Sebotol Bir, Perempuan Berwajah Lebam, dan Laki-laki Pemarah

Alfian N. Budiarto
Chapter #2

Bab 2

Kamu tidak tahu akan berapa lama menjadi saksi tumpahnya air mata Gayatri. Sejujurnya, kamu sudah muak. Tetapi kamu juga tidak bisa berbuat apa-apa. Di satu titik, kamu berharap agar bisa diberi kesempatan untuk berpindah jiwa ke makhluk-makhluk bernyawa, supaya tidak terus-terusan tersiksa di dalam ketidakberdayaan. Jika ditimbang-timbang, kamu dan Gayatri nyaris berada di posisi yang sama; pasrah. Hanya saja bedanya kamu memang tidak punya kuasa apa-apa atas dirimu yang hanya berupa sebotol minuman. Sementara bagi Gayatri, menurutmu ia punya segalanya. Ia bisa bergerak dengan leluasa. Tidak seperti kamu yang hanya bisa terpajang di dalam lemari kaca. Gayatri punya daya untuk melarikan diri dan meninggalkan suaminya. Kalau perlu sejauh mungkin. Setidaknya begitulah yang kamu pikirkan.

Bagaimana kamu tidak muak. Di hari ini saja kamu sudah mendapati Gayatri menangis tiga kali di depan ponselnya yang terus merekam curahan hatinya. Padahal semestinya perempuan itu mengadu ke manusia lainnya. Dengan begitu, akan ada yang menolong Gayatri. Tapi, nyatanya ia lebih memilih untuk mencurahkan kesakitannya seorang diri di depan kamera. Lalu, menyimpannya begitu saja, tanpa mengunggahnya ke media sosial. Entah apa yang Gayatri pikirkan. Kamu sendiri tidak paham dengan jalan pikiran perempuan itu, selain menganggap bahwa Gayatri adalah perempuan penyabar. Atau justru bodoh!

Selama ini kamu mencoba memahami mengapa ruangan yang kamu huni sekarang justru menjadi tempat perempuan berambut gelombang itu untuk meluapkan semuanya seorang diri. Tanpa teman. Dugaanmu sementara ini, selain memiliki hati yang begitu lapang, bisa jadi Gayatri juga bukanlah seorang pendebat. Ia justru lebih memilih diam setiap kali suara Arhan kamu dengar meninggi di luar sana. Kamu jadi penasaran tentang bagaimana bentuk wajah laki-laki pemarah dan menyebalkan itu. Sebab, sejak awal laki-laki tersebut memang belum pernah sekali pun masuk ke ruanganmu.

“Apa salahku, Tuhan? Mungkinkah di kehidupanku yang sebelumnya aku adalah seorang pendosa, hingga Kau tega menghukumku seperti ini?” ucap Gayatri yang terdengar begitu lirih di depan ponselnya yang masih merekam video.

Lihat selengkapnya