Sebelum Tintamu Memudar

Kairavya
Chapter #6

Chapter #6

Cinta pulang. Yang menjemputnya di bandara kali ini adalah Arthur karena Adrian punya beberapa hal penting yang harus diurus.

Cinta mengabaikan Arthur yang sedang tersenyum ke arahnya dan hanya meminta tolong serta tersenyum ramah kepada sopir.

Arthur hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu duduk disamping Cinta.

Selama perjalanan pulang, Cinta hanya melihat keluar jendela dan memejamkan mata, dia merasa sangat lelah setelah perjalanan jauh.

Di rumah, Cinta mengangkat barangnya sendiri dan menepis tangan Arthur yang hendak membantunya.

Cinta kesal karena selama dia pergi, Arthur tidak pernah menghubungi atau menanyakan kabarnya sama sekali.

Terhitung sudah enam bulan mereka tidak saling bicara. Adrian menyadari semuanya, tapi dia tidak ingin ikut campur dalam konflik itu, bisa-bisa dia ikut terseret dan dimusuhi adiknya juga.

Sekarang adiknya hanya bermanja kepadanya dan bisa terus pamer dihadapan Arthur.

“Kakak.” Cinta berlari menerjang dan memeluk kakaknya erat.

Dia sangat merindukan pelukan itu. Sebab selama KKN dia harus terlihat dewasa dan bisa segalanya, tidak bisa bersikap manja sama sekali.

“Kangen banget sama kakak yah?” Adrian mengelus kepala adiknya sayang.

Cinta hanya mengangguk dan semakin mengeratkan pelukan. Arthur yang saat itu berada di samping terlihat semakin jengkel karena Adrian terus pamer kepadanya.

Cinta menoleh kesamping dan menyadari keberadaan Arthur disana. Arthur menunjukkan senyum termanisnya.

Akan tetapi, Cinta hanya melihat sekilas, lalu kembali menatap kakaknya sembari tersenyum manis.

Malamnya, Cinta duduk di kursi taman dengan secangkir teh di tangan dan beberapa macam makanan ringan di depannya.

“Kamu masih marah?” Arthur tiba-tiba duduk di sampingnya. 

Melihat itu, Cinta segera bangkit dan hendak meninggalkan tempat itu.

Arthur sigap menangkap pergelangan tangannya dan menariknya ke dalam pelukan. 

“ Maaf, aku yang salah karena terlalu kekanak-kanakan. Bisakah jangan menghindar lagi, aku tersiksa.”

Arthur mengeratkan pelukannya. Dia sangat merindukan gadis yang berada di hadapannya ini.

Enam bulan lamanya, hubungan mereka renggang hanya karena rasa cemburunya yang berlebihan.

Dia mengabaikan Cinta, padahal Cinta tidak tahu sama sekali tentang rencana hari itu.

Cinta hanya diam. Lalu perlahan membalas pelukannya.

Sebenarnya dia tidak benar-benar marah, dia hanya ingin memberi sedikit pelajaran, tapi malah berlangsung selama ini.

Dia juga sebenarnya sangat merindukan Arthur. Enam bulan ini, dia juga sama tersiksanya.

“Lain kali kalau ada apa-apa, bilang. Jangan diam lalu mengabaikan aku,” Ucap Cinta kemudian.

Arthur hanya berdehem dan memeluk Cinta semakin erat.

Hubungan keduanya pun kembali membaik. Kejadian yang berlangsung enam bulan itu pun seolah tidak pernah ada.


****


Satu tahun berlalu. Arthur masih berada di dunia nyata menemani Cinta dan Adrian.

Empat tahun ini, Arthur ikut andil dalam mengembangkan perusahaan yang dikelola Adrian. Mereka sudah seperti satu keluarga berjumlah tiga orang.

Sekarang adalah hari kelulusan Cinta. Cinta menunggu di depan ruangan dengan cemas. Sejak beberapa menit lalu, dia terus berjalan kesana-kemari dengan ponsel yang terus di utak-atik dan sesekali menempel ditelinganya.

Dia memakai kebaya berwarna merah serta memakai hak tinggi sehingga terus berbunyi ketika dia berjalan, riasannya sangat cantik.

Waktu semakin mepet, tetapi dua orang sibuk itu tidak juga menunjukkan batang hidungnya.

Lalu, sebuah mobil berhenti di depan gedung. Dari kursi penumpang keluarlah dua orang lelaki yang memakai baju batik yang senada dengan rok yang dikenakan Cinta.  

“Kalian dari mana saja sih? Ini hari penting, kenapa masih terlambat juga?” Cinta cemberut dan meninggalkan mereka berdua. 

“Kami minta maaf, mobilnya bermasalah, makanya kami naik taksi online.”

Keduanya mengekor di belakang Cinta terus meminta maaf. Akan tetapi Cinta terus berjalan dengan tatapan lurus menuju barisan wisudawati di depan sana. 

Semua mata tertuju ke arah mereka ketika memasuki ruangan. Mereka terpana dengan kedua sosok yang ikut mengekor di belakang Cinta. 

Cinta menoleh lalu menatap Arthur lama.

Menyadari hal itu, Arthur menatapnya juga yang membuat wajah Cinta memerah karena ketahuan sedang mencuri lihat.

Mereka saling menatap cukup lama. Entah sejak kapan, Cinta mulai menaruh perasaan kepada Arthur.

Cinta mulai tidak rela jika suatu hari Arthur kembali ketempat asalnya. Bagaimana Cinta akan melewati hari-harinya setelah dia pergi. Cinta tidak bisa membayangkannya.

Melihat keduanya yang berdiri mematung saling menatap. Adrian tersenyum.

Dia lalu menepuk pundak Arthur dan membuatnya terkejut.

“Ayo duduk, acara sudah dimulai.” 

Cinta yang juga terkejut segera berbalik dan bergegas menuju ke tempat duduknya, sementara Arthur duduk tenang di samping Adrian.

Sesekali Cinta menoleh kebelakang melihat Arthur yang sedang melihat ke arahnya juga.

Sementara Adrian yang menyadarinya terus menahan senyum. 

Melihat itu, Cinta malah mencurigai kakaknya, padahal kakaknya sedang menertawakan dirinya diam-diam.

Cinta curiga jika kakaknya sedang kasmaran.

Cinta tahu kalau kakaknya sudah lama sendiri, tapi akhir-akhir ini dia terlihat mencurigakan, bisa saja dia sudah punya seseorang tapi sengaja dirahasiakan, Cinta Pun berniat menyelidiki kakaknya setelah ini.


Setelah acara, Cinta dan keluarga kecilnya itu pulang ke rumah.

Mereka mengadakan syukuran kecil-kecilan dan mengundang warga setempat serta teman-teman yang lumayan akrab akhir-akhir ini. 

Tetapi, Bukannya Cinta, justru Arthur yang menjadi pemeran utama hari ini. Anak-anak berkerumun di dekatnya seolah-olah sedang mengamati sebuah pameran lukisan.

Sementara Adrian sedang sibuk mengobrol dengan seseorang, terlihat cukup akrab, orang itu sepertinya seumuran dengan ayahnya Cinta.

Cinta mulai curiga lagi, jangan-jangan ini calon mertua kakaknya yang disembunyikan darinya.

Lihat selengkapnya