Cahaya keemasan yang meledak di puncak Bukit Bintang perlahan-lahan mereda, meluruh menjadi pendar-pendar perak yang mengapung tenang di udara. Suasana panggung tinggi itu kini terasa sangat hening, lapang, dan penuh kedamaian yang murni. Tidak ada lagi desakan rasa sesak, tidak ada lagi gema bentakan masa lalu, dan tidak ada lagi kecemasan akan hari esok.
Alya masih duduk bertelut di atas pelataran bening yang hangat.Napasnya kini berhembus teratur dan tenang. Air mata yang tersisa di pipinya mengering perlahan disapu hembusan angin sejuk.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, dada Alya terasa begitu ringan—seolah-olah gunung beban tebal yang selama ini menindih paru-parunya telah diangkat sepenuhnya.Di pangkuannya, buku catatan Nenek berbaring terbuka.Pendar puitis dari sampul kulit cokelat tua itu kini melunak, menyatu dengan warna kain selendang batik milik Ibunya yang masih melilit rapi di bahu Alya. Alya menunduk, menatap lembaran-lembaran kertas yang telah melewati seluruh proses katarsis perjalanannya.Namun, saat Alya berniat menutup buku itu, ia menyadari sebuah keanehan di sampul bagian dalam belakang. Ada satu lembaran kertas tebal berwarna krem kusam yang tadinya terlipat sangat rapat dan tersegel oleh lem lilin keemasan. Lem lilin berbentuk lingkaran itu kini telah retak dan pecah secara alami—dampaknya langsung dari cairnya gembok rasa malu Alya di Bukit Bintang.Lembaran itu terkulai terbuka, memperlihatkan tulisan tangan yang belum pernah Alya lihat sebelumnya. Bukan tinta hitam ketikan keyboard, bukan pula tulisan keemasan sihir Senja Express. Ini adalah tulisan tangan asli dengan tinta pulpen biru yang agak pudar—tulisan tangan Nenek semasa hidupnya. Alya merapatkan kain selendang Ibunya, lalu mendekatkan jarinya mengusap baris demi baris tulisan di Halaman Tersembunyi tersebut:“Untuk Alya, Cucuku tersayang. Jika kamu membaca halaman ini, artinya kamu sudah berdiri di tempat di mana tidak ada lagi topeng yang bisa kamu pakai. Kamu mungkin mengira dunia perantauan dan kejayaan di kota adalah satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa kamu berharga.Nenek menuliskan catatan ini bukan untuk mengajarimu cara menjadi orang sukses. Nenek menulisnya karena Nenek tahu, suatu hari nanti kamu akan terlalu lelah untuk berpura-pura kuat.Rumah kita—dapur dengan aroma rempah, teras dengan pohon ceri, dan doa-doa subuh Ibumu—tidak pernah dirancang untuk menilai seberapa kaya atau seberapa tingginya jabatanmu. Rumah dibuat untuk menerima potongan-potongan jiwamu yang terluka di luar sana.Jangan pernah takut pada rasa kecewa Ibumu, Cucuku. Cinta seorang Ibu yang tulus tidak memiliki ruang untuk dendam. Dosa terbesarmu bukanlah kegagalanmu di kota, melainkan membiarkan rasa malumu menghalangi tanganmu untuk mengetuk pintu rumah sendiri.Buku ini selesai di sini. Sekarang, kembalilah ke dunia nyatamu. Jemputlah kehangatan yang sudah terlalu lama menunggumu.”
Alya memejamkan matanya rapat-rapat saat membaca kalimat terakhir itu.Setiap patah kata tulisan Nenek meresap ke dalam sanubarinya seperti minyak hangat yang membalur luka. Ia menyadari bahwa seluruh perjalanan magis di atas Senja Express dan terdamparnya ia di Dunia Atsir adalah jembatan spiritual yang dirancang oleh kasih sayang Nenek dan doa Ibunya untuk menyembuhkan jiwa Alya yang berada dalam kepayahan.