Kabut hitam yang membelit tangga kayu Rumah Panggung terasa sedingin es saat kulit kaki telanjang Alya menyentuhnya. Namun, Alya tak membiarkan rasa takut menahannya lagi. Ia menaiki anak tangga satu demi satu, mendengarkan derit papan jati tua yang berderak halus di bawah bobot tubuhnya—bunyi familiar yang seketika melemparkannya kembali ke kenangan masa kecil saat ia sering berlarian menyambut sore di rumah kampung.
Begitu kakinya menjejak ambang pintu teras kayu yang terbuka lebar, kabut hitam yang tadinya membuntutinya perlahan-lahan menyusut, tertahan kaku di luar batas pelataran seolah tak berani menembus interior suci rumah panggung tersebut.
Alya melangkah masuk secara perlahan, menahan napasnya.
Suasana di dalam rumah panggung terasa sangat hangat dan memancarkan pendar cahaya yang menenangkan. Pendar keemasan terpancar tipis dari celah-celah dinding papan kayu jati, menerangi ruangan beratap tinggi yang dipenuhi aroma pandan segar, minyak kayu putih, dan kayu jati tua yang terbakar hangat oleh sinar matahari sore. Tidak ada derum mesin kota, tidak ada kilatan cahaya lampu neon kaku, tidak ada dering pemberitahuan ponsel—hanya ada keheningan murni yang memeluk jiwanya yang dahaga.
Mata Alya menyapu seluruh sudut ruangan dengan pandangan berembun. Dadanya bergetar hebat.
Di sudut ruang tamu, tergeleng sebuah bale-bale kayu panjang yang ditutupi tikar pandan rajutan tangan yang sudah halus dipelihara waktu. Di atasnya, tergeletak tumpukan kain sarung dengan motif batik pesisiran khas buatan kampung halaman—sarung-sarung tua berbahan katun lembut yang dulu kerap dipakai Ibunya saat menyetrika baju di sore hari sambil mendengarkan siaran radio.
Di tengah ruangan utama, sebuah meja makan kayu jati berukuran pendek dikelilingi oleh empat buah bangku bambu yang ditata amat rapi.
Alya berjalan pelan mendekati meja makan itu. Jemarinya yang gemetar mengusap permukaan kayu yang terasa begitu halus oleh gesekan usia. Di atas meja tersebut, terhidang piring-piring porselen putih berlis biru yang ditutup rapat oleh sebuah tudung saji rajutan bambu berwarna cokelat keemasan.
Alya mengangkat tudung saji itu dengan napas tertahan di tenggorokan.
Di bawahnya, terhidang mangkuk keramik berisi sayur lodeh manisa yang memikat, beberapa potongan tahu goreng hangat, dan sambal terasi yang disajikan di dalam cobek batu kecil. Masakannya masih memancarkan uap tipis yang bergulung-gulung lembut di udara, membawa aroma harum gurih yang langsung meremas perut serta lubuk hati Alya yang paling dalam. Ini adalah hidangan persis yang selalu disiapkan Ibunya di rumah setiap kali Alya berjanji akan pulang di akhir pekan—hidangan hangat yang dulu berulang kali mendingin, mengering, dan akhirnya membusuk di bawah tudung saji karena Alya mendadak membatalkan kepulangannya demi pekerjaan startup di Jakarta.
"Ibu..." bisik Alya gagap. Air mata hangat merembes pelan dari sudut matanya, menetes tepat ke tepi piring porselen putih itu.
Setiap sudut rumah panggung ini dipenuhi oleh jejak kasih sayang yang tak bertepi. Tempat ini bukan sekadar bangunan kayu magis di Dunia Atsir; tempat ini adalah monumen ingatan dari seorang wanita tua yang tidak pernah berhenti menunggu anaknya pulang, tak peduli berapa kali anak itu mengabaikannya.
Alya menutup kembali tudung saji itu dengan tangan bergetar, tak sanggup menahan gelombang rasa bersalah yang mengucur menindih dadanya.
Ia memutar tubuhnya perlahan, bermaksud mencari tahu dari mana pendar cahaya hangat dan sumber kehidupan di dalam rumah ini berasal. Pandangannya menerobos lorong tengah rumah panggung yang lurus menuju ke arah kamar-kamar di bagian belakang.
Di sana, di ujung lorong berlantai papan jati yang mengilap, Alya melihat sebuah pintu kayu berukir rumit.
Berbeda dengan pintu-pintu lain di rumah ini yang terbuka lebar dan memancarkan kehangatan, pintu kamar utama di ujung lorong itu tertutup rapat-rapat. Dan yang membuat Alya merinding kaku dengan napas tercekat adalah apa yang melilit permukaan pintu tersebut.
Sebuah rantai besi tebal berwarna hitam pekat melilit gagang, daun pintu, dan kusen jati itu berkali-kali secara amat rapat. Rantai itu tidak tampak seperti buatan pandai besi manusia; permukaannya kasar, diselimuti embun es tipis yang membeku, dan memancarkan hawa dingin yang luar biasa tajam. Di tengah-tengah lilitan rantai tersebut, tergantung sebuah gembok besi raksasa tanpa lubang kunci yang dipenuhi oleh guratan-guratan retakan berwarna kelabu kusam.
Aura dari pintu terkunci itu mendadak mengubah suhu hangat di dalam rumah panggung secara drastis. Udara di lorong belakang membeku berembun, menusuk dingin hingga ke balik tulang rusuk Alya.
Alya melangkah mendekati pintu tersebut dengan jantung yang berdebar kencang.
Makin dekat ia melangkah, makin terasa aura penolakan, kepanikan, dan rasa malu yang terpancar dari balik gembok raksasa itu. Ini bukan rantai yang dipasang oleh Ibunya untuk mengusir Alya atau menutup pintu maaf. Rantai dan gembok besi hitam ini adalah wujud nyata dari gembok batin yang Alya bangun dan pasang sendiri—sebuah benteng ketakutan, gengsi, dan rasa malu yang ia konstruksikan selama bertahun-tahun untuk mengunci rapat ingatan tentang kesalahan dan bentakannya pada sang Ibu.
Ia takut membuka pintu itu karena ia takut melihat apa yang ada di dalamnya: bukti nyata kehancuran hati seorang Ibu yang dilukai oleh anak kandungnya sendiri.
Alya mengulurkan tangannya yang gemetar, berniat menyentuh permukaan gembok besi hitam tersebut untuk membuktikan kebenarannya.
DZZZT!
Saat ujung jarinya berjarak satu sentimeter dari permukaan gembok, sebuah sengatan dingin yang amat kuat dan menyengat meletup keluar. Alya tertarik mundur dua langkah, menahan pekikan perih di ujung jari tangannya.