Meninggalkan peron lusuh di belakangnya, Alya melangkah menyusuri garis rel tua yang makin menanjak membelah perbukitan batu Dunia Atsir. Udara di tempat ini tidak lagi terasa mencekam, berat, atau membekukan. Hawa dingin yang bertiup di sepanjang lereng bukit kini terasa begitu murni, jernih, dan segar, membawa keheningan yang amat sangat lapang—jenis keheningan alami yang memberikan ruang bagi jiwa yang lelah untuk akhirnya bernapas dengan lega.
Di depan sana, menjulang sebuah bukit batu bergelombang yang puncaknya tampak seolah menyentuh batas langit malam.
Dari puncak bukit itu, memancar kilauan cahaya emas bercampur warna biru keperakan yang berkilau indah, membiaskan pemandangan bagaikan kumpulan jutaan bintang jatuh yang melingkupi daratan. Bukit Bintang. Tempat di mana seluruh ingatan murni, kasih sayang jujur, dan kebenaran murni yang selama ini dikunci rapat oleh ego serta rasa malu Alya bersemayam menanti untuk ditemukan kembali.
Alya melangkah dengan mantap. Kaki telanjangnya yang kotor oleh tumpukan tanah basah menapak batu-batu kerikil halus di sepanjang jalan setapak pendakian tanpa rasa sakit sedikit pun.
Saat Alya baru melangkah sekitar seratus meter mendaki lereng bukit, sebuah pendar cahaya redup yang membias di balik semak-semak bunga liar menyedot perhatiannya.
Alya menghentikan langkahnya, mendekati semak-semak itu dengan rasa ingin tahu yang membuncah di dada. Di antara kelopak-kelopak bunga kuning kecil yang berembun, tergeletak sebuah benda tua yang sangat dikenal Alya: sebuah selendang kain katun kusam berwarna cokelat muda dengan motif batik bunga melati di setiap sisinya.
Dada Alya berdesir hangat luar biasa. Tangannya yang gemetar terulur, mengambil selendang tua itu dari atas tanah basah.
Tekstur kainnya begitu lembut di telapak tangannya, dan begitu Alya mendekatkan kain itu ke dadanya, aroma harum minyak kayu putih, tumbukan daun pandan, serta wangi sabun cuci batangan milik Ibunya meletup kuat dari balik serat-serat kainnya. Selendang ini adalah kain tua yang biasa dipakai Ibunya untuk menggendong Alya sewaktu kecil, kain yang sama yang selalu diselimutkan ke tubuh Alya setiap kali ia terbaring demam di malam hari di rumah kampung.
Alya memeluk selendang itu erat-erat di dadanya, memejamkan mata sambil menghela napas panjang. Ajaibnya, selendang tua itu memancarkan pendar kehangatan yang langsung meresap ke dalam pembuluh darah Alya, menghapus rasa lelah di persendian kakinya secara instan.
Alya menyampirkan selendang tua Ibunya itu ke sekeliling bahunya. Rasa hangat dari serat kainnya merengkuh pundak Alya bagaikan pelukan nyata seorang Ibu yang sedang menenangkan anak kecilnya dari ketakutan akan kegelapan malam.
"Terima kasih, Bu..." bisik Alya lirik, suaranya bergetar oleh rasa haru.