Sensasi dingin embun pagi menusuk lembut telapak kaki Alya yang tak beralas. Sepatunya entah terlempar ke mana saat insiden tergelincirnya Senja Express. Namun anehnya, permukaan tanah di Dunia Atsir tidak terasa tajam atau melukai. Lumut tebal yang menyelimuti bebatuan terasa selembut karpet bulu, membuai setiap pijakan kakinya dengan kehangatan yang tak masuk akal.
Alya berdiri terpaku di tengah hamparan hutan purba yang sunyi. Langit di atas sana tidak memiliki matahari maupun bulan; warna jingga temaram berlapis serat keperakan membentang kaku, membiaskan cahaya sore yang abadi.
Alya menghirup udara dalam-dalam. Paru-parunya seketika dipenuhi oleh kombinasi aroma yang sangat spesifik: bau wangi cengkih yang dibakar, minyak kayu putih, dan manisnya aroma ubi rebus yang baru diangkat dari dandang.
Aroma masakan dan keseharian Ibunya.
"Tempat apa ini?" bisik Alya lirik. Suaranya tidak memantul, melainkan terserap oleh kerapatan dedaunan lebat di sekelilingnya.
Ia menunduk menatap buku catatan Nenek di genggamannya. Sampul kulit cokelat tua itu kini dihiasi oleh urat-urat pendar keemasan yang menjalar seperti akar pohon, seolah-olah buku itu sedang bernapas dan berinteraksi secara langsung dengan energi tanah Dunia Atsir.
Alya membuka halaman demi halaman. Lembaran-lembaran kertas yang sebelumnya berisi ketikan kejujuran kini telah mengering sempurna. Namun di halaman baru yang kosong, tinta hitam tebal mendadak muncul meletup dari serat kertas, membentuk sebaris tulisan tangan berulir:
“Dunia Atsir adalah ruang di antara niat dan ketakutan. Kereta telah melepasmu, Alya. Sekarang, kakimulah yang harus menuntunmu pulang.”
Alya mengusap tulisan itu dengan ibu jarinya. Ruang di antara niat dan ketakutan. Alya menyadari betul maksud kalimat tersebut. Di dunia nyata, niatnya untuk pulang dan memeluk Ibunya selalu ada, namun ketakutan akan rasa malu dan anggapan bahwa dirinya anak yang gagal selalu menahannya di Jakarta. Dunia Atsir ini adalah manifestasi dari batas tak bertepi yang selama dua tahun terakhir ia ciptakan sendiri untuk memenjarakan hatinya.
SREK. SREK.
Suara gesekan dedaunan kering di balik semak-semak membuat Alya tersentak kaget. Ia dengan refleks memeluk buku Nenek di dadanya, melangkah mundur dua tindak.
"Siapa di sana?" panggil Alya dengan nada bersiap.
Dari balik kerimbunan pohon berdaun keperakan, sebuah pendar cahaya berbentuk bundar melayang keluar secara perlahan. Cahaya itu berukuran sebesar bola tenis, memancarkan pendar keemasan lembut yang tidak menyilaukan mata. Di dalam pendar cahaya itu, Alya bisa melihat partikel-partikel embun dan wewangian aromaterapi yang menari-nari melingkar.