Sebotol Bir, Perempuan Berwajah Lebam, dan Laki-laki Pemarah

Alfian N. Budiarto
Chapter #1

Bab 1

Kamu tahu benar bahwa setiap yang hidup akan mati, lalu dihidupkan kembali. Begitu pun yang baru diciptakan, bakal rusak atau hancur, lalu dijadikan baru lagi. Meski tidak selalu sama, terkadang dalam wujud yang berbeda. Seperti halnya kamu. Kamu ingat di malam natal beberapa tahun lalu kamu adalah sebuah piring alas hidangan appetizer di sebuah restoran. Sialnya, seorang pelanggan perempuan berbadan gempal menyenggol tubuhmu yang tergeletak di pinggiran meja hingga jatuh dan pecah di lantai. Semenjak hari itu, kamu mati—setidaknya begitu kamu menyebutnya—lalu bereinkarnasi—begitu juga yang kamu yakini—menjadi sebuah vas bunga.

 

Sayangnya, tidak seperti halnya manusia yang bisa bicara satu sama lain, kamu justru tidak bisa berkomunikasi dengan benda-benda lain di sekitarmu; meja, kursi, atap, atau bahkan mesin pengisap debu yang sering berlalu lalang. Meski demikian, kamu yakin jika mereka juga ‘hidup’, sama sepertimu. Pun tidak seperti halnya bayi yang lahir ke dunia, kamu selalu membawa potongan ingatan dari kehidupanmu sebelum-sebelumnya. Dari sana kamu belajar tentang banyak hal, terutama perihal manusia dan hiruk-pikuk dunia. Kamu tentu tidak lupa bahwa kamu pernah menjadi banyak benda yang berbeda; bola lampu, vas bunga, batu baterai, tali jemuran, keset selamat datang, hingga karet ikat rambut seorang anak perempuan berusia enam tahun.

 

Seperti pepatah yang pernah kamu dengar dari salah satu manusia, bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini. Maka demikian pula dengan kamu. Kamu yang tengah menjadi vas bunga, tiba-tiba saja pecah disenggol seekor kucing jenis persia berekor panjang dan bulu lebat. Atau kamu yang sedang menjadi bohlam, putus karena arus korsleting. Begitulah cara kematianmu. Begitu dihidupkan, kamu bisa menjadi apa saja. Termasuk menjadi sebuah botol kecap asin di atas meja pedagang bakso. Tetapi, sialnya, kamu tidak pernah bisa memilih untuk menjadi apa. Kamu hanya bisa pasrah dan menerima takdir.

 

Awalnya, kamu kira dirimu yang sekarang sedang menjelma sebuah botol berisi minuman bersoda, sebelum kemudian kamu menyadari kalau baumu berbeda. Di tengah kebingunganmu dalam menerka-nerka itu, seorang perempuan masuk ke ruangan tempatmu berada. Dari posisimu yang tersimpan di dalam lemari kaca transparan, kamu bisa mengamati wajahnya yang lebam. Terdapat luka membiru di sudut bibir serta di pelipis. Kamu yang masih belum tahu siapa perempuan itu—juga pada dirimu yang entah sedang menjelma apa dan di mana—hanya bisa terus memperhatikan dengan saksama. Setelah merogoh saku celananya, perempuan itu lalu membuka ponsel dan menyalakan kamera.

 

“Lagi-lagi Arhan memukuliku. Aku tahu hubungan kami ini toxic. Tapi, aku tidak bisa bohong kalau aku juga tidak bisa kehilangan Arhan. Aku mencintai dia. Sangat-sangat mencintainya,” ujar perempuan itu di depan layar ponsel yang sedang merekam video. “Aku yakin … suatu saat nanti Arhan pasti akan berubah. Aku hanya perlu bersabar. Setelah badai ini pasti akan hadir pelangi untuk kami,” sambungnya lagi dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Setelahnya, perempuan di hadapanmu itu terdiam beberapa detik. Barangkali karena sudah tidak tahan lagi, ia lantas menangis di depan layar ponselnya.

 

Ini memang bukan kali pertama kamu menemukan manusia dengan hubungan yang tidak sehat. Di kehidupanmu yang sebelumnya, pernah beberapa kali kamu menemukan hubungan yang hampir mirip. Hingga kamu bertanya-tanya mengapa manusia yang kamu temui harus menjalin komitmen dengan manusia lainnya jika pada akhirnya hanya akan menimbulkan luka dan rasa kecewa. Meski tidak bisa kamu mungkiri kalau selama hidupmu yang terus berpindah-pindah itu, tidak sedikit pula pasangan yang kamu temui hidup dalam kebahagiaan.

 

Kamu tentu belum lupa saat menjelma menjadi cermin di sebuah kamar. Kamu mendapati seorang laki-laki yang suka tidur dengan banyak perempuan. Padahal baru beberapa pekan ia menikahi pasangannya. Itu awal mula kamu tahu kalau hal tersebut yang dinamakan dengan istilah perselingkuhan. Ketika si laki-laki tertangkap basah, sang istri langsung muntab. Ia memeledakkan amarah dan melemparkan segala macam benda yang ada di sekitarnya ke arah si laki-laki sambil menangis histeris. Karena lemparan botol parfum yang salah sasaran dan mengenai tubuhmu, kamu pecah berkeping-keping, lalu lahir kembali menjadi keset yang tergeletak di depan kamar mandi.

 

Lihat selengkapnya