Suara gemuruh roda kereta sepanjang jalan yang beradu dengan rel besi terasa seperti detak jantung yang konstan di bawah kaki Alya. Di luar jendela, pemandangan padang rumput keemasan mulai berganti menjadi lautan ilalang yang bergoyang lembut diterpa angin sore. Cahaya matahari terbenam menyusup masuk melalui kaca gerbong, membiaskan warna oranye hangat yang memandangi setiap sudut ruangan berkayu itu. Alya mengusap sisa air mata di pipinya. Dengan jemari yang kini lebih mantap, ia membalik lembaran berikutnya dari buku catatan Nenek. Kertas bergelombang di lembar kedua itu tidak berisi deretan tanggal atau catatan harian biasa. Di sana, tulisan tangan Nenek yang tebal dan tegas mengukir sebuah alinea panjang. Seolah-olah, Nenek telah memprediksi bahwa suatu hari nanti, cucunya akan duduk di kursi 4A Senja Express ini dalam keadaan hancur dan tersesat.
“Alya, jika kamu membaca halaman ini, artinya kamu sedang berada di perjalanan yang paling kamu takuti: perjalanan menghadapi dirimu sendiri.”
Alya menahan napas. Suara Nenek seolah bergema pelan di dalam kepalanya.
“Kebanyakan orang menghabiskan seumur hidup mereka untuk mencari jalan 'pulang'. Mereka mengira pulang adalah kembali ke sebuah bangunan bercat putih, melangkah ke kamar masa kecil, atau mendatangi tempat di mana mereka dilahirkan. Tapi manusia sering lupa, rumah yang terbuat dari batu bata dan semen bisa hancur, bisa dijual, atau terasa asing jika jiwamu di dalamnya tetap kesepian.”
Alya meresapi setiap kata itu. Dulu, setiap kali ia merasa tertekan oleh target bulanan Pulang App, ia selalu berpikir untuk membeli apartemen mewah yang lebih luas atau memesan tiket liburan ke tempat terisolasi. Ia mengira "pulang" adalah jeda fisik dari tumpukan pekerjaan. Namun, sejauh apa pun ia terbang saat akhir pekan, hari Senin selalu menyambutnya dengan rasa hampa yang sama bahkan makin mencekik. Ia membalik halaman berikutnya. Tulisan Nenek berganti menjadi sketsa sederhana: gambar sebuah pohon tua dengan akar yang menjuntai dalam ke dalam tanah, dan sebuah pintu kecil yang terukir di batangnya.“Makna 'pulang' yang sejati, Alya, tidak pernah berkaitan dengan dimana tempat dan tujuannya. Pulang adalah proses menanggalkan semua gelar, semua topeng, dan semua ekspektasi orang lain yang selama ini kamu panggul di bahumu. Pulang adalah keberanian untuk kembali memeluk dirimu yang paling jujur, yang terluka, yang lelah, dan yang tidak sempurna.”
Kertas tua itu terasa sedikit hangat di bawah usapan jari Alya. Tiba-tiba, aroma teh chamomile di udara gerbong terasa makin kuat, bercampur dengan wangi kayu cendana yang menenangkan.Alya bersandar ke kursi berpelapis hijau tua yang mulai aus. Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan kalimat-kalimat Nenek meresap hingga ke celah jiwa terdalamnya.