KRRRRINGGG!
Suara dering telepon putar berbahan besi tua memecah keheningan yang menyesakkan di dalam gerbong Senja Express.
Alya yang masih tersungkur di atas lantai kayu miring tersentak. Di tengah kepungan awan hitam yang gulita dan keheningan yang mencekat, bunyi dering itu bergema sangat nyaring, repetitif, dan memekakkan telinga.
KRRRRINGGG!
Alya perlahan mengangkat tubuhnya yang gemetar. Dengan pandangan yang samar oleh air mata, ia menoleh ke arah sudut depan gerbong. Di sana, tertempel pada dinding kayu dekat pintu penghubung, sebuah pesawat telepon dinding berwarna hitam kusam dengan kabel spiral yang meliuk kaku.
Telepon itu terus berdering. Lampu indikator kecil di atas gagangnya berkedip-kedip merah di dalam kegelapan.
Alya menelan ludah yang terasa pahit. Di kereta magis yang terisolasi dari dunia nyata ini, siapa yang bisa meneleponnya. Jemari Alya yang dingin mencengkeram erat buku catatan Nenek, dengan langkah pelan dan ragu, ia memaksakan kakinya menyeret tubuh mendekati dinding gerbong. Setiap kali dering telepon itu bertalu, dada Alya berdenyut nyeri, seolah-olah getaran frekuensinya merambat langsung ke balik tulang rusuknya.
Ia berdiri tepat di depan pesawat telepon itu. Kabel spiralnya tampak bergetar pelan. Dengan tangan gemetar, Alya mengulurkan jemarinya dan meraba gagang telepon yang terasa sangat dingin—sedingin es peron. Ia mengangkat gagang itu, lalu menempelkannya perlahan ke telinganya.
"Ha... halo?" bisik Alya gagap. Suaranya serak dan nyaris tenggelam.
Suara kresek white noise yang tebal menyapa pendengarannya, disusul oleh gema tiupan angin malam yang dingin dari seberang sambungan. Kemudian, di tengah gesekan frekuensi tua itu, sebuah suara yang amat sangat dirindukannya mengudara pelan.
"Alya... Cucuku..."
Alya membeku. Napasnya tertahan seketika.
"Nenek?" jerit Alya lirik, air mata hangat seketika merebak di pelupuk matanya. "Nenek! Nenek di mana?! Keretanya gelap, Nek... keretanya miring dan Alya enggak tahu harus ke mana lagi..."