DZZZZT.
Lampu-lampu interior di dalam gerbong Senja Express mendadak padam. Suasana di sekeliling Alya berubah seketika menjadi gulita yang pekat dan mutlak. Di luar jendela, bayangan gunung batu raksasa menelan habis seluruh sisa cahaya langit, memenjarakan kereta dalam celah terowongan yang seolah tak berujung.
Sihir kedap suara yang selama ini membungkus gerbong lenyap sepenuhnya. Suara gemuruh roda besi yang beradu dengan rel mendadak memekakkan telinga, bergema keras memantul di dinding-dinding batu terowongan. Desisan uap mesin kereta terdengar seperti helaan napas raksasa yang lapar di kegelapan malam. Alya tersentak. Refleks, kedua tangannya memeluk erat buku catatan Nenek di dadanya.
Dalam kegelapan yang tak menembus pandangan mata itu, Alya tidak bisa melihat ujung jarinya sendiri. Tidak ada pemandangan padang ilalang keemasan, tidak ada pendar lentera stasiun, dan tidak ada kehangatan cahaya dari tombol-tombol keyboard magis. Semua elemen visual yang selama ini membantunya merasa aman mendadak direnggut tanpa sisa.
Hanya ada Alya, kegelapan terowongan, dan bising roda besi yang mengancam. Napas Alya berembus cepat dan pendek. Rasa cemas yang sudah lama tidak ia rasakan mendadak kembali merayap pelan dari dasar perutnya. Jantungnya berdegup kencang memukul dada. Ini adalah sensasi ketakutan yang sangat ia kenali: sensasi yang sama saat ia mengalami panic attack di toilet kantor Pulang App tepat sebelum memimpin rapat besar bersama direksi.
Ketakutan akan kehilangan kendali. Ketakutan berada di dalam ketidaktahuan.
"Kenapa keretanya makin gelap?" bisik Alya pada hampa udara, suaranya tenggelam di antara dentuman gemuruh kereta.
Tiba-tiba, dari kegelapan di samping kursinya, terdengar bisikan-bisikan dingin yang menyusup ke telinganya. Bisikan-bisikan itu bukan berasal dari luar, melainkan memantul langsung dari celah-celah memorinya yang paling kelam.
"Kamu cuma melarikan diri, Alya..."
"Kamu pikir dengan naik kereta ini, semua masalahmu di kantor selesai?"
"Kamu itu penipu. Kamu meninggalkan stafmu, menelantarkan bisnismu, dan menyembunyikan kegagalanmu di balik nostalgia masa kecil..."
Alya menutup kedua telinganya rapat-rapat dengan telapak tangan, memejamkan mata di dalam kegelapan yang sudah pekat. Bisikan-bisikan itu terasa begitu nyata, memborbardir pikirannya dengan rasa ragu dan bisikan ketidakpastian. Di dalam kegelapan terowongan, bayang-bayang kegagalan masa lalu tampak sepuluh kali lebih menakutkan karena tidak ada cahaya luar yang bisa membantunya membantah suara-suara itu.