Kamu mendapati seseorang masuk ke ruangan tempatmu berada. Seorang laki-laki asing. Awalnya, ketika daun pintu mengeluarkan bunyi derit pelan, kamu pikir Gayatrilah yang masuk untuk berkeluh kesah seperti biasa. Namun, ketika kamu menyadari jika sosok itu ternyata adalah seorang laki-laki, kamu langsung menyadari bahwa tebakanmu sebelumnya itu salah.
Lama kamu mengamati. Kamu sempat bingung dan menduga-duga mengenai siapa sosok laki-laki berpakaian rapi, rambut hitam klimis dipangkas rapi, juga memiliki sepasang mata teduh yang terlihat teduh di balik lensa kacamata, serta kumis tipisnya dicukur rapi. Tapi, setelah menimang-nimang, dugaanmu jatuh pada satu kesimpulan bahwa laki-laki itu adalah Arhan. Meski telah berusaha menyimpulkan, namun kamu masih cukup ragu. Sebab, di dalam bayanganmu, sosok Arhan jauh berbeda dengan apa yang ada pada diri laki-laki di hadapanmu. Laki-laki pemarah itu kamu gambarkan sebagai sosok laki-laki bertubuh gempal, tidak terlalu tinggi, berpenampilan asal-asalan, memiliki rahang tegas, dan sorot mata tajam. Itu tentu berbanding terbalik dengan ciri-ciri laki-laki yang kini sedang memperhatikan seisi ruangan.
“Di sini rupanya kamu simpan minumanku,” gumam lelaki itu sambil menatap ke arahmu. Tidak salah lagi. Dari caranya bicara juga tone suaranya, kamu jadi semakin yakin kalau laki-laki itu adalah Arhan.
Perawakan Arhan yang jika dinilai sekilas lebih seperti laki-laki baik-baik, lembut, dan bijaksana itu sama sekali tidak menunjukkan kepribadian dirinya yang sesungguhnya. Benar kata pepatah yang pernah kamu dengar dari percakapan manusia-manusia sebelumnya, bahwa jangan pernah menilai segala sesuatu hanya dari luarnya saja. Pun jangan pernah menghakimi seseorang hanya dari penampilannya saja. Penampilan bisa menipu, sementara kedalaman hati tidak ada yang tahu. Dan kamu menemukan contohnya pada diri Arhan.
Tanpa membuka pintu lemari kaca, Arhan masih menatap tubuhmu selama beberapa detik. Kamu yang dulu sempat bingung mengapa bisa-bisanya perempuan seperti Gayatri jatuh cinta pada lelaki pemarah seperti Arhan, akhirnya mulai paham. Dengan penampilan yang rapi dan menarik, kamu yakin dulu banyak perempuan yang jatuh hati pada laki-laki itu, tanpa mengenalnya lebih dalam. Jatuh cinta hanya melalui tatapan belaka. Tapi, apa gunanya jika pada akhirnya cinta itu begitu menyiksa dan menyakitkan, seperti apa yang Gayatri jalani saat ini.
Laki-laki menyebalkan itu kembali tersenyum dan lantas membuka pintu lemari kaca. Langsung ia raih tubuhmu dengan tangan kanannya. Di detik itu juga, bisa kamu rasakan telapak tangannya yang kasar. Kamu kembali menduga-duga, apakah hal itu disebabkan kebiasaannya yang suka main kasar pada sang istri. Jika benar, maka malang sekali nasib Gayatri. Kamu pantas untuk memberikan iba pada perempuan yang salah mendapatkan jodoh itu.
Baru saja Arhan hendak membuka tutupmu menggunakan sebuah alat khusus, Gayatri lebih dulu muncul dari balik pintu dan menyusul suaminya itu. Dengan cepat Gayatri meraihmu dari genggamannya.