Di luar jendela, gumpalan awan senja berwarna jingga keemasan menggantung indah di langit sore. Kecepatan Senja Express berangsur pelan, memangkas laju hembusan angin yang tadinya menerpa wajah Alya dari balik jendela kayu. Alya menutup buku catatan Nenek di pangkuannya. Pemandangan padang ilalang keemasan perlahan memudar, tergantikan oleh kabut tipis berwarna keperakan yang mengapung rendah di atas permukaan tanah. Dari balik tirai kabut itu, samar-samar terlihat papan kayu usang bercat putih yang tergantung di atas sebuah atap bangunan bergaya retro. Stasiun Lembar Beban. Begitu tulisan berukir kayu itu terbaca oleh mata Alya, roda kereta akhirnya berhenti total dengan desisan uap putih yang membumbung ke udara. Pintu gerbong berdecit terbuka secara otomatis. Tidak ada suara pengumuman dari pengeras suara, tidak ada hiruk-pikuk penumpang yang berdesakan, dan tidak ada derap langkah kaki tergesa-gesa seperti yang biasa Alya temui di stasiun kota. Tempat ini hening, hanya diiringi gesekan daun-daun rimbun dari pepohonan purba yang memagari sekeliling peron.
Alya ragu-ragu. Ia menatap bangku 4A yang selama beberapa jam terakhir menjadi tempat perlindungannya. Namun, mengabaikan panggilan stasiun ini terasa seperti mengingkari pesan Nenek. Dengan helaan napas panjang, Alya berdiri, memeluk buku catatan tua itu erat di dadanya, dan melangkah ragu menyusuri lorong gerbong menuju pintu yang terbuka. Udara luar stasiun menyambutnya dengan rasa dingin yang menyegarkan—sangat berbeda dari dingin kaku ruangan ber-AC kantornya. Setiap pijakan kakinya di atas lantai batu peron menimbulkan gema pelan yang menenangkan. Di tengah peron yang sepi itu, berdiri sebuah struktur aneh. Bukan mesin tiket digital atau layar petunjuk jadwal perjalanan, melainkan sebuah Timbangan Angin Raksasa yang terbuat dari campuran kayu cendana tua dan ukiran perunggu yang menghitam ditelan usia. Dua piringan besarnya menggantung sejajar di udara, seolah menunggu sesuatu untuk diletakkan di atasnya.Di samping timbangan itu, seorang pria tua bertopi pet kusam dengan seragam penjaga stasiun tua sedang berdiri tenang sambil memegang sebuah lentera kuno.
"Selamat datang di Stasiun Lembar Beban, Nona," sapa pria tua itu dengan suara serak yang ramah namun berwibawa.Alya mengerpalkan tangannya.
"Apakah... semua penumpang harus turun di sini?"Pria tua itu tersenyum tipis, matanya melengkung hangat. "Hanya penumpang yang ingin melangkah lebih jauh. Kereta Senja Express tidak akan membawa seseorang melintasi terowongan jika bahunya masih memikul terlalu banyak kepalsuan." Pria itu menunjuk ke arah piringan sebelah kiri Timbangan Angin yang masih kosong." Aturan stasiun ini sederhana," lanjut sang penjaga.