Sebuah Kereta Tua

Puteri Q.
Chapter #12

Bab 12: Dikepung Awan

Kabut abu-abu dari gerbong belakang mendadak membalap laju kereta, menyeruak keluar menembus celah-celah jendela dan membungkus seluruh bagian luar Senja Express. Dalam hitungan detik, pemandangan luar jendela lenyap total. Tidak ada lagi bintang, tidak ada rel, dan tidak ada daratan.

Kereta itu seolah-olah terangkat melayang, meluncur di tengah lautan awan putih keperakan yang sangat pekat dan tebal.

Alya berdiri mematung di lorong tengah gerbong. Napasnya terengah-engah, membusakan uap dingin setiap kali ia mengembuskan napas. Guncangan liar yang tadinya hampir melempar tubuhnya mendadak mereda secara tidak wajar. Senja Express kini bergerak tanpa suara, meluncur dalam keheningan yang menggetarkan dada.

Alya menunduk, melirik jarum jam tangan analog berbahan kulit hitam di pergelangan tangan kirinya.

Mata Alya melotot. Jarum detik jam tangannya tidak berputar ke kanan, melainkan berdenting mundur dengan cepat. TIC-TAC-TIC-TAC. Angka jarum jam bergerak melompat mundur—dari pukul sembilan malam, ke delapan, tujuh, enam... seolah-olah ruang di dalam gerbong ini sedang merobek tatanan waktu.

"Waktunya... mundur?" bisik Alya gemetar.

Ia mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu liar. Namun, begitu ia mengangkat wajahnya kembali, matanya menangkap keanehan baru yang bertebaran di sekeliling gerbong.

Interior Senja Express yang tadinya bergaya retro-klasik ala Kereta Jawa tua perlahan-lahan bermutasi. Kursi-kursi berbalut kain hijau tua di sekelilingnya mendadak dilapisi oleh sarung bantal rajut berwarna krem—rajutan tangan dengan pola bunga melati yang sangat, sangat dikenal Alya.

Alya melangkah maju dengan kaki yang gemetaran. Jemarinya yang dingin menyentuh permukaan sarung bantal rajut itu.

Sensasi benang wol kusam yang sedikit kasar menyengat kulitnya. Ini adalah sarung bantal ruang tamu rumah halamannya di kampung. Rajutan yang dulu selalu dikerjakan oleh Ibunya setiap sore di teras depan sambil menunggu Alya pulang sekolah.

Alya menoleh ke meja kayu di samping Kursi 4A. Di atas meja yang tadinya kosong itu, kini berdiri sebuah botol kaca kecil berdinding tebal dengan tutup plastik hijau yang sudah memudar warnanya: Minyak Kayu Putih—botol tua yang selalu ada di atas nakas kamar Ibunya. Di sebelahnya, tergeletak sepasang jarum rajut bambu dan gulungan benang wol merah pudar yang belum selesai dirajut.

Aroma minyak kayu putih dan tembakau cengkih tipis membumbung makin tajam dari meja itu, menusuk indra penciuman Alya.

Lihat selengkapnya