Sebelum Waktu Berhenti

Tasya Syafitri
Chapter #15

Bab 14 - Awal Mula Peran Yang Tertukar

Capek, enggak?

Usai menjalani pemeriksaan dari visit Dokter Shinta dan Suster Farida, pagi ini Nina kembali tenggelam dengan rutinitas barunya yang semakin padat. Sebagai anak yang dekat dengan ayahnya, ia menyiapkan keperluan Ayah Ali untuk membersihkan tubuh dengan cekatan—kaus lengan panjang berwarna abu-abu, celana kain, pakaian dalam, handuk kering, sabun cair, hingga sampo. Semua ia susun rapi di kamar mandi khusus pasien.

Di sela-sela itu, layar laptop di atas meja kecil masih setia menyala. Beberapa file Microsoft Excel yang berisikan laporan keuangan terbuka lebar, notifikasi Whatapps masuk silih berganti. Sesekali, Nina melirik layar laptopnya. Takut juga ada kabar penting dari kantor, meskipun pekerjaannya sudah di-handle oleh tim Finance disana—Danu, Sarah, Rudi dan Shanti.

Meskipun kali ini pikirannya terbelah antara merawat ayahnya dan kerjaan, Nina tidak melalaikan tanggung jawabnya dengan jabatan barunya sebagai Finance Supervisor yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja.

Ayah Ali yang sedang bersantai di atas ranjang, memperhatikan semua itu diam-diam. Tatapannya fokus mengikuti langkah Nina yang bolak-balik dari kamar mandi ke meja kerja, dari ranjang ayahnya ke laptop. Tanpa jeda yang benar-benar bisa disebut istirahat.

"Nina..." panggilnya pelan. "Istirahatlah dulu, Nak..."

Nina menoleh, lalu tersenyum kecil.

“Enggak usah dipikirin, Yah,” katanya ringan. “Ayah duduk manis aja. Nanti kalau airnya sudah siap, kita ke kamar mandi.”

Ayah Ali tidak langsung menjawab. Ia menghela napas pelan, lalu menatap wajah putrinya lebih lama dari biasanya.

"Kamu capek enggak, Nak?"

Nina tertawa kecil. Cepat-cepat ia menutup laptopnya, "Ah, enggak kok, Yah. Biasa itu, mah."

Kalimat yang dilontarkan oleh Nina begitu santai dari mulutnya.

Padahal dalam hatinya, pundaknya terasa berat dan pegal, matanya terasa perih karena kurang tidur, dan rasa sesak di dada yang di hantui oleh rasa panik yang belum benar-benar pergi sejak Ayah Ali terbaring tak berdaya di rumah sakit.

Namun, semuanya tak boleh terlihat.

Ia harus kuat...

Bukan karena ia tidak lelah.

Saat ini, ia tahu bahwa Ayah Ali jauh lebih membutuhkannya.

Nina tidak ingin ayahnya menjadi beban.

Ia tidak ingin menampakkan rasa takutnya terhadap Ayah Ali.

Mendengarkan keluh kesahnya yang justru bisa membuatnya semakin rapuh.

Maka, Nina memilih diam.

Memendam.

Menjadi penopang, meskipun tubuhnya gemetar.

Agar tatapan ayahnya tak semakin lama membaca kebohongannya, Nina bangkit dari meja kerja dan melangkah mendekat ke ranjang.

"Air sudah siap, Yah," ucapnya lembut. "Yuk, kita bersih-bersih."

Ia berdiri lebih dulu. Dengan hati-hati, Nina membuka selimut, mengangkat kaki ayahnya satu per satu agar bisa menapak lantai yang dingin. Setelah itu, ia menggeser tiang infus sedikit menjauh, memastikan selangnya tidak tertarik.

“Bisa berdiri, Yah?” tanyanya pelan.

Ayah Ali mengangguk, meski keraguan masih tampak jelas di sorot matanya.

“Yakin bisa?” Nina menatap wajah ayahnya, memastikan.

“Coba… Ayah angkat pelan-pelan,” jawab Ayah Ali. Suaranya sedikit tertahan.

Nina kembali menggeser tiang infus, memberi ruang yang cukup untuk ayahnya berdiri. Ia memposisikan dirinya di sisi kiri, satu tangannya menyangga lengan ayahnya, satu lagi bersiap menopang pinggangnya.

“Bismillah,” bisiknya. “Pelan-pelan aja, Yah.”

Dalam hati, Nina menghitung setiap gerakan, menyesuaikan langkah dengan tarikan napas ayahnya.

Satu…

Dua…

Tiga…

Tubuh Ayah Ali terangkat perlahan dari ranjang. Namun baru saja berdiri, tubuh itu sempat terhuyung. Refleks, kepalanya bersandar di bahu Nina. Bebannya terasa berat, membuat dada Nina menegang seketika.

“Kenapa, Yah?” tanyanya cemas.

“Enggak apa-apa, Nak,” jawab Ayah Ali cepat. “Ayah cuma perlu menyesuaikan badan aja. Kaki masih gemetar sedikit.”

“Mau aku ambilin kursi roda?” tawarnya spontan.

Ayah Ali menggeleng pelan, “Enggak usah. Jarak toiletnya dekat. Ayah masih bisa jalan.”

Nina mengangguk, meski kekhawatiran belum sepenuhnya reda. “Oke, Yah. Tapi jangan dipaksain. Kalau pusing, bilang ya.”

Ayah Ali tersenyum kecil, berusaha menenangkan. “Iya, Nak.”

Mereka melangkah perlahan, sangat perlahan. Lalu berhenti. Nina memberi waktu ayahnya menyesuaikan diri, tak membiarkan langkah itu dipaksakan. Lengannya mulai pegal saat memapah, punggungnya menegang, namun tak satu pun keluhan keluar dari bibirnya.

Ia tahu, Ayah Ali justru menahan rasa sakit yang jauh lebih besar.

Momen hari ini, Nina sadar :

Bahwa ini bukan sekedar membantu ayahnya berjalan ke kamar mandi.

Ini tentang peran yang tertukar.

Tentang peran yang menjadikan seorang anak yang belajar menahan semuanya sendiri, demi memastikan orang tuanya tetap merasa aman.

Dan Ayah Ali menyadari satu hal :

Anak kecil yang dahulu ia sering tuntun belajar berjalan, kini berdiri menopangnya agar tetap tegak.

Langkah mereka lambat, tapi mereka tetap berjalan.

Saat tiba di ambang pintu kamar mandi, Nina bergerak lebih sigap. Ia lebih dulu menggeser tiang infus, memastikan selangnya tidak tersangkut apa pun. Lantai kamar mandi tampak sedikit basah, memantulkan cahaya lampu dengan kilap tipis yang membuatnya waspada.

“Pelan-pelan, Yah. Awas licin,” ucap Nina, sambil menahan tubuh ayahnya agar tetap seimbang.

Ayah Ali mengangguk pelan. Genggamannya di lengan Nina menguat, seolah lengan itu kini menjadi satu-satunya pegangan yang ia percaya.

Langkah mereka masuk ke kamar mandi terasa jauh lebih lambat dari jarak sebenarnya.

“Nah… duduk di sini dulu, Yah,” Nina menuntun Ayah Ali ke tepi kloset duduk, memastikan punggungnya bersandar dengan aman.

Ayah Ali menuruti. Napasnya terdengar sedikit lebih berat, tapi ia berusaha tersenyum.

“Tangannya jangan goyang ya, Yah,” Nina berujar lembut.

“Tiang infusnya Nina taruh di pojokan dulu.”

Ia meletakkan posisi tiang infus di sudut yang aman, lalu kembali berdiri di depan ayahnya. Kedua tangannya sigap—satu menopang bahu, satu lagi memastikan kaki ayahnya menapak lantai dengan mantap.

"Kalau pusing, bilang ya, Yah? Jangan diem aja," bisiknya.

Ayah Ali mengangguk lagi, "Iya, Nak."

Nina melangkah ke wastafel, memutar keran air hangat hingga mengalir pelan. Uap tipis naik, membawa kehangatan yang menenangkan. Ia meraih handuk kecil di sisi wastafel, membasahinya, lalu memerasnya perlahan.

"Kita cuci muka sama basuh leher dulu ya, Yah," ucapnya lembut.

Ayah Ali menangguk pelan.

Nina kembali ke hadapannya. Dengan gerakan hati-hati, ia menyeka wajah ayahnya—dari dahi, turun ke pipi lalu ke dagu. Air hangat itu diibaratkan sebagai pembawa pergi sisa lelah yang menempel sejak pagi.

Ayah Ali memejamkan mata, membiarkan putrinya melakukan semuanya.

Lalu, perlahan ia mengusap leher ayahnya. Gerakan berpindah dari satu sisi ke sisi lain. Namun, tangannya berhenti sejenak saat merasakan kulitnya terasa lebih dingin dari biasanya.

"Kedinginan, Yah?" tanyanya lirih.

"Enggak," jawab Ayah Ali cepat. "Hangat, kok."

Meski begitu, Nina tetap memperlambat gerakannya. Ia ingin memastikan ayahnya benar-benar nyaman. Dengan sabar, ia menepuk-nepukkan handuk itu perlahan, mengeringkan wajah dan leher Ayah Ali sebelum melipatnya rapi.

“Kita sekarang keramasan, ya?” ucap Nina lembut, berusaha mencairkan suasana.

Ia tersenyum kecil, “Rambut Ayah bau apek soalnya.”

Ayah Ali terkekeh pelan, “Tega banget kamu, Nak.”

Nina ikut tertawa, “Dulu… Ibu kan paling cerewet kalau Ayah habis berkebun, masuk rumah enggak langsung keramas.”

Ayah Ali terdiam sejenak, lalu tersenyum samar. “Iya… Ibumu memang paling bawel kalau urusan rambut.”

Nina menuangkan shampo secukupnya ke telapak tangan. “Apalagi Ayah sempat koma di ICU dan belum keramasan, kan?”

“Iya,” sahut Ayah Ali pelan. “Tiga hari berbaring terus, tiba-tiba keramasan… rasanya aneh tapi enak.”

Nina mulai membasahi rambut ayahnya dengan shower. Busa tipis terbentuk saat jemarinya bergerak perlahan di kulit kepala.

“Kepala jadi adem,” lanjut Ayah Ali lirih. “Seger, Nak.”

Nina tersenyum tipis, "Kalau Ibu masih ada, pasti dia senang."

Ayah Ali memejamkan mata. Bahunya mengendur sedikit, "Benar, Nak. Ibu Laras pasti bangga punya anak seperti kamu."

Tangan Nina berhenti sejenak. Kalimat itu menyentuh sesuatu yang rapuh di dadanya—menyebut nama Ibunya. Ia menarik napas pelan, menahan keharuan agar tak jatuh menjadi air mata. Lalu, dengan lembut, ia kembali memijat kulit kepala ayahnya.

Aroma sampo menyebar, memenuhi ruang kecil kamar mandi dengan wangi bersih yang menenangkan. Nina membilas rambut Ayah Ali hingga bersih, memastikan tak ada sisa busa yang tertinggal.

Ketika ia mematikan shower, Nina menyeka rambut ayahnya dengan handuk kering, menepuk-nepuk perlahan.

“Udah, Yah,” katanya lembut. “Bersih.”

Ayah Ali mengangguk pelan, matanya masih terpejam. Napasnya terdengar lebih teratur.

Nina menurunkan handuk itu dan meletakkan di sisi wastafel. Lalu, ia berjongkok di sisi ayahnya, meraih kedua tangannya yang terasa dingin di genggamannya.

Ia mengusap punggung tangannya, mencoba menyalurkan kehangatan.

"Dingin, Yah?" tanyanya.

"Sedikit," jawab Ayah Ali jujur.

Nina mengangguk dan berdiri kembali, meraih handuk yang terletak di sisi lain dan menyelimutkannya sebentar di bahu ayahnya, agar tak ingin membuatnya menggigil. Setelah itu, barulah ia menatap wajah Ayah Ali mendalam dengan penuh kehati-hatian.

"Sekarang," ucapnya pelan, "Bajunya dilepas dulu ya, Yah?"

Ia menahan jeda sejenak, memberi ruang agar ayahnya tak merasa tergesa.

Lihat selengkapnya