Sebuah Kereta Tua

Puteri Q.
Chapter #4

BAB 4: Pulang App.

Jemari Alya gemetar saat menyentuh tepi sampul kulit buku catatan tua itu, sebuah buku tebal berwarna cokelat tua yang lusuh. Bau kertas lama, campuran aroma kayu kering dan sedikit kelembapan masa lalu, menyeruak pelan begitu ia membuka lembaran pertamanya. Di halaman paling awal, hanya ada satu baris kalimat yang ditulis Nenek dengan tinta hitam yang mulai memudar di beberapa sisinya:

“Rumah bukan tempat yang kamu tuju saat kamu lelah, Alya. Rumah adalah tempat di mana kamu tidak perlu berpura-pura menjadi siapa pun.”

Alya tertegun. Kalimat singkat itu terasa seperti tamparan pelan namun menghujam langsung ke ulu hatinya. Secara refleks, pikiran Alya memutar kembali pada sebuah nama perusahaan yang selama dua tahun terakhir ini menyedot seluruh energi, waktu, dan jiwanya di dunia nyata: Pulang App. Sebuah perusahaan startup yang bergerak di bidang penyediaan solusi kesehatan mental bagi banyak orang.

Alya adalah Chief Product Officer sekaligus sosok penting di balik layar Pulang App, aplikasi itu bahkan memenangkan berbagai penghargaan, diunduh oleh ribuan pengguna, dan dipuji-puji oleh media sebagai "oase digital bagi generasi yang lelah".

Fitur utamanya sederhana: memberikan reminder untuk bernapas, tracker dan jurnal harian digital, layanan konsultasi, dan kalimat-kalimat motivasi yang dikirimkan setiap jam delapan malam dengan judul “Sudahkah Kamu Pulang Hari Ini?”

Setiap hari, Alya merancang algoritma agar ribuan pengguna aplikasi tersebut bisa merasa tenang. Namun, di balik layar kaca yang mengkilap itu, kenyataannya sungguh berbanding terbalik.Untuk menciptakan aplikasi yang "menenangkan" itu, Alya harus mengorbankan ketenangannya sendiri.

Ia teringat malam-malam panjang di kantornya yang megah di pusat kota. Ruangan ber-AC dingin yang serba kacau, papan tulis putih yang dipenuhi coretan target user retention, grafik angka-angka yang harus terus naik, serta rapat evaluasi yang tiada henti, di tempat itu tidak ada kata "pulang", yang ada hanyalah tuntutan investor, revisi fitur di menit-menit terakhir, dan kompetisi yang dingin antar sesama rekan kerja.

Jauh dari kata menenangkan, lingkungan yang ia hadapi setiap hari adalah lingkungan toksik. Atasannya yang hanya peduli pada pertumbuhan angka active users, rekan kerja yang saling menjatuhkan demi mendapatkan panggung, dan budaya kerja yang mengagungkan hustle culture secara berlebihan. Jika ada anggota tim yang mengeluh lelah, mereka akan dicap tidak profesional. Jika ada yang meminta jeda, posisi mereka akan segera digantikan oleh orang lain.

Lihat selengkapnya