Sebuah Kereta Tua

Puteri Q.
Chapter #2

BAB 2: Senja Express


Lenguhan berat dari suling uap di kabin masinis memecah keheningan peron tua itu. Saat asap putih membumbung tinggi di balik jendela, Senja Express perlahan mulai menghentak pelan, menandakan rodanya siap menggelinding.

Alya berdiri terperangah beberapa detik saat tiba di gerbong kereta. Harum kayu jati, cengkeh, dan teh melati menyergap penciumannya. Langkah kakinya menelusuri gerbong; barisan bangku yang terbuat dari kayu berselimut beludru hijau tua menambah hangat suasana di sepanjang lorong. Tas-tas tempo dulu yang tersusun rapi di rak bagasi seolah melempar ingatan Alya kembali pada cerita masa kecil yang sering dibisikkan Neneknya tentang Kereta Senja. Kini, semua dongeng sebelum tidur itu menjelma nyata tepat di depan matanya sendiri.

Tepat saat Alya menyentuh sandaran beludru hijau itu, klakson masinis kembali melenguh panjang, dan lantai kereta mulai bergetar perlahan. Dalam sekejap, stasiun dan peron nomor 5 semakin jauh tertinggal dari pandangan matanya.

Alya membuka kembali lembaran tiket yang ada di genggaman tangannya. Matanya kemudian sigap menyisir bangku nomor 4A. Langkahnya terasa ringan, namun dadanya penuh debar.


Klak-klik, klak-klik.

Roda-roda besi beradu dengan rel tua. Senja Express melaju tanpa tergesa, seolah memberi penghormatan pada setiap jengkal tanah yang dilaluinya. Alya kini duduk di tepi jendela, mengarahkan pandangannya ke luar, mulai mencerna suasana magis yang tak biasa: rerumputan yang bertabur kilauan cahaya perak dan kabut senja berwarna keemasan yang memukau.

Keindahan itu mendadak terasa terlalu sempurna untuk jadi nyata. Ketika Senja Express membelah kabut keemasan yang kian tebal, rerumputan hijau di luar jendela perlahan berubah menjadi ribuan kunang-kunang kaca yang terbang mengiringi laju kereta. Alya menyentuh dadanya, merasakan kerinduan mendalam yang aneh. Kereta ini tidak sekadar berjalan melintasi rel, melainkan sedang menembus batas antara penyesalan yang ia tinggalkan di dunia nyata dan keajaiban yang menantinya di ujung jalan.

Kereta api selalu punya cara sendiri untuk mengajari manusia tentang hidup. Ia berjalan di atas sepasang rel yang tak pernah bersatu, namun selalu setia melangkah beriringan menuju arah yang sama. Alya menyadari hidupnya pun seperti itu: terperangkap di antara realitas yang dingin dan mimpi-mimpi magis yang tak kunjung mewujud, berjalan berdampingan tanpa pernah benar-benar melebur. Tidak seperti kendaraan lain yang bebas berbelok, kereta mengikatkan dirinya pada takdir besi yang sudah digariskan. Namun, ketidakbebasan itulah yang justru menyelamatkannya; kereta tidak perlu tersesat mencari jalan, ia hanya perlu terus melaju. Di dalam gerbong Senja Express yang bergerak lambat ini, Alya belajar menyerahkan kendali. Biarlah masinis tak terlihat di depan sana yang menentukan pemberhentian, karena terkadang, kedamaian terbesar hanya bisa ditemukan saat kita berhenti mendikte ke mana takdir harus membawa kita pergi.

Seketika, ingatan Alya melayang pada pesan Neneknya beberapa tahun silam, sebuah pesan yang dahulu dianggapnya sekadar dongeng atau igauan orang tua, namun kini bergema begitu nyaring di dalam dadanya.

Lihat selengkapnya