"Selamat pagi Pak Ali, Mbak Nina..." sapa perawat muda itu ramah sambil mendorong troli makanan ke dalam kamar rawat inap.
Ia menghentikan troli di dekat pintu, lalu menata penutup sajiannya dengan rapi.
"Ini ada sarapan khusus untuk Bapak, rendah garam dan gula. Yang satu lagi untuk pendamping pasiennya."
Perawat muda itu tersenyum, "Maaf menganggu waktu istirahat kalian."
Kemudian, ia mengangguk sopan, "Saya izin pergi dulu..."
“Baik… terima kasih banyak, Mbak,” jawab Nina pelan.
Ia menghampiri troli makanan itu, lalu mendorongnya perlahan agar rodanya tak berdecit dan membangunkan Ayah Ali yang masih terlelap. Setelah itu, Nina menarik troli mendekat ke sisi ranjang, lalu menoleh ke wajah ayahnya yang kini sedikit lebih pucat, dengan semburat kekuningan yang tak bisa disembunyikan cahaya pagi.
"Ayah..." Nina menyentuh lengan Ayah Ali dengan lembut.
"Sarapan sudah siap. Yuk makan."
Ayah Ali membuka mata perlahan. Ia berkedip beberapa kali, menyesuaikan pandangan. Begitu matanya menangkap troli makanan di samping ranjang, raut wajahnya langsung berubah.
"Bubur maning... bubur maning..." gumamnya sambil memasang muka malas.
"Ya Allah... kenapa sih menunya bubur hambar lagi?"
Melihat Ayah Ali cemberut seperti anak kecil, Nina pun ikut mengerucutkan bibirnya.
“Terus Ayah mau makan apa?” katanya datar.
“Ini memang porsinya orang sakit, Yah.”
Ia menyilangkan tangan di dada, menatap ayahnya tanpa kompromi.
“Ayah mau cepat sembuh, enggak?”
Ayah Ali terdiam.
Waduh… ini anak lebih galak dari Laras, batinnya.
Untung Nina anak saya.
Ia menahan senyum kecil yang nyaris lolos. Ada rasa hangat yang menyelinap di dadanya.
"Iya... Iya... Ayah makan," ujarnya, akhirnya menyerah.
"Yeay.... Gitu dong, Yah!" seru Nina, wajahnya langsung berubah cerah.
Nina segera bergerak. Di atas troli, makanan khusus untuk ayahnya tersusun sederhana: bubur tawar, sayur sop bening, tahu kukus, dan bola-bola kecap. Di sampingnya, segelas air putih dan teh tawar hangat menunggu. Di sudut nampan, beberapa obat pagi terselip rapi—harus diminum setelah makan.
Sementara itu, makanan untuk pendamping pasien tampak jauh lebih menggoda: mi goreng seafood lengkap dengan jus semangka segar. Ayah Ali meliriknya sekilas, lalu segera memalingkan wajah.
Duh, mie gorengnya enak banget.
Kalau diam-diam nyicipin, yang ada saya kena omel Nina lagi.
Ia membuka plastic wrap satu per satu, mengaduk bubur perlahan, menuangkan sedikit kuah sayur sop agar tak terlalu kering, lalu memotong setengah bola-bola kecap.
Setelah itu, ia menyendokkan satu suapan kecil dan mendekatkannya ke mulut ayahnya.
"Buka mulutnya, Yah... aaaaaaa...."
Ayah Ali menerima suapan itu tanpa protes. Rasanya tetap hambar, sama seperti yang ia keluhkan sejak kemarin. Namun kali ini, ia tak mengerutkan kening. Ia menelan perlahan, lalu mengangguk kecil.
"Rasanya memang hambar," katanya jujur.
Nina langsung melirik, siap membalas dengan ceramah.
“Tapi…” Ayah Ali melanjutkan, tersenyum tipis,
“...kalau anak Ayah yang nyuapin, tetap enak dimakan, kok.”
Nina terdiam sejenak, lalu mendengus pelan untuk menutupi matanya yang tiba-tiba terasa panas.
"Ayah bisa aja," gumamnya, lalu kembali menyendokkan bubur.
Suapan demi suapan masuk dengan ritme pelan. Saat ini, Ayah Ali mulai terbiasa dengan rasa hambar itu—mungkin, ia hanya sedang belajar menerima keadaan. Di antara sendok dan jeda napas, ia menatap Nina yang setia di sisinya.
"Terima kasih, Nina..." ucapnya lirih.
"Bukan hanya nyuapin Ayah makan. .. tapi buat Ayah belajar pasrah sama keadaan."
Nina menunduk.
"Bukan hanya pasrah, Yah..." katanya lembut.
"Tapi disini Ayah tahu... kalau Ayah enggak menghadapi semuanya sendirian."
Ayah Ali mengangguk pelan. Hening sejenak menyelimuti kamar rawat inap itu, sebelum akhirnya membuka suara lagi.
“Tapi… maaf ya,” katanya hati-hati.
“Ayah bikin kamu panik pas lagi kerja.”
Nina mengangkat wajahnya, hendak menyela, tapi Ayah Ali lebih dulu melanjutkan.