Biopsi Hati - Day 4
Jum'at 17 Mei 2025 | 15.10
Dua hari setelah prosedur CT scan yang menegangkan itu, kondisi Ayah Ali berangsur membaik. Tubuhnya memang masih terasa lemah, tetapi kesadarannya jauh lebih stabil dibandingkan hari sebelumnya. Hari ini, ia kembali berpuasa untuk menjalani prosedur biopsi hati yang dijadwalkan pada sore hari.
Syukurnya, Ayah Ali sempat mengambil waktu makan selepas salat Subuh tadi. Setidaknya, perutnya tidak benar-benar kosong seperti sebelumnya. Itu sedikit mengurangi rasa cemas yang masih tertinggal di dadanya.
Menjelang waktu shalat Asar, Ayah Ali memilih menenangkan diri dengan tadarus Al-Qur’an. Ia duduk bersandar di ranjang rumah sakit, mushaf terbuka di pangkuannya. Suaranya lirih, namun jelas—mengalun pelan, mengisi ruang rawat inap dengan ketenangan yang sulit dijelaskan.
“A‘udzubillahi minasy-syaithanir-rajim…”
“Bismillahir-rahmanir-rahim…”
Ia melanjutkan bacaan Surah Al-Mulk, ayat demi ayat dilantunkan dengan tartil yang terjaga.
“Tabaarakal lazii biyadihil mulku wa huwa 'alaa kulli shai-in qadiir…”
“Allazii khalaqal mawta walhayaata liyabluwakum ayyukum ahsanu 'amalaa; wa huwal 'aziizul ghafuur…”
Ayah Ali berhenti sejenak untuk menarik napas, lalu melanjutkan kembali.
“Allazii khalaqa sab'a samaawaatin tibaaqam maa taraa fii khalqir rahmaani min tafaawutin farji'il basara hal taraa min futuur…”
Di sudut ruangan, Nina yang tengah menyiapkan baskom berisi air hangat untuk ayahnya berwudhu. Tangannya berhenti bergerak. Ia menoleh perlahan, mendengarkan setiap lantunan ayat yang keluar dari bibir Ayah Ali.
Ada ketenangan yang menyusup ke hatinya.
Nina menelan ludah. Dadanya menghangat, tapi matanya justru terasa perih.
Ia teringat betapa jarangnya ia mendengar Ayah Ali membaca Al-Qur’an dengan suara setenang ini. Biasanya ayahnya membaca dalam diam atau seperlunya. Namun kali ini berbeda—seolah setiap ayat mengandung arti yang mendalam, sebelum melangkah ke sesuatu yang tak terduga.
"Shadaqallahul 'Adzim..."
Ayah Ali menutup mushaf perlahan, meletakkannya di meja ranjang, lalu mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu.
“Nina…” panggilnya pelan.
Nina segera mendekat. Ia mengangkat baskom berisi air hangat, meletakkannya di atas meja troli, lalu mendorong troli itu hingga berada tepat di hadapan Ayah Ali.
“Airnya sudah siap, Yah,” ucapnya lembut.
Ayah Ali mengangguk kecil.
“Terima kasih, Nak.”
Nina meraih handuk kecil, melipatnya rapi, lalu berlutut di sisi ranjang.
“Aku bantu wudhu, ya.”
Ayah Ali menatap putrinya sebentar, matanya berkabut tipis.
“Iya, Nak…”
“Niat wudhu dalam hati dulu, Yah,” lanjut Nina pelan, sambil mencelupkan handuk ke dalam baskom air hangat.
“Coba tangannya direntangkan, Yah.”
Ayah Ali mengangguk dan merenggangkan kedua tangannya. Nina segera membasuhnya perlahan, memastikan air tak mengenai jarum infus yang menancap di punggung tangan. Setiap usapan terasa penuh kehati-hatian, seolah bukan sekadar membasuh, melainkan menjaga orang tersayang.
Ayah Ali menghela napas pelan saat air hangat menyentuh kulitnya.
“Enggak dingin, kan?” tanya Nina lirih.
Ayah Ali menggeleng.
“Hangat… bikin tenang.”
Nina tersenyum tipis. Ia lalu meraih gelas berisi air dan mangkuk kecil yang telah ia siapkan.
“Kumur-kumur dulu, Yah.”
Dengan hati-hati, Nina menyodorkan gelas itu ke bibir ayahnya. Ayah Ali mulai berkumur perlahan, menahan gerak agar tak memicu rasa mual. Nina sigap menadah mangkuk kecil di bawah dagunya. Air kumuran dibuang dengan tenang—satu kali, lalu kedua, dan ketiga.
Setelahnya, Nina menyeka sudut bibir ayahnya dengan handuk kecil.
Nina melanjutkan membasuh hidung, lalu wajah ayahnya sebanyak tiga kali. Ia usapkan dari dahi ke pipi, lalu ke dagu. Ayah Ali memejamkan mata, membiarkan sentuhan dari putri kesayangannya mengalirkan ketenangan yang sulit ia jelaskan.
Saat Nina membasuh lengan hingga siku, gerakannya semakin pelan. Tangannya sedikit berhenti di satu titik.
"Maaf, Yah. Tangannya sakit enggak?" tanyanya pelan.
"Sedikit," jawab Ayah Ali jujur.
Ayah Ali menoleh, matanya menghangat.
"Maaf ya, Nak. Ayah ngerepotin kamu lagi."
Nina menggeleng cepat.
“Enggak. Ayah itu… segalanya buat Nina."
Kalimat itu membuat Ayah Ali terdiam. Ia memejamkan mata sejenak, menahan getar yang pelan merambat di dadanya, sementara Nina melanjutkan wudhu hingga tuntas—membasuh kepala, telinga, lalu kaki dengan handuk kecil, penuh kehati-hatian dan cinta yang tak terucap.
Setelah selesai, Ayah Ali kembali menoleh ke arahnya.
“Terima kasih… ya, Nak…” ucapnya lirih.
Nina mengangguk kecil.
“Iya, Yah.”
Ia merapikan baskom, lalu menatap ayahnya dengan sorot mata penuh harap.
“Semangat buat biopsinya, Yah. Allah jaga Ayah. Jangan sampai drop lagi kayak kemarin…”
Ayah Ali terdiam sejenak, lalu bertanya pelan,
“Kamu sudah wudhu belum?”
“Sudah, Yah.”
Ayah Ali menarik napas dalam, seolah mengumpulkan kekuatan.
“Yuk, kita shalat bareng, Nak. Biar Allah lancarkan pemeriksaan biopsi hati Ayah ini.”
Nina mengangguk cepat. Ia merapikan selimut ayahnya, lalu membentangkan sajadah di atasnya. Dengan hati-hati, ia membantu Ayah Ali mengenakan peci putih yang selalu ia simpan di laci kecil samping ranjang.
“Ganteng, Yah,” ucap Nina sambil tersenyum.
Ayah Ali terkekeh kecil.
“Dari dulu Ayah ganteng, Nak.”
“Hush… Ayah ge-er,” balas Nina, menahan senyum.
Beberapa detik berlalu dalam diam. Nina duduk di sisi ranjang, menatap sajadah yang sudah siap.
“Kita terakhir shalat berjamaah begini kapan, ya?” tanya Nina lirih.
Ayah Ali terdiam. Matanya menatap lurus ke depan, seolah mencari sesuatu di ingatan.
“Waktu Ibu masih ada,” jawabnya pelan.
Nina menunduk. Dadanya terasa menghangat sekaligus sesak. Ayah Ali menoleh sedikit ke arahnya.
“Almarhumah Ibu kamu… paling senang shalat berjamaah. Katanya, rumah itu tenang kalau shalatnya bareng-bareng.”
Pikiran Nina melayang pada kenangan mendiang Ibu Laras saat masih ada di sisinya. Dulu, Ayah Ali sering mengajak mereka menunaikan salat berjamaah di rumah.
Saat itu, Nina masih duduk di bangku SMP dan belum disibukkan oleh kegiatan apa pun. Namun, sejak kepergian orang yang mereka kasihi, segalanya berubah. Nina yang dulu selalu punya waktu kini disibukkan oleh berbagai hal.
Saat SMA, Nina aktif berorganisasi, lalu berlanjut ke masa kuliah hingga akhirnya bekerja. Tanpa ia sadar, waktu kebersamaannya bersama sang ayah semakin berkurang.
Kini, mereka menunaikan salat Asar tanpa Ibu Laras, dalam suasana yang berbeda. Ayah Ali tak lagi sekuat dulu, dan mereka berada di tempat yang tak lagi sama.
Namun, di tengah kondisinya yang lemah, Nina bersyukur dan bangga karena Ayah Ali masih mengajaknya beribadah bersama.
Allahu Akbar…
Takbir pertama menggema lirih di ruang rawat inap Kelas I yang sunyi. Nina mengangkat tangan, mengikuti gerakan ayahnya. Dulu, suara Ayah Ali selalu terdengar lantang dan tegas saat mengimami salat. Kini, suaranya lebih pelan, sedikit bergetar.
Saat ruku’, Nina melirik sekilas ke arah Ayah Ali. Biasanya, ayahnya ruku’ dengan punggung tegak sempurna. Kali ini, ruku’ itu dilakukan sambil duduk di atas ranjang, tubuhnya condong ke depan sekadarnya, menyesuaikan sisa tenaga yang ia miliki.
Nina memakluminya. Ia tetap mengikuti gerakan salat yang dipandu oleh ayahnya, dengan hati yang ditundukkan sepenuhnya.
Allahu Akbar…
Saat sujud, Nina menempelkan dahinya ke sajadah lebih lama dari biasanya. Berbeda dengan Ayah Ali yang hanya mampu membungkuk karena kondisi tubuhnya, Nina membiarkan dirinya tenggelam dalam sujud yang panjang. Di momen itu, pikirannya melayang jauh—menuju kenangan masa kecil bersama mendiang Ibu Laras.
Saat itu, usianya baru lima tahun.
_________________________________
Flashback on
Bogor, 12 September 2005
Allahu Akbar…
Keluarga kecil itu tengah menunaikan salat Maghrib. Ayah Ali berdiri di depan sebagai imam. Ibu Laras berdiri di belakangnya, sementara Nina kecil berusaha mengikuti setiap gerakan dengan kepolosan khas anak-anak.
Rakaat pertama dan kedua berjalan lancar. Nina meniru ruku’, sujud, dan duduk di antara dua sujud dengan wajah serius.
Namun di rakaat terakhir, dunia Nina berubah menjadi arena bermain.
Saat ruku’, Nina berlari kecil mengitari Ayah dan Ibunya, lalu bersembunyi di balik mukena Ibu Laras. Begitu Ibu Laras sujud, Nina dengan cekikikan naik ke punggung sang ibu, menjadikannya seperti kuda-kudaan.
“Ayo, Ibu! Kita kejar Ayah!” serunya riang.
Ibu Laras masih bertahan dalam posisi sujud ketika Nina kembali berseru,
“Yuhuu… lari yang kencang!”
Ayah Ali berpindah ke posisi duduk di antara dua sujud. Ibu Laras ikut bergerak. Tanpa sempat ditahan, Nina terjatuh ke belakang.
HUAAARGHH…
Tangis Nina pun pecah, memenuhi ruang kecil itu.
Meski terkejut, Ayah Ali dan Ibu Laras tetap menyelesaikan salat hingga salam terakhir. Begitu salam terucap, Ibu Laras langsung berbalik dan meraih Nina ke dalam pelukannya.
“Masha Allah, anak Ibu… kenapa?” tanyanya lembut, mengusap kepala Nina.
“Jatuh, Ibu…” jawab Nina di sela isakannya.
“Anak Ayah ini,” ujar Ayah Ali sambil mendekat dan mencubit pipi Nina pelan, “suka main tidak pada tempatnya.”
Ibu Laras memeriksa tubuh Nina dengan teliti.
“Alhamdulillah, tidak ada yang luka. Sini, Ibu tiup… biar cepat sembuh.”
Ia meniup dan mengusap punggung Nina penuh kasih. Tangisan pun mereda. Nina kecil lalu menatap Ayah Ali dengan mata berbinar.
“Tapi besok Nina boleh naik punggung Ibu lagi, kan?”
Ayah Ali dan Ibu Laras saling berpandangan, lalu tersenyum.
“Boleh,” kata Ayah Ali, mengusap hidung Nina, “tapi jangan pas shalat, ya.”
“YEEAAYYY!” seru Nina sambil memeluk keduanya.
Tawa kecil memenuhi rumah, menggantikan tangis dengan kehangatan dan cinta.
_________________________________
Flashback off
Nina kembali dari lamunannya ketika mendengar suara ayahnya melanjutkan bacaan. Rakaat kedua, ketiga dan keempat dijalani dengan khusyuk. Hatinya terasa tenang, meski matanya sesekali menangkap betapa lemah gerakan Ayah Ali kini dibandingkan dahulu.
Tanpa terasa, mereka sampai pada salam terakhir.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…”
Kepala Ayah Ali menoleh perlahan ke kanan dan kiri. Nina mengikutinya, lalu menangkupkan tangan, menahan napas.
Sejenak, mereka diam.
Sunyi.
Hanya detak jam dinding yang menemani.
Ayah Ali menarik napas dalam-dalam, lalu menoleh ke arah Nina.
“Nak…” suaranya pelan, nyaris berbisik.
“Apapun hasil biopsinya nanti, kita serahkan semuanya ke Allah, ya.”
Nina menatap ayahnya, diam.