Sebelum Waktu Berhenti

Tasya Syafitri
Chapter #14

Bab 13 - Love Daugther, Love Father

Movie Date with Ayah Ali at hospital

Setelah tiga hari lalu dirawat di ruang ICU, kondisi Ayah Ali akhirnya menunjukkan perkembangan yang stabil. Pagi ini, beliau sudah dipindahkan ke ruang rawat inap biasa Kelas I, kemarin.

Tak ada lagi bunyi mesin elektrokardiogram yang saling bersahutan, tak ada lampu putih yang menyilaukan mata. Yang tersisa hanyalah suara langkah perawat yang sesekali melintas, roda brankar yang berdecit pelan menyusuri lorong, serta sinar matahari yang masuk malu-malu lewat sela-sela jendela.

Usai salat subuh, Nina menggeser kursi lebih dekat ke ranjang ayahnya. Dengan bantuan Smart TV milik RS Azra yang menyediakan layanan streaming OTT, mereka memilih menonton Miracle in Cell No. 7 versi Indonesian remake. Sebuah film yang, entah kenapa, terasa begitu dekat dengan hati mereka pagi itu.

Selama film itu tayang, air mata Nina sudah menggenang. Ayah Ali pun tak jauh beda. Tatapannya tertuju pada layar, meski sesekali ia mengusap sudut matanya, pura-pura sekadar menguap.

Di beberapa adegan, tawa mereka pecah melihat tingkah konyol anggota Geng Sel No. 7—Atmo, Japra, Jaki, Bule dan Bewok yang kerap mem-bully Dodo Rozak dengan candaan kasar dan kelakuan mereka yang menyeleneh.

Namun di balik kekonyolan itu, ada kebersamaan yang perlahan tumbuh. Mereka mungkin sering mengejek, tetapi di saat genting, merekalah yang berdiri paling depan—bersatu untuk membebaskan Dodo Rozak dari tuduhan keji yang menjeratnya. Tuduhan pembunuhan dan pelecehan seksual atas nama Melati Wibisono. Tuduhan yang benar-benar bukan ia perbuat.

Hingga tiba di adegan terakhir.

Tangis Nina pecah tanpa bisa ditahan ketika Dodo Rozak dipaksa mengakui kejahatan yang tak pernah ia lakukan di ruang persidangan. Lebih menyakitkan lagi, perpisahan dengan putri satu-satunya—Ika Kartika Rozak, harus berakhir di balik jeruji besi. Dodo Rozak divonis hukuman mati dan akan dikirim ke Nusakambangan.

Ayah Ali terisak. Bahunya naik turun, napasnya bergetar. Nina menoleh, mendapati mata ayahnya yang basah, merah, penuh luka yang tak terucap.

“Kok… tega banget ya, Nak…” suara Ayah Ali parau, hampir tak terdengar.

Ia menelan ludah, mencoba menenangkan dirinya sendiri.

“Tega banget Bapak Dodo dipaksa ngaku jadi pelakunya, sama bapaknya Melati…”

Nina menggenggam tangan ayahnya lebih erat.

“Ayah enggak tega lihat perpisahan Kartika sama Bapak Dodo,” lanjut Ayah Ali lirih.

“Terlalu menyakitkan. Apalagi bapaknya dijatuhi hukuman mati… buat sesuatu yang enggak pernah dia lakuin.”

Ia terdiam sejenak, menatap layar yang kini menampilkan kredit penutup. Namun pikirannya tertinggal di adegan itu.

“Tapi, Nak…” Ayah Ali kembali bersuara. “Meskipun Bapak Dodo ini disabilitas down syndrome, cintanya ke anaknya enggak ada batasnya. Tak terhingga. Semua dia lakuin demi Kartika.”

Ayah Ali menoleh pada Nina. Tatapan itu lembut dan membuat dada Nina sesak.

“Begitu pun juga cinta Ayah ke kamu, Nak.”

Air mata Nina jatuh tanpa permisi. Ia menunduk, mendekat dan menyenderkan kepalanya di pundak Ayah Ali.

Bahu itu tak lagi setegap dulu, namun hangatnya masih sama. Masih menenangkan.

"Aku tahu, Yah..." katanya terisak. "Nina bersyukur banget, akhirnya kita bisa quality time sambil nonton film begini. Meskipun di rumah sakit."

Ayah Ali tersenyum kecil.

“Yang penting,” Nina melanjutkan dengan suara gemetar, “...kita masih bisa sama-sama, kan, Yah?”

Ayah Ali mengangguk pelan. “Benar, Nak.”

Namun tiba-tiba tenggorokannya terasa gatal. Batuk kecil lolos dari dadanya, disusul tarikan napas yang sedikit lebih berat. Nina refleks menegakkan tubuhnya, wajahnya seketika berubah menjadi cemas. Ia segera meraih gelas air putih di meja samping ranjang dan menyodorkannya ke bibir ayahnya.

“Minum dulu, Yah…” ucapnya cepat, tapi tetap lembut.

“Pelan-pelan.”

Ayah Ali menyesap air putih itu perlahan. Nina menahan gelasnya dengan kedua tangan, memastikan tidak ada setetes pun tumpah. Matanya tak lepas dalam mengawasi gerak-gerik ayahnya, seolah memastikan bahwa setiap tarikan napas yang digunakan untuk minum aman.

Usai minum dan batuknya reda, Ayah Ali menghela napas panjang.

"Maaf, bikin kamu panik lagi."

Nina menggeleng cepat, "Enggak dong, Yah. Justru Nina senang kali ini bisa ngerawat Ayah."

Ayah Ali mengusap kepala Nina dengan gerakan lembut dan penuh kasih.

"Bagaimana kerjaan kamu di Jakarta, Nak?"

Nina tersenyum kecil.

Senyum lelah yang disembunyikan di balik ketenangan.

"Alhamdulillah, aman dan lancar, Yah," jawabnya.

“Kemarin Nina sempat ribut sedikit sama klien Indonesia Timur. Mereka mau mengakali penggandaan biaya PPN pembangunan internet wilayah NTT dan NTB yang enggak sesuai sama kontrak kerja dan PO-nya.”

Ayah Ali mengangkat alis, tertarik.

“Kok bisa?”

“Nina kasihan lihat Bu Fitri, Pak Arya, dan rekan-rekan kerja Nina lainnya di bentak sama klien,” lanjut Nina.

“Mereka disalahkan, ditekan, bahkan hampir dikorbankan. Padahal jelas-jelas bukan salah mereka.”

Ia menarik napas pendek.

“Akhirnya Nina gertak klien itu, Yah. Nina bilang, kalau masih memaksa, Nina enggak akan ragu bawa kasusnya ke Polda Metro Jaya.”

Ayah Ali terdiam sejenak, lalu tersenyum bangga.

“Wah… sampai segitunya, kah?” katanya pelan. “Hebat anak Ayah.”

Ia menepuk tangan Nina lembut.

“Berani membela kebenaran.”

Nina menunduk, sedikit malu.

“Kan Ayah yang selalu ngajarin Nina,” ujarnya lirih.

“Tegas kalau kita benar. Berserah diri kalau kita salah.”

Ayah Ali mengangguk. Tatapannya teduh.

“Terus, habis rapat begitu, kamu ngapain?”

Nina terkekeh kecil, meski matanya berkaca-kaca.

“Ya ke rumah sakit, lah, Yah. Dengar Ayah pingsan di rumah, muntah darah, masuk IGD, koma tiga hari…” suaranya melemah.

“Emangnya aku enggak panik kayak orang gila?”

Ia menelan ludah, dadanya terasa sesak ketika berusaha mengingat kejadian itu.

“Nina merasa bersalah waktu dengar kabar itu. Takut… takut banget.”

Ayah Ali menggenggam tangan Nina, seolah ingin menenangkan putrinya sebelum benar-benar runtuh.

Lihat selengkapnya