Cahaya perak rembulan yang tadinya menyiram lembut interior gerbong Senja Express mendadak meredup. Alya, yang baru saja merasakan ketenangan usai menembus Terowongan Pertama, mendadak menegakkan posisi duduknya di Kursi 4A. Buku catatan Nenek yang ada di pangkuannya terasa mendadak dingin—dingin yang menusuk hingga ke balik tulisan keemasan yang baru saja terukir di sana.
BARRR!
Getaran hebat menghantam lantai kayu gerbong tanpa peringatan. Itu bukan guncangan biasa akibat rel yang kasar. Guncangan ini datang dari atas dan samping, seolah-olah ada jemari raksasa dari luar yang sedang meremas dan mengocok gerbong Senja Express dengan ganas. Dinding-dinding kayu berderit nyaring, lampu gantung di langit-langit berayun liar, dan gelas porselen di meja restorasi meluncur jatuh, berkeping-keping di atas lantai.
Alya mencengkeram erat sandaran kursi kayu di depannya. Napasnya tertahan.
"Ada apa ini?" bisik Alya gagap.
Anehnya, sihir kedap suara yang tadinya membungkus gerbong tidak hilang sepenuhnya, melainkan berubah bentuk. Gemuruh mesin kereta di luar mendadak menghilang, digantikan oleh suara desisan angin yang membeku. Dan di tengah keheningan yang aneh itu, kaca jendela di samping Kursi 4A mulai tertutup oleh lapisan embun es tebal yang merambat cepat dari sudut-sudut bingkainya.
Alya menahan napas saat memperhatikan embun es tersebut. Di atas permukaan kaca yang memutih itu, sebuah goresan garis mendadak terbentuk secara otomatis—seolah ada jemari tak terlihat yang sedang melukiskan tulisan di sana.
Huruf demi huruf terbentuk dari uap dingin:
Kamu lari dari siapa, Alya?
Dada Alya berdesir tajam. Penglihatannya terpaku pada tulisan es tersebut.
Sebelum Alya sempat mencerna arti kalimat itu, lampu-lampu interior gerbong mulai berkedip-kedip cepat (flickering). KLIK-KLIK-KLIK. Setiap kali lampu padam selama satu detik, udara di sekeliling Alya terasa makin rapat dan menyesakkan, membawa aroma yang sangat spesifik dan familiar.