Sebelum Waktu Berhenti

Tasya Syafitri
Chapter #13

Bab 12 - Suatu hari di ICU

Menunggu Keajaiban

Tiga hari sudah Nina berada di kampung halamannya, menunggu kepastian tentang kondisi Ayah Ali yang terbaring lemah di ruang ICU—ruangan yang saat ini menjadi pembatas antara doa-doa yang dipanjatkan dan menunggu kabar baik yang belum kunjung datang.

Pagi ini, Nina memilih menginap di rumah. Untuk pertama kalinya, ia merasakan suasana yang asing, meskipun setiap sudut ruangan begitu familiar.

Biasanya, setiap kali Nina beristirahat sejenak dari pekerjaannya, Ayah Ali selalu menyambut kepulangannya dengan kehangatan yang sederhana, namun bermakna.

Memasak nasi liwet dengan aroma rempah dan santan kelapa yang harum mengepul di dapur, atau memasak mie goreng tek-tek kesukaannya yang dimasak oleh Ayah Ali dengan bumbu sederhana namun penuh cinta. Terkadang di waktu senggang, Ayah Ali mengajaknya untuk menanam beberapa sayuran di kebun belakang, sambil tertawa terbahak-bahak saat di antara keduanya jatuh dengan baju yang belepotan dengan tanah, sambil main air tanpa peduli kotor.

Hari ini, semua hal yang pernah mereka lakukan hanya kenangan yang menggantung di udara.

Kebun sayur yang beberapa hari lalu ditanami, kini tampak layu dan tidak lagi segar. Padahal Kota Bogor sempat diguyur hujan dua hari sebelumnya, namun tanaman-tanaman itu mudah sekali rusak—seolah kehilangan tangan yang biasa merawatnya.

Diiringi dengan daun-daun yang kian menguning merunduk ke tanah, seperti ikut merasakan kelelahan yang sama. Nina melangkah sejenak ke tepi kebun, ia menatap satu per satu barisan sayur mayur yang tak lagi tegak. Saat itu juga, ia menyadarinya bahwa kebun itu tak hanya hidup oleh air dan tanah, tetapi kehadiran Ayah Ali yang tidak ada di sisinya.

Biasanya, Pak Jaya yang setiap pagi membantu Ayah Ali memanen hasil kebun, lalu mendistribusikannya ke pasar terkenal di kota Bogor. Kini, aktivitas itu terpaksa di tunda entah sampai kapan. Sama seperti Nina—yang juga menunda banyak hal dalam hidupnya, termasuk pekerjaannya. Demi menunggu keajaiban bagi orang yang paling ia cintai.

Di pendopo kecil tepi kebun, Nina duduk termenung sambil menerawang ke arah halaman rumah. Pikirannya melayang, kembali pada bayangan pertama kali ia menemukan Ayah Ali terkulai lemah di ruang ICU—tubuh yang dipenuhi selang dan kabel, napas yang bergantung pada mesin dan oksigen, serta rasa panik yang menyesakkan dada.

Lamunannya terhenti ketika Pak Jaya muncul dari pintu belakang, membawa dua mangkuk Indomie rasa soto. Di atasnya tersaji sayur sawi, irisan cabai rawit, saus sambal dan sebutir telur yang diletakkan rapi. Uap hangat masih mengepul, menyebarkan aroma sederhana yang entah bagaimana terasa menenangkan.

"Sok atuh, Neng Nina," ujar Pak Jaya sambil meletakkan kedua mangkuk Indomie ke hadapannya.

"Dimakan dulu Indomie-nya. Nanti makin hambar lho, kalo Neng enggak makan..."

Nina tersenyum kecil. Candaan itu terdengar ringan, namun ia tahu betul bahwa Pak Jaya sedang berusaha mencairkan suasana agar kesedihan tak sepenuhnya tenggelam menguasai mereka.

Ia mengangguk dan meraih mangkuk mie perlahan.

"Terima kasih, Pak Jaya..."

Mereka menyantap Indomie sambil duduk berdampingan, menikmati angin pagi sepoi-sepoi khas Kota Bogor. Tak ada percakapan untuk beberapa saat—hanya bunyi dentingan sendok beradu dengan mangkuk dan tarikan napas yang pelan.

Hingga akhirnya, Nina memberanikan diri untuk membuka suara.

"Pak Jaya..."

"Iya, Neng. Kunaoun ieu?"

Nina menunduk, jemarinya menggenggam sendok lebih erat. "Nina minta maaf ya, Pak?"

Pak Jaya menghentikan makannya. "Minta maaf? Untuk apa, Neng?"

"Soal kemarin di rumah sakit," ucap Nina lirih. "Harusnya Nina berterima kasih sama Pak Jaya karena sudah mau jaga Ayah. Tapi, Nina malah nyalahin Bapak... Enggak becus jagain Ayah..."

Suaranya bergetar, "Nina sampai nuduh Pak Jaya bikin Nina jadi anak yatim piatu."

Pak Jaya menggeleng pelan. Wajahnya teduh, tanpa sedikit pun amarah.

"Enggak usah minta maaf, Neng," katanya lembut. "Waktu itu Neng lagi ketakutan. Orang yang takut memang suka ngomong tanpa mikir."

Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih dalam. "Kalau mau jujur, Pak Jaya juga salah. Harusnya Pak Jaya enggak nurutin permintaan Pak Ali buat sembunyiin semuanya. Katanya enggak mau ngerepotin Nina… padahal malah bikin semuanya tambah berat."

Kalimat itu menggantung di antara mereka, diiringi desir angin yang menyusup ke pendopo.

"Sekarang," ucap Pak Jaya akhirnya, menatap Nina dengan mata yang penuh keyakinan, "...kita sama-sama jaga Pak Ali, ya. InshaAllah, Pak Ali bakal lebih kuat kalau tahu dia dikelilingi orang-orang yang sayang sama dia."

Nina mengangguk mantap. "Iya, Pak. Kita jaga Ayah bareng-bareng. Sampai sembuh."

Pak Jaya tersenyum kecil. "Termasuk jaga sikap keras kepalanya itu."

Nina tertawa, kali ini lebih lepas. Tawa itu segera disambut tawa Pak Jaya. Di pendopo kecil itu, di antara semangkuk mie instan dan angin pagi yang merambat perlahan, Nina merasa bebannya sedikit berkurang.

Menunggu keajaiban memang bukanlah hal yang mudah, tapi Nina belajar satu hal penting, bahwa ia tidak lagi merasa sendirian.

"Sebelum kita berangkat ke RS Azra nanti," ucapnya Pak Jaya hati-hati, "Kita ke kamar Pak Ali untuk beberes pakaian yang dibawa."

Nina memangguk sambil fokus menghabiskan mie-nya.

"Sama jangan lupa yang diminta sama Suster Farida kemarin. Itu harus dipersiapkan, Neng."

"Iya, Pak," jawab Nina cepat. "Pampers dewasa 1 pak, underpad 1 pak, tisue basah, tisue kering, sabun cair, odol sama sikat gigi anak-anak. Terus juga minyak kayu putih, minyak telon sama handuk itu."

Pak Jaya mengangguk puas.

“Kemarin Nina sudah beli semua itu di supermarket, kan?”

“Iya, Pak. Sudah lengkap.”

“Nah, itu tahu, Neng.”

Pak Jaya terkekeh kecil.

“Sekarang Neng Nina belajar urus bayi, ya. Tapi sayangnya bayi tua yang harus diurus.”

“Hahahaha,” Nina tertawa geli. “Kacau nih, Pak Jaya. Nanti Nina bilang ke Ayah, ah. Kalau udah sadar.”

Pak Jaya ikut tertawa, lalu bangkit berdiri dan mengambil dua mangkuk mie yang kini habis tak bersisa.

“Yuk, Neng. Kita beberes. Jangan sampai Pak Ali bangun duluan disana, terus marah-marah enggak jelas ke kita karena lemari bajunya dibongkar.”

Nina tersenyum, lalu ikut berdiri.

*****

Mereka melangkah masuk ke dalam rumah, menuju kamar Ayah Ali yang terletak di sisi depan ruang tamu. Setibanya di ambang pintu, Nina meraih gagang pintu dan membukanya perlahan.

Begitu pintu terbuka, suasana terasa berbeda. Sunyi.

Biasanya, pemandangan yang menyambut Nina saat memasuki kamar ayahnya adalah sosok Ayah Ali yang duduk bersila di atas sajadah, Al-Qur’an terbuka di pangkuannya. Nina akan duduk di sampingnya, mendengarkan lantunan ayat yang dibaca pelan namun penuh ketenangan. Kadang mereka tak banyak bicara, tapi keheningan itu selalu terasa hangat.

Kini, kamar itu kosong dan tak berpenghuni.

Nina menarik napas panjang, berusaha menegakkan bahunya. Ia melangkah masuk dengan langkah yang ditahan, lalu berhenti sejenak di tengah kamar. Dadanya terasa sesak, tapi ia memaksa dirinya untuk tetap fokus.

Jangan sekarang, batinnya.

Ia mengalihkan pandangannya ke lemari pakaian milik Ayah Ali yang berdiri di sudut kamar. Nina melangkah mendekat, perlahan ia membuka pintunya. Begitu pintu lemari terbuka, aroma pengharum pakaian yang sering digunakan oleh ayahnya segera menyeruak.

Tangannya mulai bergetar saat memilih satu per satu pakaian yang akan dibawa. Kaus panjang yang longgar, celana kain, kemeja yang sering dipakai Ayah Ali untuk pergi ke masjid, jaket rajut kesayangannya, kaus kaki, hingga beberapa potong pakaian dalam. Semua dipilih dengan hati-hati.

Sesekali, Nina terhenti. Menatap pakaian di tangannya lebih lama dari yang seharusnya. Jemarinya meraba kain itu, lalu melipatnya kembali dengan rapi. Setiap lipatan dilakukan pelan dan hati-hati, sebelum akhirnya diletakkan ke dalam tas.

Nina melanjutkan membereskan tas hingga hampir penuh. Ia lalu menarik resletingnya perlahan. Bunyi lirih resleting yang menutup terdengar seperti penanda—bahwa sebagian kecil hidup Ayah Ali kini ikut dibawanya ke luar kamar itu.

Nina memastikan sekali lagi tak ada barang yang tertinggal, seolah khawatir satu kelalaian kecil bisa membuatnya kehilangan sesuatu yang tak tergantikan.

Ketika resleting tas itu hampir tertutup sepenuhnya, pandangan Nina kembali terhenti.

Di rak paling atas lemari, terlipat rapi sebuah peci hitam dan topi kupluk berwarna biru navy.

Nina menahan napas.

Peci hitam itu hampir selalu menemani Ayah Ali setiap kali salat berjemaah di masjid dekat rumah. Bahkan saat menghadiri pengajian kecil di kampung, peci itu tak pernah tertinggal. Ia seperti bagian dari diri Ayah Ali.

Sementara topi kupluk biru navy itu menyimpan kenangan yang berbeda. Nina teringat bagaimana Ayah Ali sering memakainya saat mengajaknya berjalan-jalan mengelilingi Kebun Teh Puncak Raya Bogor. Udara dingin, langkah pelan di antara hamparan hijau, dan tawa kecil Ayah Ali yang selalu muncul setiap kali Nina mengeluh kedinginan.

Tanpa berpikir panjang, Nina meraihnya.

Begitu peci hitam dan topi kupluk itu berada di genggamannya, dadanya seketika terasa sesak. Ada rasa rindu yang datang bersamaan dengan takut.

"Ayah..." bisiknya lirih. "Cepat sembuh, ya. Nina kangen..."

Peci hitam dan topi kupluk itu ia masukkan ke dalam tas, lalu resleting ditutup sepenuhnya.

Nina menyeka air matanya cepat-cepat, berusaha kembali tegar.

Dari ambang pintu, Pak Jaya berdiri memperhatikannya dengan tatapan lembut.

“Perlengkapan yang diminta sama Suster Farida sama baju kamu di tas sudah Pak Jaya taruh di bagasi mobil,” katanya pelan. “Kartu asuransi kesehatan sama KTP Pak Ali juga sudah Pak Jaya simpan.”

Nina mengangguk. “Iya, Pak. Terima kasih.”

Pak Jaya menghela napas singkat, lalu menatap Nina dengan nada hati-hati.

“Kita berangkat sekarang ya, Neng?”

Nina mengangguk mantap.

“Iya, Pak. Ayo kita berangkat.”

Sebelum benar-benar melangkah pergi, Nina menoleh kembali ke arah kamar itu. Pandangannya menyusuri setiap sudutnya untuk terakhir kali—ranjang yang rapi dengan selimut, lemari yang tertutup, sajadah dan Al-Qur'an yang masih setia terhampar di tempatnya.

Di dalam hatinya, Nina berjanji pada diri sendiri bahwa ia akan kembali ke kamar itu, bersama orang yang paling ia sayangi.

Perlahan, ia melangkah keluar. Tangannya meraih gagang pintu dan menutupnya dengan hati-hati, lalu menguncinya tanpa suara. Bukan sebagai tanda perpisahan, melainkan sebagai bentuk penjagaan dan penghormatan—menyimpan harapan agar suatu hari nanti, pintu yang sama akan kembali dibuka oleh tangan Ayah Ali.

Nina menghela napas panjang. Di benaknya, rindu dan cemas masih bercampur, namun kini ada tekad yang tumbuh di antaranya.

Ia berbalik menuju ruang tamu, di mana Pak Jaya sudah menunggu.

“Ayo, Pak. Kita ke rumah sakit sekarang,” ucapnya pelan, namun mantap.

Langkah mereka menyatu menuju pintu depan. Di luar, pagi Bogor menyambut dengan udara dingin yang lembut—seolah ikut mengiringi doa Nina dalam diam.

*****

Perjalanan menuju RS Azra disambut dengan keheningan antara mereka tanpa ada satu kata apapun. Sepanjang jalan, Nina hanya lebih banyak menatap keluar jendela mobil. Deteran pohon dan bangunan hanya di lewati begitu saja, seolah ia benar-benar tak nampak. Di dalam kepalanya, hanya ada satu nama yang sedang ia tunggu dan selalu berputar di kepalanya—Ayah Ali.

Tak terasa, perjalanan sunyi itu telah sampai di depan area parkir gedung rumah sakit. Begitu mobil berhenti, Nina menghela napas panjang. Bangunan yang bertembok warna krem, berdiri kokoh yang dingin dan beraroma antiseptik itu masih terasa asing, meski beberapa hari terakhir ia sudah begitu akrab dengannya.

Pak Jaya turun lebih dulu dari kursi kemudi, kemudian membuka bagasi dan mengeluarkan dua tas besar—milik Nina dan Ayah Ali, beserta perlengakapan yang diminta oleh Suster Farida. Nina ikut turun, meraih kedua tasnya dan menggenggamnya erat.

"Siap, Neng?" tanya Pak Jaya sambil menutup bagasi.

Nina mengangguk, "Siap, Pak."

Mereka melangkah masuk melewati lobi rumah sakit yang berseberangan dengan IGD. Suasana pagi di rumah sakit itu terlihat sudah mulai ramai.

Tepat di dekat pintu masuk, seorang perempuan berseragam hijau dengan hijab berwarna senada melangkah keluar dari salah satu ruangan sambil membawa map kecil. Begitu pandangannya bertemu Nina, wajahnya langsung berubah cerah.

"Oh, hai! Selamat pagi, Mbak Nina?" sapa Suster Farida ramah.

Nina menoleh cepat, "Oh! Hallo, Sus."

Suster Farida melangkah mendekat, lalu pandangannya beralih ke tas-tas besar yang dibawa Pak Jaya.

"Ini perlengkapan yang kemarin saya minta, ya?"

“Iya, Sus,” jawab Nina sambil sedikit menunjuk ke arah Pak Jaya yang memegang tas. “Semuanya sudah lengkap.”

“Alhamdulillah,” ucap Suster Farida sambil mengangguk. “Terima kasih banyak, Mbak Nina dan Pak Jaya.”

Ia melirik jam tangannya sekilas sebelum kembali menatap Nina.

“Hari ini Mbak Nina bisa ikut ke ruang ICU, ya.”

Jantung Nina berdegup lebih cepat.

“Iya, Sus, Boleh banget.” jawabnya mantap.

Suster Farida tersenyum tipis, nada suaranya dibuat lebih lembut.

“Katanya kangen Pak Ali, ya?”

Nina mengangguk pelan.

“Nanti ikut saya,” lanjut Suster Farida. “Kita bersih-bersih badan Pak Ali sebentar. Biar beliau tetap nyaman.”

Nina menelan ludah. Ada gugup yang menyelinap, tapi juga haru.

“Iya, Sus. Terima kasih.”

Mereka pun berjalan menyusuri lorong menuju ruang ICU. Lampu-lampu putih menyala terang di atas kepala, memantulkan bayangan langkah mereka di lantai yang mengilap. Pak Jaya berjalan sedikit di belakang, membiarkan Nina melangkah di samping Suster Farida.

"Tenang saja, Mbak," ujar Suster Farida sambil berjalan. "Banyak pasien yang merasa lebih tenang jika dirawat oleh keluarganya."

Nina mengangguk, menggenggam tangannya sendiri agar stabil.

Tepat di depan pintu ICU, langkah mereka terhenti. Udara di lorong terasa lebih dingin dari sebelumnya. Suster Farida meraih sebuah baki kecil di samping pintu, mengambil sepasang sarung tangan, masker, dan haircap, lalu menyerahkannya kepada Nina.

“Kita pelan-pelan saja, ya,” ucapnya menenangkan.

Nina menerima perlengkapan itu. Ia menarik napas panjang, seolah mengumpulkan keberanian yang tersisa, lalu mulai memakainya satu per satu. Masker menutupi setengah wajahnya, haircap merapikan rambutnya. Di balik semua itu, degup jantungnya terdengar semakin jelas di telinganya sendiri.

“Untuk pampers dan underpad,” lanjut Suster Farida, “...saya bawa masuk dulu ke dalam, ya.”

Nina mengangguk.

“Nanti biar perawat pria yang memakaikannya,” sambung Suster Farida dengan nada profesional. “Kalau sudah, baru kita bersihkan badannya. Itu bagian kita.”

Ucapan itu membuat Nina menelan ludah, tapi ia tetap mengangguk, berusaha terlihat tenang.

Suster Farida lalu menoleh ke arah lorong dan memanggil seorang perawat pria.

“Mas Faris…”

Seorang perawat berperawakan tinggi dengan seragam biru muda menoleh.

“Iya, Mbak Farida?”

“Tolong bantu pakaikan pampers dan underpad untuk pasien atas nama Bapak Ali Hamdani Rachman,” ujar Suster Farida jelas. “Bed deretan ketiga.”

“Siap, Mbak,” jawab Faris sambil mendekat.

Suster Farida kemudian menoleh ke arah Pak Jaya yang berdiri tak jauh dari mereka.

“Pak Jaya, pampers sama underpad yang kami minta, ada?”

“Oh, ini, Sus,” jawab Pak Jaya cepat sambil menyerahkan kedua benda itu. Tangannya tampak sedikit kaku, tapi gerakannya sigap.

Suster Farida menerimanya, lalu menyerahkan kembali pada Faris.

“Terima kasih, Pak.”

Faris mengangguk singkat dan segera masuk ke dalam ruang ICU membawa perlengkapan tersebut.

Nina berdiri terpaku di depan pintu ICU. Di balik kaca bening itu, ia melihat betapa cekatannya perawat pria tersebut menutup tirai pembatas, lalu mulai mempersiapkan tubuh Ayah Ali dengan gerakan yang terlatih dan hati-hati.

Lihat selengkapnya