Sebuah Kereta Tua

Puteri Q.
Chapter #14

Bab 14: Guncangan Kedua

Udara di dalam gerbong Kursi 4A tak lagi sekadar dingin—udara itu membeku, membawa aroma sengatan es dan keputusasaan yang pekat. Gema kalimat bentakan Alya pada Ibunya dua tahun lalu masih berputar-putar di dalam kepala Alya, memantul-mantul menghantam dinding dada. Napas Alya memburu, pendek-pendek dan tidak teratur. Jemarinya yang pucat mencengkeram tepi meja kayu gerbong begitu kuat hingga ujung-ujung kuku tangannya memutih."Ibu cuma bikin Alya tambah beban tahu enggak?!" Kalimat beracun itu terasa bagaikan sembilu yang menguliti pertahanan dirinya.

Selama ini, Alya membungkus dirinya dengan narasi bahwa dialah korban—anak berbakti yang mengorbankan masa mudanya di Jakarta demi membahagiakan orang tua. Namun di dalam gerbong Senja Express yang remang ini, topeng itu terkoyak tanpa sisa. Alya panik. Rasa malu yang teramat sangat beradu dengan penolakan egonya."Enggak... enggak begitu maksudku..." bisik Alya gagap pada kehampaan gerbong. "Aku cuma capek! Aku cuma stres!" Ia membela dirinya sendiri, menolak mengakui betapa jahatnya kalimat yang pernah ia lontarkan. Namun, makin keras Alya mencoba beralasan di dalam hatinya, makin hebat pula penolakan batin yang meledak di dalam jiwanya.Dan Senja Express merespons ledakan emosi itu secara brutal.

BARRRR!

Lihat selengkapnya