Sebuah Kereta Tua

Puteri Q.
Chapter #23

Bab 23: Terowongan Kedua

Bab 23 : Terowongan Kedua

​Pendar cahaya keemasan dan wangi aromaterapi dari Taman Bunga Lavender perlahan-lahan meredup, menyusut menjadi gumpalan kabut tipis yang hangat.

​Getaran roda besi yang beradu dengan rel kereta api makin nyata terasa di bawah pijakan kaki Alya. Suara derit mesin diesel tua menggema teratur, membawa irama yang amat sangat familiar di dalam ingatan motoriknya:

​TAK-TUK... TAK-TUK... TAK-TUK...

​Laju Senja Express meluncur kian cepat, membelah garis batas akhir Dunia Atsir.

​Namun, sebelum Alya benar-benar membuka matanya secara utuh untuk menyambut realita, pendengarannya seketika dihantam oleh lengkingan klakson kereta api yang membahana panjang dan nyaring:

​HOOOOOONGGG!

​Suara lengkingan itu memantul kencang, bergema memekakkan telinga di dalam lorong sempit berdinding batu kaku. Dalam hitungan detik, seluruh pendar warna ungu dan keemasan di luar jendela musnah total. Kegelapan yang pekat, lebat, dan gulita seketika menelan seluruh ruangan gerbong.

​Kereta api telah resmi menerobos masuk ke dalam Terowongan Kedua.

Lihat selengkapnya