” Cinta terkejut melihat Arthur yang sudah berdiri di depan perpustakaan kampus.
Cinta baru saja mengerjakan tugas bersama teman-temannya.
Sekarang kegiatan yang diikuti Cinta tidak terlalu banyak lagi.
Dia mulai sibuk mencari referensi dan lain sebagainya yang dibutuhkan saat mengerjakan proposal skripsi.
“Kamu sudah selesai?” Tanya Arthur sembari merapikan rambut Cinta yang sedikit berantakan.
Cinta tersenyum manis sekali, “Sudah,” jawabnya semangat.
Reza yang berdiri di belakangnya seolah tidak terlihat lagi.
Reza mengepalkan tangan karena cemburu. Laki-laki dihadapannya ini selalu saja muncul disaat yang tidak tepat.
Padahal Reza berencana mengajak Cinta makan siang bersama.