Sebuah Kereta Tua

Puteri Q.
Chapter #1

BAB 1: Stasiun Berdebu


Alya melangkah pelan dengan bahu yang merosot lelah. Hembusan angin sore berembus tipis, menyapu wajahnya yang pucat dan sesekali memaksa matanya terpejam saat debu-debu halus berterbangan. Di hadapannya, samar-samar wujud sebuah stasiun tua mulai terkuak di antara kerapatan pohon. Alya mencoba mengukir seulas senyum, namun sorot matanya yang sendu tak mampu menyembunyikan betapa hancur dan berantakannya ia sore itu.

“Apa yang aku lakukan ini… sudah benar?” batinnya ragu.

Dada Alya mendadak sesak. Sudut matanya mulai membasah, hingga sebaris air mata meluncur pelan membelahi pipinya. Perih dan amarah yang sejak sekian lama ia bendung di balik tembok profesionalitas, akhirnya meluap juga di tempat asing ini.

Hening, lusuh, dan tak terawat. Semak belukar serta perakaran pohon yang menyembul liar menyambut kedatangan Alya di bangunan yang tampaknya sudah puluhan tahun mati itu. Aroma kayu lapuk, besi berkarat, dan tanah kering menyergap penciumannya, memaksa Alya melangkah lebih hati-hati. Tempat ini sangat jauh dari dunia modern yang biasa ia jejaki. Namun anehnya, ada secercah kehangatan yang menyusup pelan ke sudut hatinya yang paling dalam.

Langkah Alya terhenti di depan sebuah jendela loket. Kaca tebal yang tertutup kerak debu dan lumut itu mendadak tampak begitu menawan saat berkas pendar matahari pukul empat sore membias tepat di permukaannya. Dengan ragu, Alya mendekat. Di atas meja kayu lapuk samping laci kecil, jemarinya menemukan selembar kertas tebal yang kusam, sebuah tiket kereta api seri kuno Edmondson. Tulisannya sudah sangat pudar, tetapi nama dan detailnya anehnya masih bisa dieja. Pandangan Alya kembali kabur oleh air mata. Tanpa bersuara, ia menggenggam tiket itu dan berjalan menuju bangku peron untuk menyandarkan tubuhnya yang remuk setelah perjalanan jauh sejak pagi.

Pukul empat lewat tiga belas menit.

Sensasi panik mendadak menyengat ingatan Alya. Ada satu email yang harus segera ia kirimkan sore ini, sebuah dokumen penting yang menentukan nasib proyek perusahaannya. Dengan jemari tegang, ia buru-buru merogoh tas punggungnya dan mengeluarkan ponsel. Namun tepat saat layar menyala, bar sinyal di sudut atas mendadak meluncur turun dan lenyap seketika.

Kejanggalan tak berhenti di situ. Angka jam digital di layarnya mulai berganti secara acak dan liar.

“Ada apa ini?” cicit Alya panik. Wajahnya makin pucat. Di tengah stasiun terbengkalai ini, ia tahu betul ia tak boleh kehilangan kontak dengan dunianya. Napasnya mulai memburu, dadanya terasa makin sempit oleh cemas yang memburu.

Namun, di puncak kepanikannya, gerakan tangan Alya yang sedang mengutak-atik ponsel perlahan terhenti.

Lihat selengkapnya