Sebelum Waktu Berhenti

Tasya Syafitri
Chapter #17

Bab 16 - Pemeriksaan Penunjang Tiba

USG Abdomen - Day 1

Rabu, 15 Mei 2025 | 09.05

Hari yang selama ini ditunda akhirnya tiba.

Hari yang tak lagi bisa Ayah Ali hindari.

Bukan semata disebabkan tubuhnya semakin keras memberi isyarat—kulit yang menguning, kelelahan yang tak kunjung pergi, dan nyeri samar di perut kanan atas, melainkan karena keinginann sendiri untuk tahu. Seberapa parah kondisi yang selama ini ia pendam, ia sangkal dan abaikan.

Pagi itu di ruang rawat inap yang sama, Ayah Ali bersiap menjalani pemeriksaan USG abdomen dan CT scan kontras di hari yang sama. Sejak habis isya kemarin, ia berpuasa sesuai prosedur. Tidak boleh, tidak boleh minum.

Perutnya terasa kosong, kepalanya sedikit pusing, dan tubuhnya lemas. Namun Ayah Ali tak mengeluh. Ia hanya rebahan tenang di ranjang, ditemani oleh Nina yang berdiri di sampingnya kini sibuk mengoleskan pelembab ke wajah ayahnya.

"Kamu ada-ada aja deh, Nak..." keluh Ayah Ali lirih. "Mau USG sama CT scan aja ribet banget pake pelembab segala."

Nina tersenyum kecil tanpa menghentikan gerakannya, "Kan ruangannya dingin banget, Yah. Jadi, Kulit Ayah nanti ketarik, jadi enggak nyaman, deh.”

Ia menepuk-nepuk pelan pipi Ayah Ali, lalu mundur selangkah.

“Nah! Selesai.”

Belum sempat Ayah Ali menghela napas lega, Nina kembali merogoh tas kecil di sisi meja ranjang.

Ayah Ali mengernyit. “Kamu ngapain lagi sih, Nak?”

“Nyari lip balm. Buat Ayah.”

Ayah Ali spontan menepuk jidatnya sendiri. “Astaghfirullah, Ninaaa…”

“Ayah ini laki-laki, lhooo…”

Nina mendengus kesal sambil akhirnya menemukan benda kecil itu.

“Hishhh… biar bibir Ayah nggak kering, lah. Kan habis puasa dari semalam, Yah.”

Tanpa menunggu izin, ia mengoleskan tipis lip balm ke bibir ayahnya. Ayah Ali hanya bisa pasrah, lalu tertawa kecil.

"Kamu ini..." gumamnya. "Kayak Ibumu... Detail banget."

Nina terdiam sejenak.

Tangannya berhenti di udara. Dadanya terasa menghangat sekaligus perih, seperti ada kenangan yang disentuh tanpa aba-aba. Ia menelan ludah, lalu tersenyum.

"Ayah..." kata Nina lirih. "Ayah kangen sama Ibu, ya?"

Ayah Ali mengangguk kecil, "Iya..."

Matanya menatap langit-langit kamar, seolah di sana tersimpan wajah yang tak lagi bisa ia lihat.

“Tiap mau hal penting begini,” lanjutnya pelan, “Ayah selalu kepikiran dia.”

Nina menggenggam punggung tangan ayahnya,“Kalau kangen, doain aja, Yah,” ujarnya lembut.

“Sekarang fokus sama pengobatan. Aku di sini.”

Belum sempat Nina menjawab, pintu kamar diketuk pelan.

"Assalamu'alaikum..." suara pria tua itu terdengar dari balik pintu.

"Neng Nina... Pak Ali..."

Nina refleks menoleh dan segera bangkit membuka pintu.

Ia membuka pintu tersebut, dan di ambang itu terlihat sosok tak asing baginya—Pak Jaya, asisten Ayah Ali yang kini datang membawa sebuah parsel buah-buahan yang cukup besar.

“Wah…” ujarnya sambil tersenyum hangat. “Sudah lama Pak Jaya nggak nengok Pak Ali, Neng.”

Ia melangkah masuk perlahan. Pandangannya tertuju pada Ayah Ali di ranjang.

“Ayahmu bagaimana kabarnya, Neng?”

Nina tersenyum sopan.

“Alhamdulillah, sudah mendingan, Pak. Tapi makannya masih harus dijaga.”

Pak Jaya mengangguk paham.

“Iya… iya. Penyakit dalam memang enggak bisa sembarangan.”

“Sekarang Ayah lagi jalanin pemeriksaan penunjang,” lanjut Nina. “Hari ini USG perut, habis itu CT scan.”

Pak Jaya tampak menarik napas panjang.

“Oh… dua-duanya hari ini, ya.”

Nina mengangguk.

“Sebenarnya masih ada dua lagi, Pak. Biopsi hati dan endoskopi.”

Kalimat itu menggantung di udara.

Pak Jaya terdiam sejenak. Raut wajahnya berubah serius. Ia melirik Ayah Ali, lalu kembali menatap Nina.

“Insya Allah, semua dilancarkan,” ucapnya akhirnya. “Yang penting sekarang Ayahmu ditangani dengan benar.”

Nina mengangguk, berusaha menahan getar di suaranya.

“Doakan saja, Pak… semoga hasilnya tidak ada yang memburuk.”

Kemudian, Pak Jaya menyerahkan parsel buah itu ke Nina.

“Ini saya bawa sedikit oleh-oleh buat Pak Ali. Tapi makannya pilih-pilih ya, Neng.”

Nina menunduk melihat isi parsel itu—anggur, apel, jeruk, dan pir. Buah-buahan yang selama ini menjadi kesukaan ayahnya. Hatinya menghangat sekaligus perih. Kini, bahkan hal sesederhana memilih buah pun harus dilakukan dengan penuh pertimbangan.

Ia menerima parsel itu dengan dua tangan.

“Oh iya… terima kasih banyak, Pak. Ayah pasti suka.”

Pak Jaya tersenyum kecil.

“Yang penting Ayahmu senang, tapi makannta tetap dijaga ya, Neng.”

Nina mengangguk.

“Mari, Pak. Silakan masuk.”

Ia menyingkir sedikit, memberi ruang bagi Pak Jaya untuk melangkah masuk. Di dalam, Ayah Ali yang sejak tadi bersandar di ranjang menoleh ke arah mereka, menyambut kedatangan sahabatnya dengan senyum hangat.

“Ayah, Pak Jaya datang,” ujar Nina sambil meletakkan parsel buah di sisi meja ranjang. “Bawa oleh-oleh buat Ayah.”

Pak Jaya segera mendekat.

“Assalamu’alaikum, Pak Ali,” sapanya riang. “Wah, kelihatan segar hari ini!”

“Wa’alaikumsalam, Jaya…” Ayah Ali terkekeh pelan. “Kamu ini. Bawa oleh-oleh segala. Padahal rumah kamu sama rumah saya juga dekat.”

Pak Jaya tersenyum lebar.

“Justru karena dekat, Pak. Biar silaturahminya panjang.”

Ayah Ali melirik Nina, lalu kembali menatap Pak Jaya.

“Jaya, tahu nggak?”

“Apa tuh, Pak?”

“Saya habis didandanin sama Nina. Padahal cuma mau pemeriksaan doang.”

Pak Jaya ikut melirik ke arah Nina. Nina hanya mengangkat bahu sambil tersenyum kecil.

“Biar Ayah tetap ganteng, Pak.”

Ayah Ali menggeleng pelan, senyumnya tak lepas.

Lihat selengkapnya