Sebuah Kereta Tua

Puteri Q.
Chapter #17

Bab 17: Kabut Pekat

Dingin yang merayap dari pergelangan kaki Alya tidak lagi terasa seperti dinginnya udara malam biasa. Rasa dingin itu adalah rasa hampa yang membekukan, tipikal dingin yang menggerogoti ketahanan batin hingga rasanya tulang-tulang di dalam tubuh menusuk dagingnya sendiri.

Dari sela-sela lilitan rantai hitam dan gembok berdenyut di pintu kamar utama, Kabut Pekat berwarna hitam keabu-abuan itu membual makin deras. Kabut itu bergulung-gulung bagaikan asap minyak terbakar, memenuhi lorong belakang rumah panggung, lalu merayap cepat mengurung seluruh ruangan utama.

Aroma hangat pandan, tumisan sayur lodeh, dan wangi kayu jati tua yang tadinya memenuhi ruangan seketika lenyap total, disapu oleh bau berjelaga yang hangus dan amisnya rasa penyesalan.

Alya mencoba berdiri dari posisi berjongkoknya. Namun, kedua kakinya terasa seberat timah. Kabut pekat itu telah membungkus betisnya, mengikatnya di atas lantai papan kayu yang kini tak lagi memancarkan pendar keemasan.

SZZZT...

Di dalam kepungan kabut pekat yang membutakan itu, suara bisikan dari masa lalu tak lagi sekadar bergema di dinding lorong. Suara-suara itu mendadak menjelma menjadi riak gelombang frekuensi yang berderis bising di dalam tempurung kepala Alya.

"Kamu anak yang tidak tahu diri, Alya..."

Suara pertama bergaung tajam. Itu bukan suara orang lain, melainkan teriakan suara di dalam kepalanya sendiri—suara ketakutan yang selalu menuduhnya setiap kali ia merasa tak sempurna.

"Ibumu membesarkanmu dengan peluh dan doa, tapi apa yang kamu berikan? Kamu menyisihkan waktu lima menit saja untuk mendengarkan suaranya di telepon pun tidak sudi..."

"Kamu malu pulang karena kamu gagal jadi CPO hebat di Jakarta, kan? Kamu lebih sayang pada gengsimu daripada perasaan wanita tua yang menunggu di teras itu!"

"Enggak... enggak seperti itu!" jerit Alya ke dalam kegelapan kabut. Suaranya pecah, tertahan oleh sesak yang membakar dadanya.

Alya mengepalkan kedua tangannya, meremas kain mantel cokelat yang ia kenakan. Air mata panas mengalir deras menyusuri pipinya, menetes jatuh membelah kabut hitam di bawah dagunya.

Kalimat-kalimat penghakiman itu menghantam Alya bertubi-tubi. Kabut Pekat ini adalah Kabut Penyesalan—manifestasi dari seluruh dinding pertahanan emosional yang dibangun oleh rasa malunya. Selama dua tahun terakhir, Alya melarikan diri dari kenyataan bahwa ia telah melukai Ibunya. Ia bersembunyi di balik tumpukan berkas kerja, deadline produk, dan kesibukan semu Jakarta hanya agar ia tidak perlu berhadapan dengan kenyataan betapa buruknya perlakuan yang ia berikan pada sang Ibu.

Ia mengurung dirinya sendiri dalam narasi bahwa "ia bekerja keras demi keluarga", padahal nyatanya, ia sedang memanjakan egonya agar terlihat sukses di mata dunia.

CRACK... CRACK...

Lihat selengkapnya