Sebelum Tintamu Memudar

Kairavya
Chapter #7

Chapter #7 (End)

Setelah memperkenalkan calon istrinya hari itu, Adrian tidak menunggu lama dan langsung ke rumah Aisyah melamar secara resmi.

Sekarang ini, mereka sudah sibuk mempersiapkan pernikahan. Arthur dan Cinta ikut andil dalam persiapan tersebut. Mereka bertugas memilih gedung, catering, sampai wedding organizer. Selebihnya Adrian dan Aisyah yang mengurus.

Cinta belum bekerja, dia menunggu sampai pernikahan kakaknya selesai baru bergabung di perusahaan.

Awalnya dia mau diberi posisi yang bagus oleh kakaknya, tapi dia menolak dan mau memulai dari bawah agar lebih paham cara kerja perusahaan mulai dari tingkat bawah sampai atasan.

Wajah Adrian semakin segar saja menjelang hari pernikahan. Cinta ikut bahagia melihat kakaknya.

Meski begitu, Cinta tidak pernah membiarkan kakaknya tenang, dia selalu mengganggunya.

Setiap kali kakaknya menelpon dan terus tersipu, Cinta selalu mondar-mandir di depannya dan terus menirukan apa yang dikatakan kakaknya.

Tentu saja setelah telepon terputus, Adrian langsung mengejar dan menggelitiknya.

Adrian akhirnya bisa keluar dari lingkaran adiknya.

Selama ini dia selalu mengelilingi Cinta dan hanya memusatkan segala perhatian padanya.

Setiap kebutuhan, keinginan bahkan hal-hal remeh menyangkutnya, selalu diusahakan.

Cinta benar-benar sangat diusahakan.

Cinta juga bersyukur, Arthur datang ke dalam hidupnya dan merubah segalanya.

Seandainya dia masih seperti dulu, kakaknya mungkin tidak akan menemukan kebahagiaannya sekarang.

Meskipun nanti Arthur akan pergi, Cinta akan tetap berusaha merelakan dan bahagia, setidaknya sekarang mereka masih bersama, urusan nanti, nanti saja baru dipikirkan.


****


Hari pernikahan. Adrian berjalan memasuki masjid dengan balutan jas berwarna putih.

Baru kali ini dia terlihat gugup dan pucat seperti itu, tangannya gemetar dengan keringat yang terus mengucur, apalagi setelah menggenggam tangan penghulu.

Tema pernikahan Adrian adalah warna putih. 

Mereka sebenarnya mengundang keluarga bibinya, karena bagaimanapun mereka tetap keluarganya.

Sayangnya mereka tidak datang karena merasa malu. Mereka hanya mengirimkan hadiah dan sepucuk surat permintaan maaf.

Sebenarnya selama ini Olif juga kuliah di kampus Cinta, hanya saja mereka tidak pernah saling tegur sapa.

Bukan Cinta, tapi Olif yang menghindar. Padahal Cinta sama sekali tidak menyalahkannya karena dia tidak tahu apa-apa.

Pernikahan Adrian berjalan sangat khidmat. Para keluarga dan tamu yang hadir menikmati pesta dengan bahagia, tak ada drama atau huru hara. Tenang dan damai.

Arthur dan Cinta menepi dari keramaian dan melepas lelah dibangku taman samping gedung setelah acara hampir selesai.

“Cinta, aku mau menyampaikan sesuatu.” Arthur menatap Cinta lekat-lekat.

Jantung Cinta berdetak tak karuan. Dipikirannya hanya dua, menyatakan perasaan atau perpisahan.

Cinta menatap Arthur dalam. Padahal Arthur belum mengatakan apa-apa, tapi mata Cinta sudah digenangi air mata.

Dua hari lalu, Arthur duduk di taman bersama Adrian. Dia menjelaskan asalnya yang sebenarnya.

Adrian hanya terdiam dan menepuk punggung Arthur yang sekarang sudah seperti saudaranya sendiri. 

“Waktuku sudah tidak banyak lagi. Beberapa hari lalu aku masuk ke ruang baca dan melihat buku itu bersinar. Disana ada hitungan mundur tersisa tujuh hari.”

Arthur tidak bisa melanjutkan kata-katanya dan menunduk. Nafasnya tersengal-sengal, menandakan dia sedang menangis.

“Jadi, sudah waktunya yah!?”

Cinta berusaha tersenyum, tapi air matanya terus tumpah tak terbendung. Dia tidak bisa menahannya.

“Jangan menangis, sungguh ini sangat berat.” Arthur mengusap air mata Cinta dengan lembut.

Suaranya terdengar lirih dan menatap Cinta sangat lama, lalu memeluknya erat.

Mereka benar-benar tidak sanggup berpisah.

Disisi lain, Adrian dan Aisyah memperhatikan mereka dari kejauhan. 

Acara sudah selesai dan mereka akan segera pulang ke rumah.

Mereka tidak memesan kamar hotel karena Aisyah tidak nyaman dan lebih suka pulang ke rumah saja.

“Mereka berdua kenapa Mas?” Tanya Aisyah merasa bingung dengan kedua anak itu. 

“Mereka sebentar lagi harus berpisah. Arthur harus kembali ke asalnya dan mungkin tidak akan kembali lagi. Sudahlah, biarkan mereka, ayo kita pulang dan istirahat.”

Adrian menatap istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan.

Aisyah tidak bertanya lagi dan malah tersipu.

Lihat selengkapnya