Langkah kaki Alya terhenti di depan meja kayu kecil di tepi peron Stasiun Lembar Beban. Di atas piring porselen putih berukir emas tipis itu, terbaring tiga butir buah ceri. Kulitnya berwarna merah marun pekat, mengilat sempurna tersiram cahaya temaram lentera penjaga stasiun. Tangkai-tangkainya yang hijau segar masih menempel ramping, tampak kontras dengan guratan kayu tua di sekelilingnya.
Alya menatap tiga butir ceri itu dengan dahi berkerut. Di tengah stasiun magis yang sunyi dan penuh teka-teki ini, keberadaan sebaki kecil buah ceri terasa sangat sederhana—bahkan terlalu sederhana jika dibandingkan dengan pengalaman ajaib yang baru saja ia lalui saat melucuti jabatannya di atas Timbangan Angin.
"Ambillah, Nona," suara lembut penjaga stasiun memecah keheningan. Pria tua itu berdiri beberapa langkah di belakang Alya, menopang lenteranya yang memancarkan pendar kuning hangat. "Setiap hal yang disajikan di tempat ini bukanlah sekadar penawar lapar, melainkan perantara bagi ingatan yang sengaja kamu kubur."
Alya mengulurkan jemarinya yang masih berbekal dinginnya udara peron. Saat ujung jarinya menyentuh permukaan buah ceri yang halus dan sedikit dingin, sebuah getaran aneh merambat cepat melintasi pergelangan tangannya, menjalar langsung ke balik dadanya.
Aroma manis yang tajam namun lembut mendadak mencuri penciumannya. Bukan aroma sintetis dari perisa makanan, melainkan aroma ceri segar yang dipetik langsung dari pohon tua di pekarangan rumah masa kecilnya.
Alya memetik satu butir ceri, lalu memasukkannya ke dalam mulut.
CEKLEK.
Saat giginya menggigit daging buah ceri yang tebal, rasa manis-asam yang meledak di lidahnya seketika melontarkan kesadaran Alya melintasi ruang dan waktu. Suara desis uap Senja Express dan dinginnya angin peron menguap begitu saja, digantikan oleh kehangatan sinar matahari pagi yang menerobos masuk dari sela-sela daun pohon rindang.
Alya kini bukan lagi seorang wanita tiga puluh tahunan dengan kemeja kaku dan bekas luka kelelahan mental. Ia melihat dirinya sendiri dalam wujud seorang gadis kecil berusia tujuh tahun, memakai gaun katun merah pudar yang sedikit kebesaran, duduk di atas bangku kayu bambu di bawah pohon ceri pekarangan rumah Nenek.
Angin pagi berembus lembut, menerbangkan beberapa helai daun kering. Di depannya, sosok Nenek sedang duduk menimang sebuah keranjang bambu berisi tumpukan buah ceri hasil petikan pagi itu. Wajah Nenek tampak sangat jernih—tanpa kerutan kepedihan, hanya ada garis-garis senyum yang dalam di sekitar matanya.
"Kenapa Nenek selalu petik buah ceri yang rasanya asam begini?" tanya Alya kecil saat itu, sambil mengernyitkan wajah menahan rasa asam di lidahnya.
Nenek tertawa pelan, suara tawa yang kencang namun menenangkan hati, jenis suara yang sudah bertahun-tahun tidak pernah Alya dengar lagi sejak Nenek berpulang.
"Ceri itu unik, Alya," sahut Nenek lembut, tangannya yang terampil memilih ceri terbaik dan memasukkannya ke dalam mangkuk kecil milik Alya. "Buah lain menawarkan manis yang langsung membuat lidahmu senang tanpa usaha. Tapi ceri? Ceri mengajarkanmu untuk menerima rasa asamnya terlebih dahulu sebelum kamu bisa menikmati manis di gigitan terakhirnya."
Alya kecil menatap buah merah di genggamannya dengan polos. "Alya enggak suka yang asam, Nek. Alya mau yang manis aja dari awal."
Nenek mengelus rambut Alya pelan, menatap matanya dengan kehangatan yang amat dalam.
"Manusia sering seperti itu, Cucuku. Ingin segalanya serba manis, serba cepat, serba sempurna dari awal. Tapi kalau kamu hanya mencari manisnya saja, kamu akan mudah mual dan lupa rasanya bersyukur. Rasa asam itu ada bukan untuk menyiksamu, tapi untuk menguji seberapa sabar kamu menikmati prosesnya sampai kamu menemukan manis yang sejati."
Nenek kemudian mengambil sebutir ceri yang paling merah, lalu mengusap pipi Alya kecil.
"Suatu hari nanti, kalau kamu tumbuh dewasa dan dunia terasa terlalu pahit atau terlalu cepat buatmu, ingatlah rasa ceri ini, Alya. Ingatlah bahwa kamu tidak perlu terburu-buru menghabiskan semuanya sekaligus. Nikmati asamnya, terima rasa sakitnya, lalu biarkan manisnya datang di saat yang tepat."
DUAR.
Bayangan pekarangan rumah Nenek meletup menjadi kilauan cahaya merah pudar. Sensasi ingatan itu ditarik paksa kembali ke masa kini.
Alya mengedipkan matanya berkali-kali. Ia kembali berdiri di peron dingin Stasiun Lembar Beban, dengan sisa rasa manis-asam ceri yang masih melekat kuat di pangkal lidahnya. Air mata hangat menetes pelan tanpa suara di pipinya—bukan air mata sesak seperti di kantor Pulang App, melainkan air mata rindu yang teramat sangat pada kesederhanaan masa kecilnya.