SREKKK... TAK-TUK... TAK-TUK... TAK... TUK...
Kereta api kelas ekonomi itu perlahan-lahan melambatkan lajunya secara signifikan. Suara decitan kampas rem besi yang menyenggol rel tua bergaung nyaring dan membumi di luar jendela kusam, bersahut-sahutan dengan nada gemeresik pengeras suara gerbong yang terdengar agak serak dan berderak tipis:
"Sesaat lagi kereta api akan tiba di Stasiun Akhir. Bagi para penumpang yang akan turun di stasiun ini, dimohon untuk memeriksa kembali seluruh barang bawaan Anda..."
Alya mengusap sisa air mata hangat di pipinya dengan ujung lengan mantel cokelat yang melilit tubuhnya.
Dengan jemari yang mantap dan tenang, ia mengambil tiket Edmondson tua berbolong rapi dari pangkuannya. Alya menyelipkan tiket karton tebal itu ke dalam lipatan paling dalam di halaman buku catatan Nenek—menjadikannya sebagai jimat penanda bahwa penyucian jiwanya menembus Dunia Atsir adalah nyata. Ia lalu menyimpan buku harian berkulit cokelat itu dengan sangat aman di dalam tas kainnya, merapatkan ritsletingnya dengan helaan napas lega.
Alya menatap lurus ke luar jendela kaca.
Langit sore desanya dibalut warna jingga keemasan yang sangat teduh, hangat, dan lapang. Pemandangan stasiun kecil beratap genteng merah yang sedikit berlumut di kampung halamannya menyapa pandangan melalui celah jendela—sebuah stasiun sederhana yang seolah tak pernah berubah sejak ia masih berseragam sekolah belasan tahun lalu. Bau uap tanah basah, asap pembakaran kayu dari dapur warga, serta aroma bunga kenanga menyergap masuk melalui celah kaca yang sedikit terbuka.
BZZZT... BZZZT... BZZZT...
Ponsel di dalam saku mantel cokelat Alya mendadak bergetar kuat.
Alya menarik ponsel pintarnya keluar. Di atas layar kaca yang retak tipis di sudutnya itu, tertera nama kontak yang selama dua tahun terakhir selalu membuat dadanya sesak oleh rasa takut, kecemasan, dan malu yang mengurung jiwanya:
Ibu Calling...