Sebuah Kereta Tua

Puteri Q.
Chapter #22

Bab 22: Taman Bunga Lavender

Sensasi pendar cahaya keemasan dari Halaman Tersembunyi buku Nenek perlahan-lahan meredup, terurai menjadi gumpalan kabut keunguan yang lembut dan harum. Seketika Alya kembali berada di kursi nomor 4A.

​Aroma segar tanah basah yang menyatu dengan wewangian aromaterapi alami yang menenangkan seketika menusuk indra penciuman Alya. Suara derit roda besi kereta api Senja Express yang beradu dengan rel tua masih bergaung teratur di kejauhan, namun getarannya tak lagi terasa menghentak kaku.

​TAK-TUK... TAK-TUK... TAK-TUK...

​Laju kereta melambat secara perlahan, seolah-olah memberikan kesempatan bagi Alya untuk mencerna transisi kesadarannya.

​Ketika Alya perlahan-lahan membuka kelopak matanya, pemandangan di luar jendela gerbong tak lagi memperlihatkan pekatnya Hutan Purba atau dinginnya perbukitan batu. Di luar sana, di bawah pendar langit sore yang berwarna jingga keemasan, terhampar luas sebuah Taman Bunga Lavender yang membentang tanpa batas.

​Jutaan tangkai bunga lavender ungu bermekaran anggun, bergoyang serentak mengikuti alunan hembusan angin sore. Pendar cahaya keemasan dari sang surya membiaskan kilauan tipis di setiap ujung kelopak ungunya, menciptakan pemandangan surealis yang teramat sangat indah dan damai.

​Alya menyandarkan bahunya pada sandaran kursi gerbong, menatap hamparan padang ungu itu dengan mata yang berembun hangat.

Lihat selengkapnya