Malam di dalam gerbong Senja Express terasa kian pekat. Setelah meninggalkan kabut abu-abu Stasiun Gema Bayang, ruang berkayu di sekeliling Alya kembali diselimuti oleh keheningan magis yang menenangkan. Hanya ada gema lembut dari detak jantungnya sendiri dan kehangatan dari dua butir buah ceri yang masih tersimpan di dalam saku mantelnya.
Alya bersandar pada Kursi 4A. Penyesalan yang tadi meletup di peron stasiun kedua tak lagi terasa membebani, melainkan mengendap menjadi sebuah kesadaran yang jernih. Ia membelai sampul cokelat buku catatan Nenek di pangkuannya, mengingat pesan terakhir dari wanita tua bertongkat perak di stasiun sebelumnya:
“Ubah alat itu menjadi suaramu yang paling jujur.”
Kata-kata itu terus berputar di kepala Alya. Alat? Apakah yang dimaksud adalah aplikasi Pulang App? Ataukah sesuatu yang lebih mendasar dari itu?
Saat Alya sedang menerka-nerka, sebuah bunyi klik mekanis yang ri nyaring mendadak terdengar dari arah meja kecil berbahan kayu jati di samping kursinya.
Alya berpaling. Di atas meja yang tadinya kosong itu, kini tergeletak sebuah benda yang sangat familiar namun sekaligus terasa asing.
Sebuah keyboard mesin tik mekanis berwarna abu-abu kusam dengan tombol-tombol bulat berbahan besi tipis yang tampak memudar di beberapa bagian. Tampilannya memadukan kesan klasik abad lalu dengan sentuhan pendar cahaya kebiruan yang tipis di sela-sela tombolnya—seolah-olah benda itu dialiri energi magis yang sama dengan Senja Express.
Alya menatap keyboard itu dengan napas tertahan. Bagi Alya, keyboard adalah sebuah benda yang memiliki dua sisi mata pisau. Selama bertahun-tahun di kantor Pulang App, papan ketik laptop adalah senjata utama sekaligus tempat penyiksaannya. Melalui ketikan demi ketikan jemarinya di atas keyboard, ia merancang algoritma kecanduan, menyusun kalimat-kalimat motivasi manis yang manipulatif untuk puluhan ribu pengguna, serta mengetik email-email dingin yang menuntut target tanpa ampun kepada stafnya. Keyboard adalah alat yang melaluinya ia menjual ilusi kedamaian—dan alat itu pula yang perlahan merenggut jiwanya.
Alya mengulurkan tangannya yang ragu-ragu. Jemarinya melayang beberapa sentimeter di atas tombol-tombol besi keyboard tua itu. Ada rasa takut yang mendadak menyengat pergelangan tangannya. Bagaimana jika saat ia menyentuhnya, tumpukan target bulanan, notifikasi pesan direksi, dan revisi fitur yang tak ada habisnya kembali memborbardir kepalanya? Namun, bau aroma kayu cendana dan teh chamomile di udara gerbong seolah mendekap bahunya, memberinya keberanian.
Alya menurunkan jemarinya. TAP. Ujung telunjuknya menekan tombol huruf 'A'.
Suara ketukan mekanis yang nyaring dan berbobot bergema di dalam gerbong, disusul oleh letupan cahaya emas kecil yang memancar dari bawah tombol tersebut. Tidak ada layar monitor digital di depan Alya, tidak ada baris kode software, dan tidak ada indikator target angka yang menyala mengejar waktu. Yang muncul di udara kosong di atas keyboard hanyalah sebuah pendar huruf keemasan yang melayang anggun sebelum perlahan meresap masuk ke dalam lembaran kosong buku catatan Nenek.
Alya tertegun. Papan ketik ini tidak terhubung ke peladen startup atau dunia digital yang beracun. Keyboard ini terhubung langsung ke dalam pikiran dan kedalaman hatinya.
Dada Alya bergetar. Selama bertahun-tahun, ia mengetik hanya atas dorongan tuntutan orang lain—investor, atasan, media, dan citra kesempurnaan yang semu. Ia tak pernah lagi mengetik untuk menyuarakan apa yang sebenarnya ia rasakan. Jemarinya telah lupa cara menuliskan kejujuran.
“Rumah adalah tempat di mana kamu tidak perlu berpura-pura menjadi siapa pun.”