Senja Express melaju membelah kegelapan malam yang kian pekat. Di luar jendela, pemandangan padang ilalang dan gumpalan awan senja telah lenyap sepenuhnya, berganti menjadi lanskap berbatu terjal yang diselimuti kabut tebal berwarna abu-abu kebiruan. Suara gemuruh mesin kereta yang tadinya teredam oleh sihir kedap suara gerbong, kini mulai terdengar menyeruak tipis—seperti bisikan-bisikan gema yang memanggil nama Alya dari kejauhan.
Alya meraba dua butir buah ceri di dalam saku mantelnya. Sentuhan dingin dari kulit buah itu memberi rasa hangat yang aneh di dadanya, seolah mengingatkannya pada keberanian yang baru saja ia temukan di Stasiun Lembar Beban.
Perlahan, laju kereta kembali melambat. Roda-roda besi berdecit keras menghantam rel, menimbulkan getaran yang lebih kuat dibanding perhentian sebelumnya.
Dari balik jendela berdebu, Alya melihat papan stasiun berikutnya muncul dari kerapatan kabut abu-abu. Tulisan di papan kayu itu tampak sedikit berlumut dan dimakan usia: Stasiun Gema Bayang. Berbeda dengan Stasiun Lembar Beban yang terasa tenang dan sunyi, Stasiun Gema Bayang diselimuti oleh aura dingin yang menusuk tulang. Peron batu hitamnya tampak basah oleh embun malam, dan lampu-lampu gantung kuno di sepanjang dinding stasiun berkedip-kedip redup, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di atas lantai peron.
Pintu gerbong berdecit terbuka. Alya menarik napas panjang, merapikan buku catatan Nenek di dalam pelukannya, lalu melangkah turun dari kereta. Setiap pijakan kakinya di atas peron basah itu menghasilkan gema yang nyaring—bukan gema langkah biasa, melainkan gema suara-suara familiar dari masa lalunya yang mendadak menggema di udara dingin stasiun.
"Mbak Alya, aku capek... Fitur penenang tidur ini harus selesai sebelum subuh..."
Alya tersentak. Langkah kakinya terhenti seketika.
Suara itu... suara Maya, desainer UI/UX muda di timnya yang mengundurkan diri tiga bulan lalu karena depresi berat. Suara bergetar gadis itu memantul di dinding-dinding batu Stasiun Gema Bayang, terdengar sangat jernih dan menyayat hati.
"Tahan sebentar lagi ya, Maya. Demi jutaan pengguna yang butuh aplikasi kita..."
Kini giliran suara Alya sendiri yang bergema dari sudut peron yang gelap. Suara dingin dan penuh ambisi yang pernah ia ucapkan tanpa perasaan saat menolak memberikan waktu istirahat bagi juniornya.
Dada Alya mendadak sesak. Rasa mual yang teramat sangat kembali merayap naik ke tenggorokannya. Jika di Stasiun Pertama ia dipaksa melucuti topeng kepalsuannya sendiri, maka di Stasiun Gema Bayang ini, ia dipaksa menghadapi cermin mengerikan dari dampak tindakannya terhadap orang lain.
"Selamat datang di Stasiun Gema Bayang, Nona Alya," sebuah suara serak menyapa dari balik kegelapan.