Sebuah Kereta Tua

Puteri Q.
Chapter #20

Bab 20: Bukit Bintang

Puncak Bukit Bintang membentang bagaikan pelataran kaca bening yang melayang anggun di atas batas dunia.

Namun, tidak seperti namanya, tidak ada gemerlap Bintang yang menggantung di langit malam atas sana. Langit di puncak ini justru begitu hening, dalam, dan dinaungi pendar jingga keemasan yang teduh. Sebagai gantinya, pendar keajaiban itu datang dari tanah yang dipijak Alya.

Di sepanjang bebatuan lereng, sela-sela lantai bening, hingga pada anak-anak tangga perbukitan yang menanjak, tumbuh beragam jenis bunga liar. Kelopak-kelopak bunga liar itu memancarkan kilauan pendar keemasan dan biru keperakan yang redup namun memikat—seolah-olah jutaan bintang dari angkasa telah turun dan mekar menjadi bunga-bunga hidup di sekeliling Alya.

Lantai batu bening di pelataran puncak memantulkan kilauan bunga-bunga bintang itu. Angin di puncak bukit bertiup sangat lembut, membawa aroma harum bunga liar dan keheningan yang begitu murni hingga Alya bisa mendengarkan detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang di balik dadanya.

Alya berdiri kaku di tengah pelataran bening itu, diselimuti oleh selendang cokelat milik Ibunya yang terasa hangat. Di genggamannya, buku catatan Nenek bergetar pelan, seolah-olah memberikan dorongan energi terakhir kepada Alya untuk melangkah tepat ke titik pusat puncak.

SZZZT!

Saat Alya menjejakkan kaki telanjangnya tepat di titik tengah pelataran kaca, kilauan bunga-bunga liar di sekeliling bebatuan mendadak berpendar makin terang. Pendar keemasan dari kelopak bunga itu merayap naik, membentuk sebuah pusaran pendar raksasa di udara yang memantulkan gambar visual dengan sangat jernih—sebuah cermin raksasa dari memori alam sadar Alya yang selama bertahun-tahun ia kencangkan gemboknya.

Alya mendongak. Matanya membelalak lebar, mengunci pandangannya pada bayangan cermin di atas sana.

Cermin pendar itu mula-mula memutar adegan yang paling Alya takuti dalam hidupnya: hari di mana ia membentak Ibunya melalui telepon dari kubikel kaku kantor startup-nya di Jakarta.

Alya melihat dirinya sendiri yang versi dua tahun lalu—wajahnya pucat, matanya merah berurat oleh rasa stres akibat deadline, dan jemarinya gemetar hebat memegang ponsel. Lagi-lagi Alya mendengar kembali suaranya sendiri yang melengking kasar dan penuh racun, memantul-mantul di udara:

"Ibu bisa enggak sih jangan tanyakan itu terus?! Alya ini kerja keras di sini demi Ibu juga! Ibu cuma bikin Alya tambah beban tahu enggak?!"

Alya seketika memejamkan matanya rapat-rapat. Ia meremas kain selendang Ibunya di dada, tak sanggup melihat kejahatan dirinya sendiri yang terpampang nyata.

"Maafkan aku, Bu... maaf..." isaknya pelan, bahunya terguncang oleh penyesalan yang membakar jiwa.

Namun, cermin memori di Bukit Bintang tidak berhenti di adegan itu.

Lihat selengkapnya