Sebelum Waktu Berhenti

Tasya Syafitri
Chapter #18

Bab 17 - Di Balik Cahaya Mesin

CT Scan Kontras - Day 2

Rabu, 15 Mei 2025 | 11.15

Para perawat bersama Suster Farida mendorong brankar Ayah Ali keluar dari ruang pemeriksaan USG. Begitu melihat ayahnya, Nina segera menghampiri. Tangannya langsung menggenggam tangan Ayah Ali dengan erat, seolah ingin memastikan lelaki cinta pertamanya itu benar-benar baik-baik saja.

"Gimana pemeriksaan USG-nya, Yah? Lancar?" tanyanya, nada cemasnya tak sepenuhnya bisa disembunyikan.

Ayah Ali tersenyum—senyum yang sengaja diukir demi menenangkan putrinya.

"Alhamdulillah... lancar, Nak," ujarnya.

"Enggak ada apa-apa. Jangan khawatir berlebihan,” jawabnya pelan.

Pak Jaya yang berdiri di sisi brankar ikut menepuk pundak Ayah Ali dengan wajah lega.

“Alhamdulillah, Pak. Semoga hasilnya nanti baik.”

“InshaAllah, Jay,” sahut Ayah Ali. “Mohon doanya, ya. Masih ada CT-scan yang harus saya jalani.”

Ucapannya terdengar tenang, meski Nina tahu betul Ayah Ali sedang menahan lelah dan rasa waswas.

Kini, mereka sedang menunggu giliran untuk peosedur CT scan. Waktu berjalan terasa lebih lambat, seolah sengaja memperpanjang waktu antara satu kekhawatiran ke kekhawatiran yang berikutnya.

Nina menyadari perubahan ekspresi di wajah ayahnya—lebih banyak diam, sambil menatap langit-langit lorong.

Tak ingin suasana semakin berat, tiba-tiba Nina menggelitik punggung tangan Ayah Ali perlahan, lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

“Cilukba!”

Ia membuka kembali tangannya dengan ekspresi ceria.

Ayah Ali tergelak kecil, meski dadanya terasa berat, “Aduh… anak Ayah yang satu ini. Masih saja jahil di saat begini.”

Putrinya tertawa kecil. Belum puas, ia berjongkok perlahan dan menghilang dari brankar, bersembunyi dengan gerakan hati-hati.

Dari bawah, suaranya terdengar tertahan.

"Ayah... coba tebak Nina ada dimana?"

Ayah Ali menoleh ke kanan dan ke kiri, gerakannya pelan, matanya menyipit pura-pura mencari.

"Hhhhmmm... jangan-jangan ngumpet di kolong meja?" ujarnya, ikut larut dalam permainan sederhana itu.

Tiba-tiba, Nina muncul dari bawah brankar dengan wajah usil nan konyol.

“Wleee!”

Ayah Ali menghela napas panjang, lalu tertawa kecil, suara tawanya pecah pelan di lorong rumah sakit yang sunyi.

“Duh… bisa-bisanya kamu ngajak main petak umpet di rumah sakit.”

Nina berdiri, merapikan selimut ayahnya, lalu kembali menggenggam tangan Ayah Ali. Kali ini genggamannya lebih lembut, lebih tenang.

“Biar Ayah tetap semangat dong!” Nina terkikik.

Pak Jaya yang sejak tadi memperhatikan hanya bisa tersenyum.

“Wah, Pak Ali enak banget ya. Ada Nina yang selalu bikin suasana jadi ceria.”

Nina ikut tersenyum, namun di balik itu ia menyimpan kegelisahan yang rapat-rapat ia sembunyikan. Ia tahu, CT scan bukan sekadar prosedur biasa. Ada banyak kemungkinan yang berputar di kepalanya—hal-hal yang kemungkinan belum siap ia dengar. Tapi untuk saat ini, satu hal yang pasti: ia ingin ayahnya merasa aman.

Tak lama kemudian, seorang perawat menghampiri mereka.

“Pak Ali, kita akan segera melakukan pemeriksaan CT scan. Mohon bersiap, ya.”

Nina menoleh ke arah Ayah Ali, lalu menggenggam tangannya lebih erat.

“Ayah, semangat ya. Nina tunggu di luar.”

Ayah Ali mengangguk kecil. Senyum hangat terbit di wajahnya.

“Iya, Nak. Doakan Ayah.”

Para perawat mulai mendorong brankar Ayah Ali menuju ruang CT scan. Roda brankar berdecit pelan, seolah menggiringi langkah mereka memasuki ruang yang dingin dan sunyi.

Nina berdiri mematung di depan pintu, menatap kaki ayahnya hingga menghilang di balik daun pintu yang perlahan menutup.

Sementara itu, ia bersama Pak Jaya hanya bisa menunggu di luar. Dalam diam, Nina merapatkan kedua telapak tangannya, memejamkan mata.

Dalam hatinya, ia berdoa—semoga pemeriksaan CT scab ini membawa jawaban yang menenangkan, bukan kabar yang selama ini ia takutkan.

Lorong rumah sakit kembali sunyi. Waktu seolah berjalan lebih lambat, meninggalkan Nina dan Pak Jaya dalam penantian yang penuh harap.

*****

Di dalam ruang pemeriksaan, suhu udara terasa lebih dingin dibandingkan sebelumnya.

Lampu-lampu putih terang menyinari setiap sudut ruangan, menciptakan bayangan samar di dinding. Di tengah ruangan, sebuah mesin CT scan besar berbentuk lingkaran berdiri kokoh—menyerupai donat raksasa dengan lubang di tengah sebagai jalur masuk pasien.

Di sisi mesin, panel kontrol dengan layar digital menampilkan berbagai parameter medis yang terus berubah.

Ayah Ali masih berbaring di atas brankar. Matanya menelusuri mesin itu dengan campuran rasa penasaran dan ketegangan yang tak sepenuhnya bisa ia sembunyikan. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan pikirannya.

Suster Farida melangkah mendekat, membawa suntikan kecil berisi cairan kontras.

Dengan sentuhan lembut di lengan Ayah Ali, ia tersenyum menenangkan.

“Pak Ali, sekarang saya akan menyuntikkan cairan kontras melalui infus. Cairan ini membantu memperjelas gambar organ dalam Bapak saat pemeriksaan. Nanti mungkin akan terasa hangat di tubuh, itu normal. Kalau ada rasa tidak nyaman, langsung beri tahu saya, ya.”

Ayah Ali mengangguk pelan.

“Baik, Sus. Saya siap.”

Perlahan, cairan kontras disuntikkan melalui infus yang telah terpasang di tangan kananbAyah Ali. Tak lama kemudian, sensasi hangat menjalar dari lengannya ke dada—asing, namun masih bisa ia toleransi.

Ia memejamkan mata sesaat, mencoba tetap tenang.

Sementara itu, para perawat lain mulai bersiap. Dengan gerakan cekatan, mereka mengatur posisi meja pemeriksaan yang terhubung langsung dengan mesin CT scan. Seorang perawat menekan tombol pada panel, dan perlahan meja bergerak turun, menyesuaikan ketinggian agar sejajar dengan brankar.

“Baik, Pak Ali. Sekarang kami akan memindahkan Bapak ke meja pemeriksaan,” ujar salah seorang perawat dengan suara lembut.

Dua perawat berdiri di sisi kanan dan kiri Ayah Ali, sementara satu lainnya menopang bagian kaki. Dengan koordinasi yang hati-hati, mereka memindahkan tubuh Ayah Ali secara perlahan dari brankar ke meja pemeriksaan.

Ayah Ali sedikit meringis—bukan karena rasa sakit, melainkan tubuhnya yang terasa semakin lemah setelah serangkaian prosedur hari ini.

Begitu tubuhnya terbaring di meja pemeriksaan, para perawat memastikan posisinya nyaman. Kepala Ayah Ali dialasi bantalan kecil agar tetap stabil, sementara sabuk pengaman lembut dipasang di beberapa bagian tubuhnya untuk mencegah pergerakan selama pemeriksaan berlangsung.

Dari sisi ruangan, suara teknisi radiologi terdengar melalui mikrofon.

“Pak Ali, nanti meja akan bergerak perlahan masuk ke dalam mesin. Selama pemeriksaan, mohon tetap diam dan ikuti instruksi saya, ya.”

Ayah Ali menelan ludah. Gugup itu masih ada, namun ia berusaha mengendalikannya. Ia melirik sekilas ke arah Suster Farida yang masih berdiri di sampingnya.

“Bismillah…” gumamnya pelan, bersiap menghadapi pemeriksaan berikutnya.

Begitu meja pemeriksaan mulai bergerak perlahan masuk ke dalam mesin CT scan, Ayah Ali menatap ke atas. Lingkaran besar itu kian mendekat, seolah menelannya pelan-pelan. Cahaya putih redup dari dalam mesin menyinari wajahnya, menciptakan bayangan lembut di sekeliling mata dan pipinya.

Suara dengungan rendah dari mesin terdengar stabil, sesekali diiringi suara klik kecil dari alat pemindai yang mulai bekerja.

Di balik dinding kaca ruang kontrol, Dokter Shinta berdiri bersama Ners Farida dan seorang teknisi radiologi. Tatapan mereka tertuju pada layar monitor yang menampilkan citra hitam-putih organ dalam, berganti cepat seiring proses pemindaian berlangsung.

Dokter Shinta sedikit memiringkan kepalanya, lalu menunjuk salah satu bagian layar.

“Lihat di area ini,” ujarnya tenang, namun serius.

“Ada gambaran fibrosis yang cukup luas. Polanya tidak sederhana.”

Teknisi radiologi memperbesar tampilan sesuai arahannya.

“Dan di sini…” lanjut Dokter Shinta, nadanya menurun, “…terlihat massa yang ukurannya bertambah dibanding pemeriksaan sebelumnya.”

Ners Farida menatap layar tanpa berkedip. Alisnya sedikit mengernyit.

“Berarti… kondisinya sudah masuk tahap lanjut, Dok?” tanyanya pelan, seolah tak ingin suaranya terdengar oleh siapa pun selain mereka.

Dokter Shinta tidak langsung menjawab. Ia menghela napas singkat sebelum mengangguk perlahan.

“Kemungkinannya ke arah sana. Tapi kita tetap perlu konfirmasi lanjutan dari biopsi. CT scan ini memberi gambaran, bukan keputusan akhir.”

Ners Farida mengangguk, wajahnya tetap serius. Ia tahu, apa pun hasil akhirnya nanti, akan menjadi percakapan yang tidak mudah—terutama bagi Nina.

Sementara mereka berdiskusi, di dalam mesin CT scan, Ayah Ali mulai merasakan efek cairan kontras yang mengalir dalam tubuhnya. Sensasi hangat yang tadi samar kini berubah menjadi perasaan aneh di perutnya. Ia berusaha bernapas perlahan, tetapi ada ketidaknyamanan yang makin terasa.

Lihat selengkapnya