Sebuah Kereta Tua

Puteri Q.
Chapter #3

BAB 3: Teh Chamomile


Uap tipis dari cangkir porselen putih membumbung pelan ke udara gerbong yang tenang, membawa aroma chamomile yang manis, gurih herbal, dan menentramkan. Cangkir itu berdiri anggun di atas meja kayu kecil di samping jendela, berdampingan dengan ukiran-ukiran kayu tua pada meja yang menangkap pendar cahaya keemasan dari luar.

Alya menatap cangkir itu cukup lama. Jemarinya yang dingin terangkat pelan, ragu-ragu, sebelum akhirnya melingkupi porselen hangat itu dengan kedua telapak tangannya.

Dingin dari ujung-ujung jarinya bertabrakan keras dengan kehangatan porselen tersebut. Sensasinya begitu nyata, menyengat syaraf-syarafnya yang selama bertahun-tahun seolah telah mati rasa. Selama bertahun-tahun hidup di tengah bising dan riuhnya kota, Alya tak pernah benar-benar mencicipi atau menikmati apa yang masuk ke dalam tubuhnya. Ia selalu meneguk kopi hitam yang terlalu pekat secara tergesa-gesa di sela-sela rapat yang tak kunjung usai. Ia sering kali menyela waktu makan siangnya atau bahkan melewatkannya sama sekali demi mengejar tenggat waktu pekerjaan yang seolah tak pernah ada habisnya. Tubuhnya dibiarkan berjalan autopilot, seperti sebuah mesin yang digerakkan semata-mata oleh ekspektasi orang lain, oleh ambisi demi ambisi yang bukan milik jiwanya, dan oleh ketakutan yang terus-menerus akan kegagalan.

Namun sore ini, di dalam gerbong nomor 4A Senja Express yang melaju tanpa suara dan terus meliuk-liuk ditengah hutan, waktu seolah berhenti berputar. Tidak ada dering telepon yang mendesak. Tidak ada notifikasi pesan yang menuntut jawaban instan. Hanya ada Alya, keheningan, dan cangkir teh yang mengepulkan uap hangat.

Perlahan, Alya mendekatkan cangkir itu ke bibirnya. Ia membiarkan aroma chamomile meresap terlebih dahulu ke dalam penciumannya, menggeser sisa-sisa wangi jati tua dan cengkeh yang menyelimuti gerbong. Kemudian, ia menyeruput seduhan hangat itu pelan-pelan.

Rasa manis herbal dan hangatnya teh chamomile merayap turun melintasi tenggorokannya yang basah dan kering secara bersamaan. Cairan itu mengalir perlahan, menyebarkan rasa hangat yang lembut ke dada, lalu berhenti tepat di pusat pernapasan Alya, dan di sanalah, sesuatu yang lama terkunci rapat... tiba-tiba retak dan pecah.

Dada Alya mendadak terasa dihantam oleh impitan yang luar biasa berat. Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya kuat-kuat. Otot-otot leher dan tenggorokannya menyempit drastis, menghalang jalan udara yang mencoba masuk merayap ke paru-parunya. Kehangatan teh itu rupanya tidak serta-merta menenangannya, kehangatan itu justru melelehkan seluruh benteng batu, lapisan es, dan topeng “baik-baik saja” yang selama bertahun-tahun ini ia bangun rapat-rapat untuk melapisi lukanya.

Alya buru-buru meletakkan cangkir itu kembali ke atas meja. Tangannya bergetar begitu hebat hingga porselen tersebut berdetuk keras menghantam kayu meja. Ia dengan cepat menutup mulutnya dengan sebelah tangan, berusaha meredam isakan yang mendadak menyeruak dari balik dadanya.

“Jangan... jangan di sini...tidak disini…” bisik batinnya panik.

Bertahun-tahun berada di lingkungan kerja yang beracun, bertarung dengan persaingan yang dingin, serta memikul beban sebagai tempat bersandar bagi orang-orang di sekitarnya, Alya telah terlatih untuk tidak boleh terlihat ringkih meski sekejap. Di dunia nyata yang keras, memperlihatkan retakan emosi adalah hal yang berbahaya. Menangis dianggap sebagai bentuk kelemahan. Menangis berarti kamu menyerah. Menangis berarti kamu kalah. Maka, Alya selalu belajar menelan air matanya sendiri di bilik toilet kantor, mengusapnya cepat-cepat di dalam mobil saat kemacetan jalanan, atau menguncinya di balik senyuman profesional saat berhadapan dengan atasan dan rekan kerjanya.

Namun, di dalam gerbong 4A yang hening ini, tidak ada mata yang mengawasinya dengan nada menghakimi. Tidak ada atasan yang akan menilai kinerjanya berkurang hanya karena ia meneteskan air mata. Tidak ada layar ponsel berkedip yang menagih laporan, dan tidak ada gesekan di tim kantor yang menuntutnya untuk selalu mengalah atau menjadi penengah di tengah konflik.

Isakan yang sejak tadi ia tahan setengah mati itu akhirnya lolos juga. Suaranya keluar kasar, patah-patah, dan begitu menyedihkan di tengah gerbong yang sunyi.

Lihat selengkapnya