Pendar lentera kebiruan di tengah kabut tebal itu menuntun langkah Alya menelusuri alur jalan setapak berbatu yang makin menanjak. Setiap kali kakinya yang tak beralas sepatu memijak tanah basah, aura dingin kabut hitam di belakangnya makin menipis, hingga akhirnya benar-benar meluruh menjadi gumpalan embun sejuk yang mengendap tenang di atas dedaunan.
Alya menembus barisan terakhir pepohonan purba Dunia Atsir yang menjulang kaku.
Langkah kakinya terhenti seketika di atas sebuah pelataran semen tua yang retak-retak dan ditumbuhi rumput liar berbercak embun. Di depannya, di balik buai angin malam yang membawa aroma tanah basah dan samar-samar wangi bunga kenanga, membentang sebuah struktur bangunan tua yang tampak sangat merana dan terlupakan oleh waktu.
Sebuah peron stasiun kereta api yang lusuh, sunyi, dan terbengkalai.
Atap seng peron itu sudah bolong-bolong dimakan usia dan karat hitam, membiarkan pendar cahaya keperakan dari langit Dunia Atsir menerobos masuk dan membentuk pola-pola pendar yang kusam di atas lantai semen berdebu. Tiang-tiang besi penyangganya berkarat hebat, dililit oleh sulur-sulur tanaman liar berduri yang mengering. Di tepi peron, dua jalur rel kereta yang membisu tampak berkarat, melengkung kaku, dan tertimbun oleh tumpukan daun-daun kering yang membusuk.
Tidak ada plang nama stasiun di tiang-tiang kayu itu. Hanya ada satu bangku kayu panjang bertulang besi tua yang bersandar kaku pada dinding peron yang terkelupas catnya.
Alya melangkah pelan memasuki pelataran peron, mendekati tepi semen yang dingin. Rel kereta yang mati dan tertimbun dedaunan tua itu seketika mengingatkannya pada Senja Express—kereta magis yang telah meninggalkannya akibat badai emosi, kepanikan, dan ketakutan di dalam dadanya sendiri. Tempat ini terasa seperti akhir dari sebuah perjalanan yang terputus, tempat transit sementara bagi jiwa-jiwa lelah yang tidak pernah berani sampai ke tujuan mereka.
Saat Alya sedang menatap kosong ke arah rel tua yang mati itu, sebuah suara gesekan kain berdebu terdengar pelan dari sudut bangku kayu panjang.
"Kereta di jalur ini sudah tidak melintas sejak bertahun-tahun lalu, Nak."
Alya tersentak kaget, refleks melangkah mundur dua tindak sambil memeluk buku catatan Nenek erat-erat di dadanya.
Di atas bangku kayu panjang yang tadinya tampak kosong dan berdebu itu, kini terduduk seorang pria paruh baya bertubuh kurus. Ia mengenakan kemeja kain lusuh bergaris-garis yang kancing atasnya terlepas, serta celana kain kusam yang ujung-ujungnya terlipat kasar. Di samping kakinya yang beralas sandal jepit tipis dan terkikis, tergeletak sebuah koper kulit tua berwarna cokelat gelap yang sudut-sudutnya sudah mengelupas parah.
Wajah pria itu dipenuhi garis-garis kerutan lelah yang amat dalam, namun matanya yang agak cekung memancarkan ketenangan yang aneh—ketenangan pasrah dari seseorang yang telah terlalu lama menanti.
"Si... siapa Bapak?" tanya Alya pelan. Suaranya masih tersisa parau, serak oleh bekas tangisan di depan pintu terlilit rantai sebelumnya.
Pria tua itu tersenyum tipis, mengibaskan sedikit debu dari paha celananya sebelum menepuk permukaan tempat kosong di sampingnya di bangku kayu.